Tak Sekedar Popularitas dan Gaji, Tangan Kanan Patrick Kluivert Akhirnya Ngaku ke Media Belanda Alasan Mau Gabung ke Timnas Indonesia...
- Tim tvOne/Taufik Hidayat
Atas deretan nama mentereng di kursi pelatih dan asisten di skuad Timnas Indonesia, mendapat banyak perhatian dari dunia dan tim pesaing di Asia Tenggara seperti Vietnam.
Seperti penunjukkan Denny Landzaat dinilai merupakan langkah luar biasa bagi tim Garuda, dengan rekam jejak yang mengesankan sebagai pemain dan pelatih di kancah Internasional.
Pelatih berdarah Maluku itu diyakini mampu memperkaya taktik serta strategi permainan Timnas Indonesia.
Terlebih lagi, lawan Marselino Ferdinan cs di grup C Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia tidak mudah, ada Jepang, Australia, Arab Saudi, Bahrain dan China.
Di sisi lain, dalam udara yang dingin di Olympisch Stadion Amsterdam, di tengah photoshoot jersey terbaru turut dihadiri oleh Denny Landzaat.
Media Belanda Voetball Primeur mengambil kesempatan untuk mewawancarai asisten pelatih Timnas Indonesia, Denny Landzaat.
Mantan pemain Timnas Belanda itu ditanyai bagaimana proses dirinya bisa menjadi asisten pelatih di skuad Garuda.
Dia menceritakan bahwa dirinya dihubungi oleh Patrick Kluivert.
"Kali ini saya tidak perlu berpikir lama, dan ya sangat istimewa. Juga karena Patrick dan saya punya masa lalu," ungkapnya dilansir dari Voetbal Primeur.
"Dulu pemain muda, kami adalah rekan satu tim. Dan selalu ada rencana untuk bekerja sama," sambungnya.
Selain itu, Denny Landzaat mengaku dirinya sedang tidak terikat dengan tim mana pun. Dan menurutnya ini merupakan pekerjaan yang istimewa.
"Untuk bekerja di Indonesia, di mana keluarga saya, akar saya juga berada. Jadi sangat istimewa," tuturnya.
Sebagai informasi, Denny Landzaat memiliki darah Maluku dari pihak ibunya, sehingga membuat keterlibatan emosional dengan Indonesia dan semakin bermakna.
- tvOnenews.com/Taufik Hidayat
Pelatih berusia 48 tahun itu juga mengaku bahwa dirinya bisa sedikit berbahasa Indonesia.
"Saya memahaminya lebih banyak, di keluargaku banyak juga berbicara dalam bahasa melayu," ungkapnya.
"Dengan orang tua saya, waktu itu kami tinggal di luar, atau kami tinggal di Amsterdam, jadi tidak begitu dengan keluarga kami," ujarnya.
Load more