Capek-capek Lakukan 7 Penyelamatan, Debut Maarten Paes di Ajax Tetap Dikritik, Pengamat Belanda: Dia Menimbulkan Masalah
- Ajax
"Dan dalam situasi sepak pojok, apa yang terjadi pada semua kiper Ajax adalah hal yang wajar. Itu adalah potensi gol," tambah Driessen.
Komentar itu merujuk pada lemahnya koordinasi pertahanan dalam mengawal situasi set-piece.
Ajax di bawah arahan pelatih Francesco Farioli memang lebih mengandalkan pendekatan zonal marking ketimbang man-to-man marking.
"Mereka tidak menggunakan penjagaan man-to-man, tetapi penjagaan zona. Semua orang berada di zona tertentu," pungkasnya.
Sistem ini membutuhkan konsentrasi dan komunikasi tinggi, baik dari bek maupun kiper. Dalam fase adaptasi, kesalahan kecil bisa berdampak besar.
Bagi Paes, bermain untuk Ajax jelas berbeda dibandingkan pengalaman sebelumnya.
Klub raksasa Belanda itu memiliki ekspektasi tinggi terhadap penjaga gawangnya, bukan hanya sebagai penyelamat di bawah mistar, tetapi juga sebagai inisiator serangan pertama.
Secara historis, Ajax dikenal mengusung gaya permainan berbasis penguasaan bola dan distribusi cepat dari belakang.
Karena itu, kemampuan bermain dengan kaki menjadi tuntutan mutlak.
Kritik terhadap Paes bisa dipandang sebagai bagian dari proses adaptasi di lingkungan kompetitif Eredivisie.
Meski debutnya memunculkan pro dan kontra, peluang Paes untuk membuktikan kualitasnya masih terbuka lebar.
Dengan jadwal padat hingga akhir musim dan absennya Jaros, ia akan mendapatkan menit bermain yang cukup untuk memperbaiki kekurangan yang disorot.
Bagi publik Indonesia, performa Paes tetap menjadi kabar positif.
Ia kini bersaing di level tertinggi sepak bola Belanda dan berpeluang membawa pengalaman berharga bagi Timnas Indonesia.
Debut gemilang memang belum cukup untuk memuaskan semua pihak. Namun, dalam sepak bola modern, kritik sering kali menjadi bahan bakar untuk berkembang.
Kini, yang ditunggu adalah bagaimana Maarten Paes menjawab hujatan tersebut dengan konsistensi.
(tsy)
Load more