Liga Champions: Tragedi di San Siro! Inter Milan Hancur Akibat Kesalahan Sendiri dan Kedisiplinan Bodo/Glimt
- REUTERS/Claudia Greco
Jakarta, tvOnenews.com – Kekalahan 1-2 dari Bodo/Glimt di San Siro menjadi malam yang sulit dilupakan bagi Inter Milan. Harapan untuk membalikkan keadaan justru runtuh akibat kesalahan sendiri pada momen paling krusial.
Dilansir dari Corriere dello Sport, sorotan utama mengarah kepada Manuel Akanji yang tampil di bawah performa terbaiknya. Bek tengah asal Swiss itu melakukan umpan balik ceroboh yang berujung pada gol pembuka tim tamu.
Gol tersebut terasa seperti pukulan telak bagi mental para pemain Inter. Dalam situasi tertekan dan membutuhkan gol cepat, mereka justru dipaksa mengejar ketertinggalan yang semakin berat.
Sepanjang musim ini, Akanji dikenal sebagai sosok penting di lini belakang racikan Cristian Chivu. Ia tampil konsisten dan kerap menjadi penyeimbang di jantung pertahanan.
Namun, sepak bola kerap kejam terhadap satu kesalahan kecil yang terjadi pada waktu yang salah. Umpan tanpa perhitungan itu memberi ruang bagi Bodo/Glimt untuk menghukum Inter secara efektif.
Setelah tertinggal agregat tiga gol dengan waktu kurang dari setengah jam tersisa, situasi menjadi nyaris mustahil. Inter berusaha menekan, tetapi permainan mereka tampak terburu-buru dan kehilangan arah.
Akanji sempat mencoba menebus kesalahannya lewat peluang di depan gawang lawan. Sayangnya, bola hanya membentur tiang dan tak mampu mengubah jalannya pertandingan.
Di lini tengah, Nicolo Barella juga tak mampu menunjukkan magis seperti biasanya. Kapten pengganti itu terlihat kesulitan menemukan ritme permainan terbaiknya.
Barella tetap berlari dan berjuang tanpa lelah sepanjang laga. Namun, umpan-umpan akhirnya kerap tak tepat sasaran, sementara keputusannya di sepertiga akhir lapangan kurang efektif.
Ekspektasi publik begitu tinggi terhadap gelandang tim nasional Italia tersebut. Ketika tim membutuhkan inspirasi, sentuhan kreatifnya justru tak muncul pada saat genting.
Secara keseluruhan, Inter gagal tampil sebagai tim yang matang dan tenang. Mereka seperti kehilangan kontrol ketika tekanan semakin besar dan waktu terus menipis.
Sementara itu, Bodo/Glimt tampil disiplin dan penuh percaya diri sepanjang pertandingan. Wakil Norwegia tersebut menunjukkan bahwa keberanian dan organisasi permainan yang rapi mampu meruntuhkan tim besar.
Load more