Cerita Warga Desa Nyarai Tinggalkan Penebangan Kayu, Didampingi Astra Dapatkan Penghasilan Lebih Aman
- Astra
Padang Pariaman, tvOnenews.com - Transformasi signifikan terjadi di Desa Sejahtera Astra Nyarai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat. Perubahan ini berawal dari inisiatif seorang warga, Ritno Kurniawan, yang kini menjadi motor pengembangan ekowisata berbasis pelestarian lingkungan sekaligus penguatan ekonomi masyarakat.
Pada masa lalu, Ritno dan mayoritas warga desa mengandalkan penghasilan dari penebangan kayu di kawasan hutan. Kini, arah tersebut berbalik dengan fokus pada pengelolaan potensi wisata alam yang lebih berkelanjutan.
Sebelumnya, sebagian besar warga memperoleh pendapatan dari aktivitas penebangan kayu dengan penghasilan sekitar Rp100 ribu per sekali angkut, rata-rata tiga kali dalam sepekan. Selain berisiko tinggi terhadap keselamatan, aktivitas ini juga berpotensi merusak kawasan lindung Bukit Barisan.
Melihat potensi alam Nyarai yang menawarkan jalur trekking, lubuk dan kolam alami, hingga arung jeram, Ritno mulai mendorong pengembangan wisata berbasis masyarakat. Pendekatan persuasif dan pendampingan langsung dilakukan agar warga perlahan membuka diri terhadap peluang baru dari sektor pariwisata.
“Kawasan Nyarai yang berada di wilayah Bukit Barisan I merupakan kawasan dengan potensi wisata alam yang besar. Sebelumnya sekitar 80% masyarakat menggantungkan penghasilan dari aktivitas penebangan kayu dengan risiko tinggi terhadap keselamatan serta dampak kerusakan lingkungan yang signifikan. Dengan pendampingan yang konsisten, masyarakat mulai terbuka dan percaya diri menjadi pemandu wisata penghasilan rata-rata mencapai Rp400–500 ribu per minggu,” ujar Tokoh Penggerak Desa Sejahtera Astra Nyarai Ritno Kurniawan.
- Astra
Perubahan mulai terlihat setelah adanya dukungan dari Astra melalui program Desa Sejahtera Astra. Program ini mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penyediaan perlengkapan, serta pengembangan atraksi wisata baru seperti arung jeram. Dalam waktu sekitar tiga bulan, warga yang sebelumnya belum memahami standar pariwisata mampu menjadi pemandu wisata alam secara profesional.
Saat ini, tercatat 45 pemandu arung jeram dan lebih dari 100 warga terlibat aktif dalam pengelolaan kawasan wisata. Dari jumlah tersebut, 25 orang berperan sebagai pengurus inti. Warga yang sebelumnya bergantung pada penebangan kayu kini beralih menjadi pemandu wisata yang profesional dan telah tersertifikasi.
Load more