Rupiah Menguat ke Rp17.229 per Dolar AS, APBN Dinilai Tangguh Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah
- ANTARA
Langkah efisiensi anggaran dan pengalihan belanja menjadi strategi utama untuk memastikan stabilitas fiskal tetap terjaga di tengah tekanan global.
Kondisi ini turut memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan, termasuk nilai tukar rupiah yang relatif lebih stabil dibandingkan tekanan eksternal yang terjadi.
Intervensi Bank Indonesia Perkuat Rupiah
Dari sisi moneter, Bank Indonesia (BI) juga mengambil langkah aktif untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi dilakukan secara simultan di berbagai pasar, baik domestik maupun offshore.
BI melakukan intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), pasar spot, serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Selain itu, BI juga memperluas operasi moneter valuta asing, termasuk melalui transaksi spot dan swap berbasis yuan offshore.
Langkah ini bertujuan tidak hanya untuk menjaga kestabilan rupiah, tetapi juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional.
Kombinasi kebijakan fiskal yang kuat dan respons moneter yang agresif menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia.
Kurs Referensi JISDOR Ikut Menguat
Sejalan dengan penguatan di pasar spot, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia juga mencatatkan penguatan.
Pada perdagangan hari ini, JISDOR berada di level Rp17.278 per dolar AS, menguat dari posisi sebelumnya di Rp17.308 per dolar AS.
Penguatan ini semakin menegaskan bahwa stabilitas rupiah masih terjaga di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.
Tekanan Global Masih Membayangi
Meski rupiah menunjukkan penguatan, tekanan global masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong harga energi lebih tinggi, yang pada akhirnya bisa memengaruhi inflasi dan beban subsidi energi dalam negeri.
Namun demikian, dengan posisi fiskal yang kuat dan koordinasi kebijakan yang solid antara pemerintah dan Bank Indonesia, Indonesia dinilai masih memiliki kapasitas untuk meredam dampak tersebut.
Ke depan, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan geopolitik global serta respons kebijakan domestik dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. (nsp)
Load more