Akhirnya! Seniman Tari Punya ATRAKSI: Wadah Resmi Seniman Tari dan Koreografer Indonesia
- Istockphoto
tvOnenews.com - Di balik gemerlap panggung pertunjukan, seniman tari Indonesia selama ini masih menghadapi tantangan kesejahteraan yang nyata, terutama terkait jaminan kesehatan dan perlindungan kerja.
Menurut data Kementerian Kesehatan tahun 2024, lebih dari 60% pekerja seni di Indonesia belum memiliki akses terhadap fasilitas kesehatan memadai.
Sementara itu, data dari Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa pekerja informal, termasuk seniman, masih rentan terhadap kecelakaan kerja dan tidak terproteksi secara hukum maupun sosial.
Hal ini memperlihatkan urgensi adanya sistem yang mampu melindungi hak-hak dasar para pekerja seni pertunjukan, termasuk penari dan koreografer.
Di tengah tuntutan fisik yang tinggi dan risiko cedera yang kerap mengintai, profesi penari belum sepenuhnya mendapat pengakuan yang layak secara struktural.
Padahal, peran mereka dalam melestarikan budaya dan memperkaya ekosistem industri kreatif sangat krusial. Kesejahteraan dan perlindungan sosial bagi para seniman tari tak lagi bisa dianggap sebagai isu pinggiran.
Mereka membutuhkan wadah profesional yang mampu memperjuangkan hak-hak dasar seperti jaminan kesehatan, perlindungan ketenagakerjaan, hingga akses pelatihan berkelanjutan di era kompetitif saat ini.
Menjawab kebutuhan itu, ATRAKSI (Asosiasi Tari dan Koreografer Seluruh Indonesia) resmi diluncurkan pada Selasa (15/7) sebagai organisasi profesional pertama yang mewadahi seniman tari dan koreografer dari berbagai penjuru Nusantara.
Peresmian ini menandai tonggak sejarah baru dalam perjuangan panjang para pegiat seni pertunjukan, setelah hampir 20 tahun hanya menjadi wacana.
Didukung lintas kementerian seperti Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, hingga BPJS Ketenagakerjaan, ATRAKSI hadir sebagai jembatan antara seni, industri, dan kebijakan negara.
Denny Malik, koreografer senior sekaligus penggagas utama ATRAKSI, mengungkapkan rasa syukurnya atas terwujudnya asosiasi ini.
“Akhirnya, setelah hampir 20 tahun menanti, sebuah wadah yang mewakili para penari dan koreografer Indonesia resmi terbentuk. Kami butuh pemimpin yang mengerti dunia pertunjukan. ATRAKSI akan menjadi jalan untuk membangun sistem dan manajemen yang profesional agar karya tari Indonesia bisa mendunia,” ujarnya.
Ketua Umum ATRAKSI, Reza Muhammad, menyebut kehadiran asosiasi ini sebagai hasil dari perjuangan panjang para seniman yang haus akan pengakuan dan perlindungan.
“Kami ingin membawa semangat lintas generasi dan lintas genre agar seluruh seniman tari dapat maju bersama, tanpa sekat,” ungkap Reza.
Ia juga menegaskan bahwa era Presiden Prabowo memberikan dukungan nyata terhadap industri kreatif, termasuk seni tari.
Sementara itu, Ari Tulang, koreografer lintas disiplin, menekankan pentingnya ATRAKSI sebagai ruang komunikasi dan solidaritas antar-seniman. “Adanya dukungan dari berbagai kementerian dan BPJS Ketenagakerjaan juga membuat kami merasa lebih dihargai dan dilindungi secara profesional,” katanya.

- Ist
Dr. Rosmala Sari Dewi, M.Sn., selaku Wakil Ketua Umum ATRAKSI, menyatakan komitmen asosiasi untuk mengembangkan potensi dan daya saing para koreografer dan penari Indonesia.
Ia meyakini bahwa ATRAKSI bisa menjadi sarana untuk mempromosikan kekayaan budaya bangsa ke tingkat global, sembari memperjuangkan kesejahteraan para pelakunya.
Dengan semangat Lintas Generasi, Lintas Genre, ATRAKSI hadir bukan hanya sebagai simbol profesionalisme, tetapi juga sebagai tonggak awal perjuangan seniman tari menuju sistem sosial yang adil dan berkelanjutan. (udn)
Load more