Pengasuh Ponpes Darut Taubah Ungkap Kronologi Puluhan Santri Jombang Diduga Keracunan Usai Buka Puasa
- Rohmadi
Jombang, tvOnenews.com – Pengasuh Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah mengungkap kronologi kejadian saat puluhan santri diduga mengalami keracunan makanan setelah menyantap hidangan berbuka puasa pada Kamis malam (5/3/2026).
Peristiwa tersebut terjadi di pondok pesantren yang berada di Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang. Salah satu pengasuh pondok, KH. Muhammad Adam, menceritakan bahwa kejadian bermula tidak lama setelah para santri mulai menyantap makanan berbuka.
Menurutnya, saat sebagian santri baru mulai makan, beberapa di antaranya tiba-tiba mengeluhkan kondisi tubuh yang tidak nyaman. Keluhan tersebut kemudian disusul dengan gejala mual hingga muntah.
“Baru mulai makan, belum semuanya selesai, sudah ada santri yang mengeluh mual lalu muntah,” ujar Adam.
Pada awalnya, pihak pondok mengira kondisi tersebut terjadi karena faktor kelelahan setelah para santri menjalani ibadah puasa seharian. Namun dugaan itu berubah ketika keluhan serupa dialami banyak santri dalam waktu yang hampir bersamaan.
“Kami sempat mengira hanya karena telat makan atau kelelahan setelah puasa. Tapi ternyata yang mengalami keluhan cukup banyak,” jelasnya.
Situasi menjadi semakin mengkhawatirkan ketika sejumlah santri putri mulai menunjukkan kondisi yang lebih serius. Beberapa terlihat lemas, menangis, bahkan ada yang sempat pingsan.
Melihat kondisi tersebut, pengurus pondok langsung bergerak cepat dengan melakukan penanganan awal serta berkoordinasi dengan pihak medis untuk meminta bantuan ambulans.
“Terutama santri perempuan, ada yang lemas, menangis, bahkan sampai pingsan. Kami langsung koordinasi untuk meminta bantuan ambulans,” katanya.
Tak lama kemudian, beberapa ambulans datang ke lokasi untuk mengevakuasi para santri yang mengalami gejala tersebut ke RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung guna mendapatkan penanganan medis.
Secara keseluruhan, sekitar 40 santri dibawa ke rumah sakit. Dari jumlah tersebut, sebanyak 30 orang merupakan santri putri dan 10 lainnya santri putra.
Adam menjelaskan bahwa menu berbuka puasa yang disajikan saat kejadian berupa nasi dengan sayur rawon yang dimasak oleh pihak pondok pesantren. Selain itu, para santri juga mengonsumsi telur asin yang merupakan bagian dari bantuan program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Nasi dan rawon dimasak di pondok, sedangkan telur asin berasal dari program MBG,” ungkapnya.
Ia menambahkan, paket MBG yang diterima pondok biasanya berisi beberapa jenis makanan seperti roti, buah-buahan, dan telur asin yang dibagikan kepada para santri untuk kebutuhan konsumsi selama bulan Ramadan.
Dari sekitar 84 santri yang tinggal di asrama pondok pesantren tersebut, tidak semuanya mengalami keluhan kesehatan setelah berbuka puasa.
Adam juga mengaku sempat mendapat informasi dari sejumlah santri bahwa makanan yang dimuntahkan diduga berupa telur asin. Sementara santri yang tidak mengonsumsi telur asin, termasuk dirinya yang hanya makan rawon, tidak mengalami gejala serupa.
“Ada yang muntah terlihat keluar telur asinnya. Sementara yang tidak makan telur asin, termasuk saya yang hanya makan rawon, tidak mengalami keluhan,” tuturnya.
Meski demikian, pihak pondok pesantren belum dapat memastikan penyebab pasti kejadian tersebut. Saat ini mereka masih menunggu hasil pemeriksaan medis serta uji laboratorium dari dinas kesehatan untuk mengetahui sumber pasti gangguan kesehatan yang dialami para santri.
“Untuk penyebab pastinya kami masih menunggu hasil pemeriksaan dari pihak terkait,” pungkasnya. (roi/far)
Load more