Purbaya Cari Cara Hidupkan Marketplace Lokal untuk Lawan Dominasi China, Pelajari Tokopedia hingga TikTok
- Instagram @menkeuri
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa tengah mengkaji langkah untuk memperkuat platform lokapasar atau marketplace dalam negeri guna menahan dominasi pemain global di tengah pesatnya digitalisasi perdagangan.
MenkeuPurbaya menilai, ekosistem marketplace saat ini masih didominasi oleh perusahaan asing.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha domestik.
“Saya lagi pikirkan ada nggak perusahaan domestik yang bisa dihidupkan lagi untuk menjadi kompetisi dari dominasi China,” kata Purbaya kepada wartawan di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan, Jakarta, Sabtu (21/3/2026).
Untuk menghadirkan pesaing dari dalam negeri, Purbaya mempelajari berbagai model ekosistem marketplace yang sudah berjalan, termasuk platform yang terintegrasi dengan media sosial seperti Tokopedia dan TikTok.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat perekonomian nasional.
Di tengah dinamika geopolitik global, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengedepankan penguatan permintaan domestik guna mengurangi ketergantungan terhadap faktor eksternal.
Selain penguatan marketplace, pemerintah juga menyiapkan berbagai langkah lain, mulai dari dukungan terhadap sektor swasta, menjaga daya beli masyarakat, mengendalikan harga bahan bakar minyak subsidi dari tekanan harga minyak global, hingga mendorong percepatan realisasi belanja pemerintah.
“Walaupun global begitu, tapi permintaan (domestik) masih kencang. Mungkin (ekonomi) akan melambat kalau (konflik) naik terus. Tapi saya akan jaga permintaan domestik,” tuturnya.
Secara umum, Purbaya menilai kondisi perekonomian nasional masih relatif terjaga. Hal ini tercermin dari sejumlah indikator ekonomi serta hasil pemantauan langsung yang dilakukan selama periode Ramadhan.
Ia pun optimistis pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 dapat mencapai kisaran 5,7 persen.
“Kalau angka terakhir sih pertumbuhan ekonomi bisa 5,6–5,7 persen,” ujarnya. (ant/rpi)
Load more