Pandangan Berkelas Dedi Mulyadi soal Karakter Pengusaha, Sebut Lebih Suka Sederhana: Tidak kayak di Sinetron
- Tangkapan layar YouTube Lembur Pakuan Channel
Bandung, tvOnenews.com - Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi membicarakan karakter pengusaha. Menurutnya, hal ini sangat penting agar warga Jawa Barat memiliki pola pikir mencapai kesuksesan.
Dedi Mulyadi berbagi pandangan tentang pengusaha di forum Industri Jawa Barat tema Industri dalam Kerangka Pengembangan Industri Inklusif, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan di Bale Gede Pakuan, Bandung, Kamis (23/4/2026).
Dalam pidatonya, Dedi Mulyadi mulanya menjelaskan bahwa karakter pengusaha dan pedagang memiliki perbedaan. Ia mengatakan bahwa, karakter pengusaha dikenal sebagai seorang ideolog.
"Dia punya ide, punya cita-cita, dan punya tujuan," ujar Dedi Mulyadi dilansir dari Lembur Pakuan Channel, Sabtu (25/4/2026).
Apa Saja Karakter Pengusaha Versi Dedi Mulyadi?
- YouTube LEMBUR PAKUAN CHANNEL
KDM sapaan akrabnya membandingkan karakter pengusaha dengan politisi. Menurutnya, ada beberapa kesamaan dan perbedaan dari kedua peran ini.
Ia merincikan jenis politisi terbagi menjadi dua. Pertama, ada politisi ideologi. Kedua, terdapat politisi pragmatis.
Mantan Bupati Purwakarta ini mulanya menjelaskan politisi ideologis. Ia mengatakan, rata-rata mereka mempunyai cita-cita, tujuan, dan target terhadap masa depannya.
"Tapi kalau politik pragmatis itu kayak pedagang, sifatnya transaksional. Yang penting menjabat dapat honor, ketika menjabat bingung mau ngapain dia enggak ngerti," terangnya.
Gubernur Jabar itu menilai ada kesamaan dari pengusaha dan politisi menggunakan pola pikir ideolog. Keduanya sama-sama dikenal sebagai sosok pemikir.
Dalam hal ini, Dedi Mulyadi melihat fenomena dari para pengusaha sukses. Ia berpendapat kebanyakan mereka tidak pernah mempersoalkan terhadap penampilannya.
Ia menyebut rata-rata orang kaya lahir dari pengusaha cenderung lebih sederhana. Ia mencontohkan, mereka yang memiliki harta kekayaan berlimpah dari hasil dunia industri cuek dengan kondisinya.
"Banyak pengusaha kaya raya dengan industri di mana-mana tapi badannya kurus, kacamatanya tebal, bajunya lusuh, pakai HP-nya yang paling murah, rumahnya sederhana seperti itu," tuturnya.
KDM Soroti Karakter Pengusaha dalam Sinetron
- Ist
KDM menyayangkan perspektif tentang karakter pengusaha selama ini cenderung dikenal sosok yang hidup glamor. Orang kaya yang sukses dari hasil usaha sulit menjalani hidup secara sederhana.
Ia justru menepis pandangan tersebut. Menurutnya, perspektif seperti ini harus diubah dari sekarang.
Dedi Mulyadi mengambil contoh perspektif tentang pengusaha dalam dunia sinetron. Dalam alur ceritanya menggambarkan pengusaha maupun orang kaya mempunyai gaya hidup yang mahal.
"10 tahun, 20 tahun ke belakang yang disebut dengan sinetron. Dalam sinetron, itu selalu dibuat cerita orang kaya, pengusaha menenteng tasnya paling mahal, mobilnya paling mahal, rumahnya paling bagus, setiap hari yang diomongin selingkuh," terangnya.
Mantan anggota DPR RI ini justru mempertanyakan gambaran pengusaha sulit terlepas dari gaya hidup glamor. Menurut pandangannya, orang sukses selalu memikirkan target dan masa depan.
"Nggak ada dalam dunia pengusaha begitu nggak ada. Pengusaha itu jangankan ngomongin selingkuh, setiap hari dia berpikir apa yang menjadi target hidupnya," tegasnya.
Ia meyakini bagi orang yang menerapkan pengurasaha ideologis. Hal ini akan membawa hasil untuk puncak nasibnya yakni mendapatkan kebahagiaan.
"Kebahagiaan pengusaha itu di mana? Mana kala produksinya sampai target, mana kala ide menciptakan satu barang yang kemudian barang itu bisa diterima di pasar," jelasnya.
Selain itu, kata KDM, kebahagiaan pengusaha tidak sekadar mengacu pada keberhasilan bisnis atau usahanya. Ia menyebut pengusaha yang sukses dapat melihat pekerja sejahtera.
"Ketika melihat para pekerjanya bisa bekerja dengan baik dan bisa memberikan kesejahteraan yang tinggi dari para pekerjanya. Itulah pengusaha," ucapnya.
Kenapa Membahas Karakter Pengusaha Sangat Penting?
KDM melihat fenomena di Indonesia. Dalam pandangannya, ia berpendapat karakter pengusaha di Indonesia sangat minim.
"Yang banyak di Indonesia itu, pedagang. Kalau kamu pedagang, harga barangnya berapa, kamu mau beli berapa, ke sini jual. Nah, kalau pedagang itu kadang-kadang nggak peduli dengan apapun, nggak peduli dengan bangunannya yang tidak pernah diurus, nggak peduli dengan toilet di tempat dagangnya yang kotor, nggak peduli apakah bangunannya melanggar sepadan atau tidak, yang penting untung. Itu pedagang," bebernya.
Sementara, menurut dia, pengusaha tidak pernah mempersoalkan tentang keuntungan. Maka dari itu, ia mengajak masyarakat Jabar mengubah pola pikir untuk menjadi pengusaha agar mencapai kebahagiaan di masa depan.
(hap)
Load more