Ada di Ujung Garut, Leuweung Sancang Hutan Sakral dan Keramat Diwarnai Keindahan Bentangan Alam yang Memukau
- Tangkapan layar YouTube Adrasa ID
Garut, tvOnenews.com - Kabupaten Garut dikenal sebagai kawasan didominasi dengan hutan. Garut merupakan salah satu wilayah di dataran tinggi seluas sekitar 310.705 hektare.
Merujuk dari jurnal Analisis SWOT Pengembangan Agroforestri Kabupaten Garut karya Tintin Febrianti, Muhammad Nu'man Adinasa, dan Asep Permadi Gumelar dari Universitas Garut, dari luas wilayah 310.705,29 ha, sekitar 73.657,20 ha atau 23,71 persen wilayahnya merupakan kawasan hutan.
Menariknya, ada satu hutan terletak di ujung Kabupaten Garut, memiliki kisah dan mitos yang mistis. Hutan tersebut sebagai kawasan cagar alam paling sakral dan keramat, apalagi kalau bukan Leuweung Sancang.
Konon katanya, Leuweung Sancang memiliki sejarah dan mitos tinggi. Tak ayal, kawasan hutan ini dijuluki hutan paling angker, mistis, dan keramat di Indonesia.
Mengenal Hutan Leuweung Sancang di Kabupaten Garut

- Tangkapan layar YouTube Adrasa ID
Leuweung Sancang merupakan kawasan cagar alam di Kabupaten Garut. Letak hutan Sancang berada di pesisir selatan Jawa Barat dan berbatasan langsung dengan Samudra Hindia.
Lokasi kawasan Cagar Alam Leuweung Sancang terletak di Desa Sancang, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Berdasarkan laporan resmi dari Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, kawasan hutan Sancang memiliki luas lebih dari 2.157 hektare. Wilayahnya menjadi area konservasi sejak 1959 didasari dengan SK Menteri Pertanian Nomor 116/Um/59.
Dilansir dari kanal YouTube konten kreator Stefano Sanjaya, Kamis (19/2/2026), perjalanan menuju kawasan Leuweung Sancang cukup jauh. Sebab, lokasinya sangat jauh dari hiruk pikuk perkotaan.
Jika ingin menuju kawasan hutan konservasi ini dari Garut Kota, setidaknya membutuhkan jarak perjalanan sejauh 111 kilometer. Apabila menggunakan motor, bisa menghabiskan waktu selama 2,5 jam.
Apabila sudah berada di Garut Selatan, patokan jalan menuju Leuweung Sancang bisa dari Pasar Pameungpeuk. Jika ingin ke Sancang, bisa ambil jalur kiri, sementara jalur kanan menuju Pantai Santolo.
Setelah tiba di Tugu Maung Sancang Lodaya, bisa ambil jalur kanan untuk memasuki kawasan hutan Leuweung Sancang. Nanti di sana, banyak pemandu atau juru kunci menjadi petunjuk jalan apabila ingin berkunjung ke hutan Sancang.
Hutan Sancang memiliki keindahan yang memukau. Ada tiga jenis ekosistem tersebar di seluruh area Cagar Alam Leuweung Sancang, antara lain hutan daratan rendah, hutan mangrove (bakau), serta hutan pantai.
Hutan tropis di Leuweung Sancang menyajikan pepohonan tinggi. Keunggulan lain dari kawasan cagar alam ini terletak pada sungai. Setiap aliran air jernih yang berderu dapat menenangkan hati.
Kawasan Sancang juga menjadi tempat fauna langka. Ada banyak owa jawa, rusa, hingga macan tutul menggantungkan hidupnya di Leuweung Sancang.
Hutan Sancang memiliki jenis flora unik. Rafflesia Padma, salah satu bunga langka asli Indonesia hingga pohon Kaboa tumbuh subur di dalam kawasan konservasi tersebut.
Saat menyusuri hutan, akan menemukan makom keramat Sancang bernama "Darussalam", anak pertama dari Nini Kilung. Makom itu sudah ada sejak tanggal 15 April 1435 H.
Setelah menembus hutan, pasti akan melihat pemandangan laut selatan. Pantai Sancang memiliki pasir putih yang langsung menghadap laut lepas.
Pantai Sancang menjadi tempat para nelayan menggantung kehidupan. Roda ekonomi berputar bagi warga yang tinggal di ujung hutan tersebut.
Di balik keindahan alamnya yang bikin takjub, perjalanan mistis selalu menyelimuti Leuweung Sancang terletak pada kisah Prabu Siliwangi. Konon katanya, hutan Sancang dipercaya sebagai tempat menghilangnya Prabu Siliwangi.
Juru kunci utama Sancang, Bapak Unang kebetulan sering mengantar para tamu yang ingin ziarah. Namun, ia sering ditanya terkait kisah mitos Sancang sebagai tempat Prabu Siliwangi hilang.
"Eyang Prabu hilangnya di sini terakhir. Itu katanya orang tua kalau beliau hilangnya di Sancang. Sementara, Sancang 2.00 hektare lebih," ujar Bapak Unang.
Beberapa alasan kuat mengenai Prabu Siliwangi menghilang di hutan Sancang, saat itu beliau dikejar oleh putranya, Prabu Kian Santang. Kala itu, ia diajak memeluk agama Islam.
Prabu Siliwangi sendiri dikenal berpegang teguh pada ajaran dan kepercayaan dari leluhurnya. Karena adanya ajakan tersebut, Prabu Siliwangi jelas menolak ajakan memeluk agama Islam.
Karena tidak ingin ada pertumpahan darah dan perbedaan keyakinan, Prabu Siliwangi pilih melarikan diri ke kawasan Sancang.
Prabu Kian Santang tidak menyerah. Ia terus melakukan pengejaran kepada Prabu Siliwangi.
Konon katanya Sancang dijuluki sebagai tempat pelarian. Di kawasan ini juga menjadi tempat berdiri Kerajaan Sancang yang dipimpin oleh Maharaja Dilewa.
Menurut Bapak Unang, pendapat bersifat legenda itu masih menjadi perdebatan. Pasalnya, tidak ada yang mengetahui penyebab Prabu Siliwangi menghilang di Sancang.
Sementara, salah satu warga sekitar, Koko Otong alias Koko Hendrik turut memberikan pendapat terkait pengejaran Prabu Siliwangi oleh Prabu Kian Santang.
Ia menegaskan, pelarian Prabu Siliwangi ke Sancang bukan faktor agama. Raja Padjadjaran itu tidak ingin adanya pertumpahan darah dalam keluarga besar yang ingin merebut kekuasaan Padjadjaran.
"Yang benar itu dia tidak mau perang saudara. Waktu dia menghilang dari kerajaan, dicari sama anaknya Prabu Kiang Santang yang baru pulang dari Makkah. Itu sebenarnya bukan ngejar, dia cari bapaknya pas pulang kerajaan udah nggak ada kerajaannya," bebernya.
Menariknya, terdapat kisah Raja Padjadjaran itu menjelma sebagai macan putih yang kini dikenal dengan istilah maung Sancang. Sontak, hutan lindung tersebut dianggap mempunyai energi mistis begitu kuat.
Bapak Unang, juru kunci utama Sancang tidak ingin berspekulasi lebih jauh. Sejauh ini tidak pernah melihat macan, namun ia selalu menemukan jejaknya secara detail.
"Banyak (jejak macan). Macannya nggak ada," imbuhnya.
Hanya saja beberapa saksi pernah membuat pernyataan bahwa mereka mendengar auman suara seperti harimau.
Terkait mitos jelmaan macan diduga sosok Prabu Siliwangi. Koko Otong memberikan pendapat yang sama, selama ini belum melihat macan.
"Jejaknya ada tapi macannya tidak ada karena itu macan gaib," tegas Koko Entong.
Kisah mistis Sancang lainnya, konon katanya ada sebuah pohon bertumbuh besar bernama Kaboa. Lagi-lagi berkaitan dengan kisah Prabu Siliwangi.
Dalam jurnal berjudul Legenda-legenda Keramat di Kawasan Sancang Kabupaten Garut pada 2013, Rosyadi mengatakan Prabu Siliwangi sempat menorehkan beberapa kata. Hal itu terjadi pada kulit sebatang pohon kayu menggunakan pisau pangot.
Bunyi kalimat dari beberapa kata mengarah pada pohon Kaboa, yakni "Kaboa panggih, kaboa moal, tapak lacak kaula ku anak incu".
Ciri khas dari pohon Kaboa hanya tumbuh di sekitar pusara Prabu Siliwangi. Pohon tersebut menjadi salah satu mitos kental di hutan Sancang.
Selain jelmaan macan putih dan pohon Kaboa, masyarakat sekitar kerap kali mendapat cerita mistis berupa kemunculan sosok makhluk gaib dengan wujud seorang wanita.
Wanita tersebut diduga selalu muncul saat sedang mencari kayu bakar. Konon katanya, sosok wanita pembawa kayu bakar itu dipercaya menyebabkan orang yang tidak mengenal medan kawasan konservasi ini tersesat.
Hingga saat ini, kepercayaan kemunculan wanita pembawa kayu bakar masih sekadar mitos. Belum ada yang memastikan terkait kebenarannya.
(hap)
Load more