Nasib, Elkan Baggott Naik Kasta tapi Ole Romeny Justru Terjun Bebas Jelang FIFA Matchday 2026?
- Instagram Elkan Baggott / Ole Romeny
tvOnenews.com - Nasib dua pemain keturunan yang menjadi bagian proyek naturalisasi Timnas Indonesia, Elkan Baggott dan Ole Romeny, tengah berada di dua kutub berbeda.
Keduanya sama-sama berkarier di kasta kedua Liga Inggris (Championship), tetapi menjelang akhir musim, arah karier mereka justru berlawanan, bak bumi dan langit.
Situasi ini menjadi sorotan di tengah era John Herdman yang tengah membangun ulang kekuatan Timnas Indonesia menuju FIFA Matchday 2026.
Dengan strategi yang mengandalkan pemain naturalisasi dan diaspora, performa klub para pemain seperti Baggott dan Ole Romeny tentu akan sangat memengaruhi komposisi skuad Garuda ke depan.
Ipswich Melaju, Elkan Baggott Dekat dengan Premier League
Di satu sisi, Elkan Baggott berada dalam situasi yang nyaris sempurna bersama Ipswich Town.
Klub yang dilatih Kieran McKenna itu kini bertengger di posisi kedua klasemen Championship dengan koleksi 79 poin, bahkan masih menyimpan satu pertandingan lebih banyak dibanding pesaing terdekatnya.
Jika Ipswich mampu mempertahankan posisi hingga akhir musim, mereka akan mengamankan tiket promosi langsung ke Premier League.
Bahkan jika gagal finis di dua besar, peluang naik kasta masih terbuka melalui jalur play-off.
- Kitagaruda.id
Namun, di balik kesuksesan tim, peran Baggott justru cukup terbatas. Bek jangkung setinggi 196 cm itu belum mencatatkan satu pun penampilan di Championship musim ini. Ia hanya tampil dua kali di ajang Piala FA.
Situasi ini menghadirkan paradoks: berada di tim sukses, tetapi minim kontribusi di lapangan. Meski demikian, pengalaman berada di lingkungan klub papan atas Inggris tetap menjadi nilai penting dalam perkembangan kariernya.
Oxford United Terpuruk, Ole Romeny di Ambang Degradasi
Berbanding terbalik dengan Baggott, nasib Ole Romeny bersama Oxford United justru berada di ujung tanduk.
Klub yang dimiliki Erick Thohir itu kini terdampar di peringkat 21 dengan 44 poin, hanya menyisakan dua pertandingan.
Oxford masih tertinggal enam poin dari zona aman, yang ditempati Charlton Athletic. Artinya, mereka harus menyapu bersih dua laga tersisa sambil berharap pesaingnya terpeleset, sebuah skenario yang tidak mudah.
Ada pula kemungkinan lain jika West Bromwich Albion mendapat pengurangan poin akibat pelanggaran finansial. Namun, jarak delapan poin membuat peluang tersebut terbilang kecil.
Dari sisi individu, Ole Romeny juga belum mampu mengunci posisi utama. Ia hanya tampil dalam 15 pertandingan Championship dan dua laga Piala FA, lebih sering menjadi opsi rotasi dalam skuad asuhan Matt Bloomfield.
Jika situasi ini tak berubah, Oxford berpotensi turun ke League One, kasta ketiga sepak bola Inggris. Ini tentu menjadi pukulan bagi karier Romeny yang tengah berusaha konsisten di level kompetitif.
- Instagram @oufcofficial
Perbedaan nasib antara Elkan Baggott dan Ole Romeny menjadi cerminan kompleksitas proyek naturalisasi Timnas Indonesia.
Di satu sisi, pemain seperti Baggott berada di lingkungan elite, tetapi minim menit bermain. Di sisi lain, Romeny mendapatkan jam terbang lebih banyak, tetapi di tim yang berjuang menghindari degradasi.
Bagi John Herdman, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam menentukan komposisi skuad terbaik. Apakah ia akan memilih pemain dari klub elite meski jarang tampil, atau pemain dengan menit bermain tinggi tetapi di level kompetisi lebih rendah?
Sebagai perbandingan, banyak pelatih modern lebih mengutamakan match fitness dibanding status klub. Artinya, konsistensi bermain bisa lebih penting dibanding sekadar berada di tim besar.
Menjelang FIFA Matchday 2026, keputusan ini akan sangat krusial. Terlebih, Timnas Indonesia tengah membangun identitas permainan yang menuntut intensitas tinggi dan kesiapan fisik optimal.
Dengan kondisi terkini, Elkan Baggott berpeluang mencicipi Premier League, sementara Ole Romeny harus berjuang menghindari degradasi ke League One.
Dua jalur berbeda ini tidak hanya menentukan masa depan karier mereka, tetapi juga bisa berdampak langsung pada peta kekuatan Timnas Indonesia di era John Herdman. (udn)
Load more