Terima Kasih Sassuolo! Timnas Indonesia Punya Senjata Baru untuk Maksimalkan Taktik John Herdman di FIFA Series Nanti
- REUTERS/Alessandro Garofalo
Jakarta, tvOnenews.com - Penampilan gemilang bek andalan Timnas Indonesia, Jay Idzes, bersama klub Serie A, Sassuolo, pada musim ini sukses menyita perhatian publik Tanah Air. Adaptasi cepat sang pemain di kompetisi level tertinggi Eropa menjadi angin segar bagi skuad Garuda jelang ajang FIFA Series mendatang.
Kehadiran pemain berusia 25 tahun itu terbukti memberikan kontribusi krusial bagi lini pertahanan Sassuolo yang berstatus sebagai tim promosi. Berkat ketangguhannya menjaga area belakang, klub berjuluk I Neroverdi tersebut kini mampu bertengger di posisi ke-11 klasemen sementara.
Catatan statistik individu Jay Idzes sepanjang musim ini juga terbilang impresif untuk ukuran seorang bek di liga top Eropa. Ia tercatat tampil penuh dalam 28 pertandingan dengan total menit bermain mencapai 2.520 menit.
Selama membela Timnas Indonesia, pemain bertubuh jangkung tersebut memang lebih sering dimainkan dalam skema tiga bek sejajar oleh pelatih sebelumnya. Namun bersama Sassuolo, Idzes harus beradaptasi dengan sistem empat bek sejajar di jantung pertahanan.
Dalam sebuah wawancara di akun resmi Serie A, Jay Idzes mengaku tidak mengalami kendala berarti dalam perubahan taktik tersebut. Ia menyebut dirinya sudah cukup terbiasa bermain dalam sistem empat bek sejak berkarier di Belanda.
"Tentu saja sangat penting bahwa saya bermain sebagai bek tengah kanan, jadi saya dan bek tengah kiri harus berkoordinasi dengan sangat baik," tambahnya.
“Bagi saya ini hanya soal membiasakan diri kembali dengan sistemnya, dan pujian untuk Mister Fabio Grosso serta staf pelatih,” ujar Jay Idzes. Ia menambahkan bahwa proses adaptasi berjalan mulus berkat dukungan tim pelatih yang intens memberikan arahan.
- Facebook - Sassuolo
Lebih lanjut, Idzes menekankan pentingnya koordinasi antarpemain saat bermain sebagai bek tengah kanan. Ia menilai komunikasi dengan rekan di sisi kiri menjadi kunci menjaga keseimbangan lini pertahanan.
Ia juga menjelaskan bahwa lini belakang harus bergerak sebagai satu kesatuan dalam berbagai situasi pertandingan. Transisi dari bertahan ke menyerang, menurutnya, menuntut konsistensi jarak antarlini agar tetap rapat dan solid.
Load more