THR ASN Rp55 Triliun Digelontorkan Lebih Awal, Jurus Purbaya Jaga Daya Beli Jelang Ramadan
- Antara
Menurutnya, secara struktur Produk Domestik Bruto (PDB), kontribusi konsumsi pemerintah relatif kecil sehingga tidak cukup kuat menjadi motor ekspansi ekonomi jangka panjang.
Karakter belanja yang dominan konsumtif membuat multiplier fiskalnya rendah dan hanya memberikan dorongan siklikal atau sementara.
Risiko Lonjakan Musiman Ekonomi
Indef menilai jika pertumbuhan kuartal I terlalu mengandalkan front-loading atau percepatan belanja negara, ekonomi berpotensi mengalami lonjakan sesaat sebelum kembali melandai pada kuartal berikutnya.
Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa dorongan belanja pemerintah belum cukup kuat mengatasi tantangan struktural seperti:
-
Melemahnya ekspor,
-
Pemulihan manufaktur yang belum optimal,
-
Konsumsi kelas menengah yang masih tertahan.
Dengan kata lain, THR besar memang membantu menjaga aktivitas ekonomi tetap bergerak, tetapi tidak otomatis menciptakan sumber pertumbuhan baru.
Koordinasi Fiskal dan Moneter Jadi Kunci
Pemerintah menegaskan bahwa strategi ini tidak berdiri sendiri. Selain menggelontorkan belanja negara, koordinasi juga dilakukan dengan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas likuiditas dan memastikan pasar tetap memiliki ruang pembiayaan yang cukup.
Sinergi fiskal dan moneter diharapkan mampu mempertahankan momentum pertumbuhan dari akhir 2025 hingga awal 2026, terutama melalui penguatan konsumsi domestik sebagai penopang utama ekonomi nasional.
Antara Menjaga Momentum dan Tekanan APBN
Meski menjadi stimulus penting, percepatan belanja juga membawa konsekuensi fiskal. Ketika pengeluaran dimajukan sementara penerimaan negara belum sepenuhnya pulih, tekanan terhadap APBN berpotensi meningkat.
Karena itu, kebijakan THR besar di awal tahun lebih dilihat sebagai langkah stabilisasi, bukan ekspansi agresif.
Target pertumbuhan ekonomi 5,6 persen dinilai masih realistis dalam konteks menjaga keseimbangan, sementara proyeksi menembus 6 persen dianggap membutuhkan dukungan lebih kuat dari investasi swasta, ekspor manufaktur, dan peningkatan pendapatan riil masyarakat.
THR ASN: Stimulus Sosial Sekaligus Ekonomi
Di luar aspek makroekonomi, THR ASN tetap memiliki fungsi sosial yang besar. Pencairan tepat waktu memberikan kepastian pendapatan bagi jutaan aparatur negara dan keluarganya, sekaligus menjaga tradisi konsumsi domestik selama Ramadan dan Idulfitri.
Dengan nilai mencapai Rp55 triliun, kebijakan ini menjadi salah satu suntikan likuiditas terbesar pada awal tahun dan menunjukkan bagaimana belanja negara masih menjadi instrumen utama pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Load more