Dari NTT ke Surabaya: Suster Yustina Temukan Toleransi dan Kampus Inklusif di Unusa
- tim tvOne
Kurikulum ini menjadi bagian dari strategi institusi dalam memperkuat moderasi beragama di lingkungan pendidikan tinggi.
Selain kurikulum, faktor kunci keberhasilan inklusivitas di Unusa terletak pada peran dosen dan tenaga kependidikan.
“Dosen dan tenaga kependidikan bersikap profesional, adil, dan tidak membeda-bedakan mahasiswa,” jelas Yustina.
Hal ini menunjukkan bahwa nilai kesetaraan tidak hanya menjadi wacana, tetapi diterapkan secara nyata dalam praktik akademik sehari-hari.
Komitmen Unusa terhadap SDGs juga tercermin dalam partisipasinya dalam Times Higher Education Impact Rankings, sebuah pemeringkatan global yang menilai kontribusi perguruan tinggi terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.
Partisipasi ini menempatkan Unusa sebagai bagian dari komunitas global perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga dampak sosial.
Pengalaman Yustina menunjukkan bahwa keberagaman di lingkungan pendidikan tinggi dapat menjadi kekuatan dalam membangun harmoni sosial.
“Perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang memperkuat persatuan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.
“Perbedaan agama, suku, dan budaya hendaknya menjadi sarana untuk saling mengenal dan menghargai, sehingga tercipta kehidupan yang damai dan harmonis,” tambahnya.
Di tengah tantangan polarisasi sosial dan meningkatnya isu intoleransi, pendidikan tinggi memiliki peran strategis sebagai ruang pembentukan nilai. Unusa menunjukkan bahwa kampus dapat menjadi ruang pembelajaran akademik; laboratorium sosial keberagaman; dan pusat pembentukan karakter moderat dan inklusif.
Kini Yustina sudah mengabdikan diri dan bekerja di RSK. Budi Rahayu, Blitar. Kisah Yustina menjadi bukti bahwa pendekatan berbasis nilai, jika dijalankan secara konsisten, mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya unggul, tetapi juga relevan dengan kebutuhan global. (far)
Load more