Pengamat Malaysia Akui Naturalisasi Negaranya Terburu-buru, Singgung Keberhasilan Timnas Indonesia
- PSSI
tvOnenews.com - Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) sedang diguncang krisis besar setelah FIFA menjatuhkan sanksi disipliner atas dugaan manipulasi dokumen naturalisasi tujuh pemain asing.
Masalah ini bukan hanya menyangkut denda finansial, tetapi turut merusak reputasi sepak bola Malaysia di tingkat internasional.
Pemain-pemain yang terseret kasus tersebut antara lain Facundo Garces, Jon Irazabal, Hector Hevel, Joao Figueiredo, Imanol Machucha, Rodrigo Holgado, dan Gabriel Palmero.
FIFA menilai dokumen naturalisasi mereka telah dimanipulasi, melanggar Pasal 22 Kode Disiplin FIFA dalam pertandingan Kualifikasi Piala Asia 2027 melawan Vietnam pada Juni 2025.
Atas pelanggaran tersebut, FAM dijatuhi denda sekitar Rp7,3 miliar, sementara masing-masing pemain harus membayar sekitar Rp41,8 juta. Mereka juga dikenai embargo aktivitas sepak bola dalam jangka waktu tertentu.
Di tengah polemik ini, pengamat sepak bola Malaysia, Zulakbal Abdul Karim, mengungkapkan kekecewaannya. Ia menilai skandal ini menampar harga diri sepak bola Malaysia.
Menurutnya, fenomena naturalisasi kini memang marak di Asia Tenggara, dimulai dari Singapura, kemudian diikuti Indonesia dan Vietnam. Program tersebut awalnya ditujukan untuk kepentingan jangka pendek, namun kini juga menyentuh pemain muda.
- Instagram/Joao Figueredo
Kesuksesan Vietnam lewat Nguyen Xuan Son yang membawa skuadnya menjuarai Piala AFF 2024, serta pencapaian Indonesia di Piala Asia dan Kualifikasi Piala Dunia, menjadi contoh keberhasilan strategi naturalisasi yang dianggap lebih terencana.
Hal inilah yang mendorong Malaysia untuk melakukan hal serupa, bahkan menaturalisasi sejumlah pemain dari Amerika Latin yang diklaim memiliki darah Melayu.
Namun, langkah itu justru menjadi bumerang setelah FIFA menilai prosesnya tidak sah. Meski FAM merasa naturalisasi tersebut telah dilakukan sesuai prosedur dan berencana mengajukan banding ke CAS, FIFA disebut telah menyampaikan bukti dengan sangat rinci.
Zulakbal menilai persoalan ini sebagai aib nasional dan mengkritik FAM karena terlalu tergesa-gesa menjalankan program tersebut. Ia bahkan menyarankan Malaysia mencontoh pendekatan Indonesia.
“Kami ingin solusi cepat, mengambil jalan pintas, dan akhirnya membuat kesalahan,” ujar Zulakbal sebagaimana dikutip dari New Strait Times.
Load more