Mudik Zaman Now: Kenapa Orang Indonesia Pilih Lewat Luar Negeri?
- ANTARA
Contoh Kasus Perbedaan Harga dan Konektivitas
Sebagai contoh, pada musim Lebaran tahun lalu, harga tiket pesawat Jakarta–Medan mencapai Rp2,5 juta hingga Rp3 juta sekali jalan. Sementara itu, tiket Jakarta–Kuala Lumpur bisa didapatkan dengan harga sekitar Rp1,5 juta. Setelah tiba di Kuala Lumpur, pemudik bisa melanjutkan perjalanan ke Medan dengan penerbangan lokal yang hanya memakan biaya sekitar Rp500 ribu hingga Rp700 ribu. Dengan total biaya sekitar Rp2 juta, rute ini jelas lebih ekonomis daripada penerbangan langsung dalam negeri.
Seorang pemudik dari Surabaya, misalnya, bisa terbang ke Singapura dengan harga sekitar Rp1,8 juta. Setelah tiba di Singapura, mereka bisa melanjutkan perjalanan ke Batam menggunakan feri dengan biaya sekitar Rp300 ribu. Selain lebih hemat, rute ini juga menawarkan lebih banyak jadwal penerbangan dan transportasi lanjutan.
Di sisi lain, seorang pemudik asal Padang mengungkapkan bahwa dirinya lebih memilih terbang ke Kuala Lumpur terlebih dahulu karena harga tiket yang lebih murah dan perjalanan yang lebih nyaman.
Setelah tiba di Kuala Lumpur, dia melanjutkan perjalanan ke Padang dengan maskapai lokal, yang secara keseluruhan lebih hemat sekitar 20% dibandingkan penerbangan langsung.
Dampak Tren Ini Terhadap Tradisi Mudik
Fenomena ini tentu memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap pola mudik tradisional di Indonesia:
1. Penurunan Penumpang di Rute Domestik
Lonjakan harga tiket dan kurangnya pilihan transportasi menyebabkan sebagian pemudik beralih ke jalur internasional. Akibatnya, jumlah penumpang di rute domestik berpotensi menurun. Kondisi ini dapat berdampak pada pendapatan maskapai nasional dan pengelola bandara di dalam negeri.
2. Meningkatnya Lalu Lintas di Perbatasan
Peningkatan jumlah pemudik yang menggunakan jalur internasional melalui Singapura dan Malaysia menyebabkan lonjakan aktivitas di jalur perbatasan dan pelabuhan. Hal ini memicu antrean panjang di pos imigrasi dan memerlukan penguatan pengawasan di wilayah perbatasan.
Pada musim mudik 2024, Kantor Imigrasi Batam mencatat lonjakan jumlah penumpang feri dari Singapura dan Malaysia hingga 30% dibandingkan hari biasa. Antrean di pelabuhan internasional Batam Center bahkan sempat mencapai lebih dari satu jam akibat lonjakan jumlah pemudik yang datang dari luar negeri.
Load more