4 Tahun Lalu Teddy Ungkap Kesulitan Ekonomi Usai Ditinggal Lina hingga Tinggal di Gubuk Bambu
- YouTube Cumicumi
tvOnenews.com - Teddy Pardiyana pernah mengungkap kejujuran pahit setelah ditinggal Lina Jubaedah, saat ia harus menghadapi sulitnya ekonomi hingga tinggal di gubuk bambu bersama putrinya, Bintang.
Teddy Pardiyana, suami almarhumah Lina Jubaedah, kembali menjadi sorotan publik pada awal 2026 terkait konflik harta warisan yang belum juga usai.
Nama Teddy Pardiyana terus dibicarakan seiring permohonan penetapan ahli waris yang ia ajukan ke Pengadilan Agama Bandung pada Desember 2025. Langkah tersebut dilakukan demi mendapatkan legalitas hak waris bagi dirinya dan putrinya, Bintang.
Perseteruan dengan keluarga Sule pun semakin memanas. Pihak Sule dan Rizky Febian mempertanyakan keberadaan aset senilai Rp5 miliar yang diduga dikelola oleh Lina dan Teddy, namun kini tidak jelas rimbanya. Sule menegaskan bahwa hak waris untuk Bintang akan diberikan setelah sang anak berusia 17 tahun.
Selain itu, Teddy sebelumnya sempat divonis 1 tahun 3 bulan penjara atas kasus penggelapan aset mobil milik Rizky Febian.
Ia telah bebas bersyarat sejak Mei 2024 dan diwajibkan lapor selama dua tahun. Bahkan, di awal Februari 2026, muncul kabar viral mengenai insiden penggerebekan warga terhadap Teddy, meski penyebab pastinya masih menjadi perbincangan di media sosial.
Namun, jauh sebelum polemik warisan kembali ramai, empat tahun lalu Teddy sempat muncul dalam sebuah wawancara bersama awak media.
Video perbincangan itu diunggah kanal YouTube Insertlive. Dalam kesempatan tersebut, Teddy secara terbuka mengungkap kondisi hidupnya yang sulit setelah ditinggal Lina Jubaedah.
Ia mengaku kesulitan ekonomi, terutama saat masa pandemi Covid-19. Teddy bahkan sempat memiliki rencana bekerja ke Jepang melalui jalur resmi Depnaker.
Namun, rencana itu terhambat karena visa ditahan akibat pembatasan perjalanan selama pandemi.
Teddy juga sempat mencoba bertahan dengan berwirausaha kecil-kecilan, termasuk berternak ikan lele.
Ia menceritakan usahanya tidak berjalan lancar karena kondisi ekonomi yang lesu saat itu.
“Dulu sempat ternak ikan cuman beli dari bandarnya. Misalkan satu kilo lele Rp25.000, saat Covid tukang lele, pecel lele itu pada tutup restoran pada tutup akhirnya bandar menerima lagi bisa turun sampai Rp20.000 hingga Rp18.000 satu kilonya jadi enggak dilanjut juga waktu itu,” ujar Teddy.
Load more