Jadi Gubernur Maluku Utara Terkaya, Sherly Tjoanda Sudah Tajir Sejak Lama, Segini Harta Kekayaannya
- YouTube/garudatv
tvOnenews.com - Nama Sherly Tjoanda menjadi sorotan publik setelah tercatat sebagai salah satu kepala daerah dengan kekayaan terbesar di Indonesia.
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) awal masa jabatan yang disampaikan ke Komisi Pemberantasan Korupsi, total kekayaan Sherly hampir menyentuh angka Rp1 triliun.
Besarnya nilai aset tersebut bukan muncul secara instan, melainkan hasil perjalanan panjang di dunia bisnis sebelum dirinya terjun ke politik.
Sherly diketahui memiliki portofolio usaha yang luas dan tersebar di berbagai sektor strategis seperti perhotelan, pertambangan, logistik, hingga perikanan.
Latar belakang sebagai pengusaha inilah yang kemudian menjadi fondasi kuat dalam perjalanan kariernya hingga menjabat sebagai Gubernur Maluku Utara periode 2025–2030.
Sherly Tjoanda lahir di Ambon pada 8 Agustus 1982. Ia merupakan putri dari pasangan Paulus Tjoanda dan Maria Margaretha Liem.
Pendidikan dasarnya ditempuh di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Ambon, Surabaya, dan Denpasar.
Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Kristen Petra dengan jurusan International Business Management.
- Instagram/@s_tjo
Tidak berhenti di situ, Sherly juga menyelesaikan program double degree di Inholland University of Applied Sciences dan lulus pada tahun 2004.
Bekal akademik di bidang bisnis dan manajemen ini menjadi landasan penting bagi kesuksesannya dalam mengembangkan berbagai usaha.
Dalam kehidupan pribadi, Sherly merupakan istri dari mendiang Benny Laos. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai tiga orang anak, yaitu Bennet Edbert Laos, Beneisha Edelyn Laos, dan Benedictus Edrick Laos.
Meski berasal dari keluarga publik figur, ketiga anaknya jarang terekspos ke ranah politik maupun bisnis.
Selain dikenal sebagai pebisnis sukses, Sherly juga aktif dalam kegiatan sosial. Ia pernah memimpin Yayasan Bela Peduli, organisasi yang bergerak di bidang bantuan sosial, pembangunan rumah ibadah, serta dukungan bagi korban bencana.
Keterlibatannya juga meluas ke berbagai organisasi seperti Perwosi, Forikan, Bunda PAUD, hingga HKTI.
Perjalanan politik Sherly Tjoanda tidak bisa dilepaskan dari sosok sang suami. Benny Laos sebelumnya merupakan kandidat kuat dalam kontestasi Pilkada Maluku Utara 2024.
Namun, takdir berkata lain. Ia meninggal dunia akibat kecelakaan speedboat di Kabupaten Pulau Taliabu pada 12 Oktober 2024.
Kepergian Benny meninggalkan duka mendalam, sekaligus menjadi titik balik perjalanan politik Sherly.
Setelah melalui diskusi panjang dengan partai-partai pendukung, Sherly akhirnya melanjutkan perjuangan sang suami.
Ia maju dalam Pilkada Maluku Utara 2024 berpasangan dengan Sarbin Sehe.
Didukung delapan partai koalisi, pasangan ini berhasil meraih kemenangan dengan perolehan suara terbanyak, yakni 359.416 suara.
Kemenangan tersebut mengantarkan Sherly Tjoanda sebagai gubernur perempuan pertama di Maluku Utara.
Penetapan resmi dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum, sekaligus menandai sejarah baru dalam politik daerah tersebut.
Di balik kesuksesan politiknya, kekayaan Sherly juga menjadi perhatian.
Berdasarkan laporan LHKPN pada April 2025, total kekayaannya mencapai Rp972,11 miliar setelah dikurangi utang.
Nilai ini mengalami peningkatan signifikan dibandingkan laporan sebelumnya.
Rincian aset tersebut meliputi tanah dan bangunan senilai Rp201 miliar lebih, alat transportasi dan mesin sekitar Rp7 miliar, harta bergerak lainnya Rp37 miliar, surat berharga Rp262 miliar, serta kas dan setara kas mencapai Rp236 miliar.
Selain itu, terdapat kategori harta lainnya dengan nilai fantastis yang turut menopang total kekayaannya.
Sebelum menjabat sebagai gubernur, Sherly memiliki berbagai bisnis besar seperti PT Bela Group, Bela Hotel Ternate, hingga perusahaan tambang nikel dan emas.
Ia juga menjalankan bisnis pelayaran melalui Bela Shipping serta industri pengolahan ikan tuna berbasis ekspor.
Meski demikian, sejak menjabat sebagai pejabat publik, Sherly mengaku telah menarik diri dari pengelolaan aktif sejumlah usahanya.
Langkah ini diambil untuk menghindari potensi konflik kepentingan dalam menjalankan tugas sebagai kepala daerah.
Dengan latar belakang bisnis yang kuat, pendidikan mumpuni, serta pengalaman sosial dan politik yang terus berkembang, Sherly Tjoanda menjadi salah satu figur paling berpengaruh di Maluku Utara saat ini. (adk)
Load more