Inflasi Maret 2026 Naik Tipis, Bank Indonesia Sebut Pangan dan BBM Jadi Biang Kerok
- ANTARA Foto
Jakarta, tvOnenews.com - Kenaikan harga pangan dan bahan bakar kembali menjadi pendorong inflasi pada Maret 2026, meski secara umum masih dalam batas aman. Momentum Idulfitri disebut menjadi faktor utama yang meningkatkan permintaan dan mendorong kenaikan harga di sejumlah komoditas.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, bahwa inflasi kelompok volatile food masih menjadi kontributor utama tekanan harga.
“Kelompok volatile food pada Maret 2026 mengalami inflasi sebesar 1,58 persen (mtm), menurun dibandingkan dengan realisasi inflasi bulan sebelumnya sebesar 2,50 persen (mtm),” jelas dia, dalam keterangannya, Jumat (3/4/2026).
Komoditas seperti daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras menjadi penyumbang utama kenaikan harga, seiring lonjakan konsumsi masyarakat selama periode Lebaran.
Meski demikian, secara tahunan inflasi kelompok ini justru menurun menjadi 4,24 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 4,64 persen (yoy). Hal ini menunjukkan tekanan mulai mereda meski permintaan masih tinggi.
Di sisi lain, kelompok administered prices juga mencatat kenaikan inflasi, terutama akibat penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan tarif transportasi.
“Kelompok administered prices pada Maret 2026 mengalami inflasi sebesar 0,31 persen (mtm), meningkat dibandingkan realisasi deflasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,03 persen (mtm).”
Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya mobilitas masyarakat selama Idulfitri, yang mendorong permintaan transportasi dan konsumsi bahan bakar.
Namun, secara tahunan inflasi kelompok ini justru turun drastis menjadi 6,08 persen (yoy) dari sebelumnya 12,66 persen (yoy), menandakan tekanan harga yang lebih terkendali dibanding periode sebelumnya.
Bank Indonesia menegaskan bahwa koordinasi dengan pemerintah akan terus diperkuat, khususnya dalam menjaga stabilitas pasokan pangan dan mengendalikan dampak fluktuasi harga energi.
Dengan tren yang ada, tantangan ke depan tetap terletak pada menjaga keseimbangan antara lonjakan permintaan musiman dan stabilitas harga, terutama pada sektor pangan dan energi yang paling sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi. (agr/iwh)
Load more