Ini Alasan Ruben Amorim Memilih Bungkam Usai Dipecat Manchester United, Ada Hubungannya Dengan Michael Carrick?
- instagram Futbol Passion
tvOnenews.com - Keputusan Manchester United memutus kerja sama dengan Ruben Amorim meninggalkan banyak tanda tanya. Bukan hanya soal alasan pemecatan, tetapi juga sikap sang pelatih yang memilih diam seribu bahasa setelah diberhentikan.
Di tengah sorotan tajam media dan desakan publik agar ia buka suara, Amorim justru mengambil jalan sunyi, sebuah sikap yang jarang terlihat dari pelatih dengan karakter seblak-blakan seperti dirinya.
Alih-alih melontarkan pembelaan atau kritik balik kepada manajemen, Amorim memilih menunda semua tanggapan hingga musim kompetisi berakhir.
Keheningan itu bukan tanpa alasan. Ia diyakini tak ingin kehadirannya kembali di ruang publik justru mengganggu fokus Manchester United yang kini sedang berjuang di bawah kendali manajer interim Michael Carrick.
Amorim Menunda Bicara Demi Stabilitas Tim
Menurut laporan The Daily Mail, Ruben Amorim telah memutuskan untuk tidak memberikan pernyataan apa pun terkait pemecatannya hingga musim panas mendatang.
Mantan pelatih Sporting CP itu disebut ingin menunggu sampai kompetisi berakhir sebelum akhirnya menceritakan versinya sendiri tentang kepindahan impiannya ke Liga Inggris yang berubah menjadi mimpi buruk.

- instagram Ruben Amorim
Sikap ini cukup kontras dengan citra Amorim selama berada di Old Trafford. Sepanjang masa jabatannya, pelatih berusia 41 tahun itu dikenal vokal dan tak ragu menyampaikan kritik terbuka, baik terhadap performa tim maupun dinamika internal klub.
Namun kali ini, ia memilih benar-benar menghilang dari sorotan media. Sumber yang sama menegaskan bahwa Amorim tidak ingin mengalihkan perhatian dari perjuangan Manchester United di sisa musim.
Wawancara emosional atau pernyataan keras saat ini dinilai hanya akan memicu kegaduhan baru, sesuatu yang bisa mengganggu ruang ganti ketika tim membutuhkan fokus penuh untuk mengamankan tiket Liga Champions.
Profesionalisme di Tengah Akhir yang Berantakan
Motivasi utama Amorim untuk bungkam disebut berangkat dari keinginannya melindungi skuad dan penggantinya.
Ia diyakini tidak ingin memengaruhi atau mengganggu pekerjaan Michael Carrick yang baru ditunjuk sebagai caretaker.
Dengan memilih diam, Amorim membiarkan sorotan tertuju sepenuhnya pada sepak bola, bukan pada drama politik internal klub.
Keputusan ini memperlihatkan sisi profesionalisme Amorim, meski masa jabatannya di Manchester United berakhir dengan cara yang tidak ideal.
Akhir kisahnya memang pahit. Kekalahan telak dari Leeds United menjadi titik balik yang menentukan. Dalam konferensi pers pascalaga di Elland Road, Amorim melontarkan pernyataan tajam yang secara tidak langsung menantang dewan klub.
“Saya datang ke sini untuk menjadi manajer Manchester United, bukan untuk menjadi pelatih Manchester United. Saya tidak akan mengundurkan diri. Saya akan melakukan pekerjaan saya sampai ada orang lain yang datang untuk menggantikan saya,” ujar Amorim kala itu.
Sehari berselang, Manchester United resmi mengumumkan pemecatannya.

- instagram manutd
Kontras dengan Era Michael Carrick yang Lebih Tenang
Kepergian Amorim justru menjadi awal kebangkitan United di bawah Michael Carrick.
Mantan gelandang klub itu langsung memberi dampak signifikan dengan membawa Setan Merah meraih tiga kemenangan beruntun di Liga Inggris, mengalahkan Manchester City, Arsenal, dan Fulham.
Perubahan paling mencolok terletak pada pendekatan Carrick yang lebih sederhana dan menenangkan. Para pemain diberi kebebasan berekspresi, tanpa tekanan berlebihan.
Benjamin Sesko, salah satu pilar United, mengungkapkan perbedaan tersebut dalam wawancara dengan Sky Sports.
“Memang benar, dia telah mengatakan hal-hal ini berkali-kali kepada tim. Itulah yang sedang kami lakukan,” kata Sesko.
Ia menambahkan bahwa etos kerja tim kini jauh lebih solid.
“Anda dapat melihat betapa kerasnya kami bekerja untuk satu sama lain tanpa bola… Semua orang fokus dan menjaga ruang mereka.”
Di era Carrick, pemain yang sempat terpinggirkan seperti Kobbie Mainoo kembali bersinar. Bruno Fernandes pun dikembalikan ke peran naturalnya sebagai gelandang serang, sebuah keputusan yang sebelumnya jarang dilakukan Amorim.
Jika Amorim identik dengan tekanan dan konflik terbuka, Carrick hadir dengan ketenangan dan kejelasan peran. Dan mungkin, di situlah letak ironi terbesar: keheningan Amorim kini berbicara lebih lantang daripada semua pernyataannya di masa lalu. (udn)
Load more