Ada di Condet, Gang Goa Monyet Jejak Kampung Terakhir Jakarta yang Menjaga Suasana Jadul di Tengah Urbanisasi
- Tangkapan layar YouTube Stefano Sanjaya
Jakarta, tvOnenews.com - Jakarta dikenal sebagai Ibu Kota maupun Kota Metropolitan. Banyak gedung pencakar langit terus berkembang hingga kepadatan penduduk yang tinggi.
Di tengah hiruk-pikuk dan pesatnya urbanisasi di Jakarta, ternyata masih ada jejak kampung dengan suasana pedesaan era 90-an. Kawasannya menyimpan sejarah panjang bagi masyarakat setempat.
Lokasi kampung serasa pedesaan zaman dahulu terletak di Condet, Jakarta Timur. Apalagi kalau bukan Gang Goa Monyet yang sering dijuluki "Kampung Terakhir Jakarta".
Mengenal Gang Goa Monyet 'Kampung Terakhir Jakarta' di Condet

- Tangkapan layar YouTube RB Channel
Gang Goa Monyet merupakan salah satu kawasan menawarkan suasana pedesaan berada di sudut Condet. Adapun lokasi Condet terletak di Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.
Sementara letak Goa Monyet berada di Kelurahan Balekambang, persis di tepi Kali Ciliwung. Jika ingin mengunjungi kampung ini bisa melewati Jalan Raya Condet.
Merujuk dari rekomendasi kanal YouTube konten kreator, Stefano Sanjaya, di pertengahan Jalan Raya Condet, akan bertemu pertigaan memasuki Jalan Kayu Manis. Patokannya terdapat plang arah masuk Pondok Pesantren Tapak Sunan.
Di jalan inilah, akan menemukan suasana yang semakin mengarah pada pedesaan. Kemudian, lurus terus sampai memasuki kawasan RW 03.
Patokan untuk menuju Gang Goa Monyet terletak di Barber Shop Asgar. Di sebelah kiri jalan di kawasan RW 03 tersebut, ada gang kecil menembus kawasan pedesaan seperti era 90-an.
Suasana pedesaan mulai tampak. Pohon-pohon tinggi yang rindang mengiringi jalan menuju Goa Monyet yang semakin berkelok-kelok dan menanjak layaknya menyusuri hutan.
Di Gang Goa Monyet, hanya sedikit rumah masih aktif dihuni. Setidaknya sekitar lima anggota keluarga yang bertahan di tengah diapit gedung-gedung pencakar langit.
Salah satu warga setempat, Septi menjelaskan alasan kawasan tersebut dinamai Goa Monyet. Dulunya menjadi habitat berbagai jenis monyet liat meramaikan suasana di kampung itu.
"(dulu) ada banyak monyetnya," kata Septi dikutip, Minggu (1/2/2026).
Penamaan Gang Goa Monyet lebih menggunakan nama warisan lokal. Apalagi dulunya memang ada sebuah Goa Monyet, walaupun saat ini masih sulit menemukan lokasinya akibat peningkatan urbanisasi, gedung pencakar langit, hingga erosi Ciliwung.
Saat menyusuri kawasan tersebut, ternyata masih ada pelestarian kebun salak. Hal ini berkaitan dengan catatan sejarah Condet di zaman dulu.
Ribuan kebun salak Condet memenuhi sepanjang pinggiran Kali Ciliwung. Alhasil, buah salak dari kebun ini menjadi ciri khas asli dari Condet yang paling populer.
Selain kebun salak, terdapat kebun duku dan kecapi. Agar tetap lestari, Pemda sejak era Gubernur DKI Jakarta periode 2007-2012, Fauzi Wibowo, memegang kendali urusan pengelolaan sehingga dijadikan Cagar Buah Condet.
Sementara, luas area kebun buah Condet yang menjadi Cagar Buah Condet, kini hanya bertahan sekitar 3,3 hingga 3,7 hektare.
Di balik luas 3 hektare, sering kali muncul pertanyaan, "Kenapa area kebun buah tidak selebar dulu?". Alih-alih bertahan, kebun buah Condet perlahan mulai punah sejak akhir abad ke-20.
Selain menjadi pemukiman padat, faktor luapan air dan erosi Ciliwung semakin menggerus sehingga hanya tinggal nama dan bertahan beberapa saja.
Warga setempat lainnya, Gimin Santoso menjelaskan, faktor banjir dari luapan Ciliwung menghantui pemukiman warga di Goa Monyet.
"Sering banjir. Paling parah banjir 5 tahunan (masuk ke atas sampai pemukiman warga)," terangnya.
Di era Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, padahal kawasan Condet berstatus sebagai cagar budaya Betawi. Apalagi untuk urusan kebun buah Condet yang menjadi identitasnya.
Tetapi, cagar budaya Betawi di Condet hanya bertahan sampai tahun 2004. Lantaran pemerintah mengalihkan ke Setu Babakan.
Jika mengacu pada data lahan yang digunakan, sekitar 71,31 persen di kawasan Condet telah berbentuk pemukiman. Sisanya sekitar 9,13 persen masih menjadi area lahan pertanian.
Kenapa Dijuluki Kampung Terakhir Jakarta?
Isu penjulukan Kampung Terakhir Jakarta berangkat dari berbagai nilai berita yang merebak ke ruang publik. Hal ini memantik para peneliti tertarik mengunjungi kawasan tersebut.
Hanya saja isu "kampung terakhir" melekat pada Condet. Bagi warga dan pengamat lokal, istilah ini mengacu pada kondisi Condet yang dulunya terpilih salah satu sedikitnya permukiman mempertahankan karakter tradisional Betawi di tengah pesatnya urbanisasi Jakarta.
Namun begitu, status Kampung Terakhir Jakarta hingga saat ini tidak pernah ada dokumen penetapan resminya. Di balik julukan itu, ada upaya mempertahankan nilai historis, budaya, dan warisan Betawi yang kian tergerus urbanisasi menjadikan Jakarta sebagai Kota Metropolitan terpadat di dunia.
(hap)
Load more