Mengenang Kisah Luar Biasa Henky Timisela, Wonder Boy Timnas Indonesia dan Persib Bandung Era 1960-an yang Tutup Usia
- Instagram @erickthohir
tvOnenews.com - Sepak bola Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Henky Timisela, penyerang legendaris yang pernah menggetarkan Asia, meninggal dunia di Jakarta pada Jumat (26/9/2025) dalam usia 87 tahun.
Jenazahnya disemayamkan di Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Gibeon, Pesanggrahan, sebelum akhirnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir pada Sabtu siang.
Henky bukan sekadar pesepak bola biasa. Ia adalah simbol keberanian, dedikasi, dan pilihan hidup yang berbeda dari kebanyakan bintang lapangan hijau pada zamannya.
Gol-golnya, kepemimpinannya, dan keputusan besar yang ia ambil menjadikannya sosok yang tak terlupakan.
Awal Karier: Dari Surabaya ke Persib Bandung
Henky lahir di Surabaya pada 22 November 1937.
Perjalanannya di dunia sepak bola dimulai saat bergabung dengan Persib Bandung pada 1957.
Lima tahun berseragam Maung Bandung membuahkan hasil manis, salah satunya gelar juara Perserikatan tahun 1961.
Di sanalah bakat alaminya sebagai striker tajam mulai dikenal luas.
Debut Menggebrak Bersama Timnas Indonesia
Nama Henky benar-benar melejit ketika mengenakan seragam Timnas Indonesia. Pada 11 Februari 1959, dalam laga uji coba melawan Jerman Timur di Stadion Ikada, Jakarta, ia langsung mencetak dua gol pada partai debutnya.
Pertandingan itu berakhir imbang 2-2, dan sejak saat itu publik menjulukinya sebagai Wonder Boy.
Dari total 63 penampilannya bersama tim nasional, Henky sukses mengoleksi 55 gol. Catatan itu menempatkannya sejajar dengan predator kotak penalti kelas dunia di era tersebut.
Era 1960-an menjadi masa emas Henky bersama Garuda.
Ia ikut mengantarkan Indonesia meraih gelar Turnamen Merdeka di Malaysia dua kali berturut-turut, pada 1961 dan 1962.
Bahkan pada edisi 1962, ia dipercaya menjadi kapten sekaligus mencetak gol penting di laga final melawan Pakistan.
Pilihan Tak Biasa: Gantung Sepatu di Puncak Karier
Berbeda dari banyak pemain yang pensiun karena faktor usia atau cedera, Henky memilih berhenti justru ketika sedang berada di puncak popularitas.
Alasannya sederhana namun mendalam: ia ingin melanjutkan pendidikan.
Ia melanjutkan studi ke Jepang, kemudian bekerja di Hotel Okura Tokyo hingga awal 1970-an.
Keputusan itu sempat mengejutkan banyak orang, tetapi justru membentuk jalan baru dalam hidupnya.
Load more