Moody’s Turunkan Outlook Indonesia Jadi Negatif Picu Koreksi IHSG dan Rupiah, Harga Emas Tertekan Isu Geopolitik yang Mereda
- tim tvOne/tim tvOne
Medan, tvOnenews.com - Harga emas dunia alami koreksi dikisaran angka $4.718 per ons troy atau sekitar Rp2.6 juta per gramnya. Kesepakatan antara Iran dengan AS untuk berunding di Oman menjadi kabar buruk bagi kinerja harga emas.
Dengan begitu tensi geopolitik bisa dikatakan tengah mereda, meskipun pelaku pasar masih menanti hasil kongkrit dari pertemuan tersebut. Dan bukan hanya akan berpengaruh terhadap harga emas, diplomasi kedua negara tersebut juga akan berpengaruh terhadap kinerja pasar keuangan secara keseluruhan.
Tekanan pada harga emas dunia diproyeksikan juga akan berlanjut, jika nantinya kedua negara bersepakat dan perang urung dilakukan. Namun hal yang buruk justru bisa berlaku sebaliknya, sehingga pelaku pasar komoditas sementara waktu akan lebih memilih wait and see.
Selain isu geopolitik yang sempat memanas sebelumnya, emas juga sempat tertekan oleh sentimen pencalonan Gubernur The Fed oleh Presiden AS.
Sementara itu, mata uang Rupiah pada perdagangan pagi ini ditransaksikan melemah ke level 16.880 per US Dolar. Kinerja USD Index yang menguat hingga ke level 97.93 menjadi sentimen negatif bagi kinerja mata uang Rupiah. Pada perdagangan hari ini Rupiah diproyeksikan akan diperdagangkan dalam rentang 16.800 hingga 16.930 per US Dolar.
Disisi lain kabar negatif masih menyelimuti pasar keuangan di tanah air pada perdagangan hari ini. Dimana Moody’s menurunkan outlook peringkat Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun ratingnya masing dipertahankan oleh Moodys.
Kabar ini juga turut membebani kinerja mata uang rupiah dan IHSG, meskipun sebelumnya BPS telah merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 mampu mencetak angka 5.11 persen.
“IHSG pada sesi perdagangan pagi ini ter-pantau dibuka melemah ke level 7.945. Sejauh ini IHSG alami tekanan serius dengan membukukan pelemahan di atas 2 persen pada sesi perdagangan pagi. Dimana pelaku pasar masih terfokus pada isu besar geopolitik, serta sejumlah sentimen negatif dari kebijakan Moody’s maupun MSCI sebelumnya,” kata ekonom Sumut, Gunawan Benjamin. (Tim tvOne/wna)
Load more