Selat Hormuz Ditutup Iran Imbas Eskalasi Perang Timur Tengah, Bahlil Akui 25 Persen Impor Energi RI Terdampak
- YouTube Kementerian ESDM
Jakarta, tvOnenews.com — Penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi perang antara Israel-Amerika dan Iran mengguncang jalur utama distribusi energi dunia.
Pemerintah Indonesia mengakui dampaknya tidak bisa dianggap remeh, meski paparan langsung terhadap impor nasional masih di kisaran seperempat total pasokan dari Timur Tengah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, konflik yang memanas bukan hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga mengancam pasokan energi global.
“Kita tahu bahwa Selat Hormuz sekarang lagi ditutup akibat dinamika perang antara Israel-Amerika dan Iran. Dan ini dampaknya tidak hanya pada dampak perang, tapi juga berdampak pada energi global,” ujar Bahlil dalam konferensi pers yang disiarkan melalui YouTube Kementerian ESDM, Selasa (3/3/2026).
Ia memaparkan, sekitar 20,1 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz, menjadikannya salah satu jalur vital suplai energi dunia.
“Kita tahu bahwa di Selat Hormuz itu melewati kurang lebih sekitar 20,1 juta barel per day. Jadi Selat Hormuz itu suplai global itu 20,1 juta barel per day. Di mana 20,1 juta barel per day itu, termasuk di dalamnya adalah Indonesia melakukan impor crude (minyak mentah) dari Middle East (Timur Tengah) yang melewati Selat Hormuz,” jelasnya.
Namun setelah dilakukan penelusuran detail, pemerintah memastikan ketergantungan Indonesia pada jalur tersebut tidak dominan.
“Namun, dengan berbagai macam dinamika yang ada, alhamdulillah ternyata setelah tadi kita detailing, dari total impor crude kita dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20 sampai 25 persen,” ungkap Bahlil.
Ia menambahkan, sumber impor minyak mentah Indonesia telah terdiversifikasi ke berbagai kawasan lain.
“Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brazil. Jadi secara keseluruhan impor kita untuk crude, 20 sampai 25 persen dari Selat Hormuz, selebihnya tidak dari sana,” jelas dia.
Meski demikian, pemerintah tidak menutup mata terhadap risiko jangka panjang. Bahlil secara terbuka mengakui ketidakpastian konflik membuat perencanaan energi menjadi semakin kompleks.
“Apa strategi harus kita lakukan agar kita tidak terperangkap dengan dinamika global? Jujur saya katakan bahwa dari intelijen kami, dari kajian kami, dari komunikasi kami dengan berbagai negara di dunia, sekalipun informasi disampaikan bahwa ketegangan ini akan selesai dalam waktu ada yang mengatakan lima hari, ada yang mengatakan empat minggu, tapi keyakinan kami setelah kami melakukan kajian, ini tidak akan bisa kita ramalkan kapan selesai,” tandas dia.
Load more