News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Membangun Kampus di Perbatasan: Strategi Geopolitik Prabowo

Membangun Fakultas Vokasi Logistik Militer di perbatasan adalah langkah geopolitik yang berani: membentuk karakter bangsa sekaligus menciptakan daya tangkal baru yang tidak berisik, tetapi menentukan; logistics-based deterrence.
Kamis, 26 Februari 2026 - 15:36 WIB
Wakil Dekan 1 Fakultas Vokasi Logisitik Militer Universitas Pertahanan RI Marsma TNI Hikmat Zakky Almubaroq
Sumber :
  • Istimewa

Penulis: Marsma TNI Hikmat Zakky Almubaroq, Wakil Dekan 1 Fakultas Vokasi Logisitik Militer Universitas Pertahanan RI

tvOnenews.com - Pada era Ketika perang dimulai dari gangguan rantai pasok dan krisis pangan, kekuatan bangsa tidak lagi ditentukan hanya oleh senjata, tetapi oleh kemampuan manajemen logistik, dan membangun manusianya. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Perbatasan hari ini bukan lagi halaman belakang republik. Ia adalah garis depan pertarungan logistik global. 

Karena itu, membangun Fakultas Vokasi Logistik Militer di perbatasan adalah langkah geopolitik yang berani: membentuk karakter bangsa sekaligus menciptakan daya tangkal baru yang tidak berisik, tetapi menentukan; logistics-based deterrence.

Dari Garis di Peta menjadi Medan Pertarungan Geopolitik

Indonesia memikul beban geografis yang tidak ringan. Panjang garis pantai kita sekitar 108.000 kilometer. Jumlah pulau yang telah bernama dan berkoordinat pada 2024 dicatat 17.380 oleh Badan Informasi Geospasial. Angka-angka ini bukan hiasan pidato. Ini peta kerentanan sekaligus peta peluang.

Beban itu membesar karena Indonesia berdiri di jalur paling sibuk dalam perdagangan maritim. Analisis Indo-Pasifik yang sering dipakai dalam kajian keamanan maritim menyebut sekitar 60 persen perdagangan maritim dunia melintas di kawasan Indo-Pasifik, dan sembilan dari sepuluh pelabuhan tersibuk dunia berada di kawasan ini. 

Selat Malaka, salah satu nadi utama kawasan, dilalui sekitar 90.000 kapal per tahun. Jadi jangan heran bila setiap mil laut di sekitar kita dibaca negara lain sebagai kalkulasi strategis, bukan sekadar geografi. Di dalam negeri pun, negara mengakui perbatasan adalah ruang kerja nasional. 

Badan Nasional Pengelola Perbatasan menyebut pengelolaan perbatasan ke depan mengedepankan lokasi prioritas di 19 provinsi dan 75 kabupaten/kota, didukung pusat kegiatan strategis, pulau-pulau kecil terluar, serta pos lintas batas. 

Pada periode sebelumnya, fokus kebijakan juga berbicara ratusan kecamatan lokasi prioritas di puluhan kabupaten/kota. Skala ini sederhana saja maknanya: perbatasan tidak bisa dikelola dengan pola pikir “sekadar pinggiran”.

Model Pembangunan Perbatasan: Ramai Sesaat atau Tangguh Berabad?

Tapal batas negeri bisa dibangun dengan banyak model. Ada model pembangunan berbasis bisnis hiburan. Ada yang memilih kawasan komersial instan. Bahkan ada yang tergoda membangun pusat perjudian atau “ekonomi cepat” yang membuat uang berputar deras. 

Dalam hitungan bulan, lampu menyala, musik ramai terdengar, orang-orang datang dan pergi. Tetapi ukuran strategisnya bukan “ramai atau sepi”. Ukurannya adalah “tahan atau rapuh”.

Keramaian yang tidak membangun karakter adalah kemenangan semu. Ia menciptakan kerumunan, bukan komunitas. Ia membangun euforia, bukan identitas. Ia hidup dari konsumsi, bukan dari kapasitas. 

Sebaliknya, pendidikan adalah proyek yang tidak heboh, tetapi paling mematikan dalam menghadapi ancaman jangka panjang. Karena pendidikan melahirkan manusia yang tidak mudah dibeli, tidak mudah dipecah, dan tidak mudah diprovokasi.

Ketika kampus berdiri di Garis kedaulatan, yang datang bukan hanya mahasiswa. Datang dosen, datang tenaga kependidikan, datang penelitian, datang latihan praktik. Dan yang orang kota sering lupa: datang orang tua, datang keluarga, datang rombongan kecil yang menengok anaknya sedang belajar di batas negeri. 

Di titik itulah ekosistem ekonomi tumbuh secara organik. Warung menjadi toko. Toko menjadi deretan ruko. Rumah singgah menjadi penginapan. Penginapan menjadi usaha jasa yang stabil. 

Lalu transportasi bergerak, layanan publik bertumbuh, bahkan pusat belanja akan muncul ketika daya beli dan arus kunjungan sudah terbentuk. Ekonomi seperti ini tidak sekadar berputar, tetapi berakar.

Tetapi mengapa saya menyebut ini geopolitik, bukan sekadar pembangunan daerah?

Karena perang modern bergeser. Hari ini yang dilumpuhkan pertama sering bukan garis depan, tetapi gudang, pelabuhan, jalur distribusi, dan akses pangan. Di tingkat teori, kita mengenal konsep “weaponized interdependence”: jaringan ekonomi global bisa dipakai negara tertentu untuk mengumpulkan informasi strategis atau menutup akses pihak lain. 

Lihat Laut Merah. Yang terjadi di Laut Merah saat ini bukan sekadar gangguan pelayaran biasa. Itu adalah geopolitik yang menekan logistik global. International Monetary Fund mencatat pada dua bulan pertama 2024, volume perdagangan melalui Terusan Suez turun sekitar 50 persen dibanding tahun sebelumnya. 

IMF juga mengingatkan bahwa dalam kondisi normal sekitar 15 persen volume perdagangan maritim global melewati Suez. United Nations Conference on Trade and Development menunjukkan dampaknya berlapis: transits di kanal turun puluhan persen, banyak kapal kontainer menghindari Suez dan mengalihkan rute memutar Tanjung Harapan, biaya dan waktu kirim naik, guncangan menekan rantai pasok, dan peta pelayaran ikut berubah. 

Lihat Ukraina. World Bank menyebut perang Rusia-Ukraina sebagai salah satu guncangan pasokan terbesar dalam beberapa dekade: harga energi dan pangan melonjak, dan harga gandum diproyeksikan naik lebih dari 40 persen pada 2022. 

UNCTAD menegaskan rapuhnya harga pangan global: sekalipun harga turun dari puncak, levelnya tetap tinggi dan mudah terpicu oleh gangguan pasar, pembatasan ekspor, atau lonjakan biaya energi dan pupuk. 

Perang di satu kawasan, lapar di kawasan lain. Ini realitas. Dan dalam dunia yang saling terhubung seperti ini, negara yang tidak menguasai logistiknya sendiri sedang menyerahkan masa depannya kepada volatilitas global.

Jika supply chain bisa dipakai sebagai senjata, maka ketahanan pangan dan logistik adalah pertahanan masa depan. Inilah yang saya sebut logistics-based deterrence: daya gentar yang lahir bukan dari ancaman tembak, tetapi dari kemampuan bertahan, memproduksi, menyimpan, mengolah, dan mendistribusikan ketika dunia terguncang.

Dalam kerangka kebijakan pertahanan saat itu, pendirian Fakultas Vokasi Logistik Militer Universitas Pertahanan RI di Belu, perbatasan antara RI dengan Timor-Leste, dapat dibaca sebagai strategi geopolitik yang visioner. 

Fakta institusionalnya jelas, pada peresmiannya, Kampus ini ditegaskan berfokus pada aspek logistik dengan target ketahanan pangan daerah untuk mendukung ketahanan nasional, dengan program studi yang langsung menyentuh problem perbatasan (Pengolahan lahan kering, budi daya ternak, perikanan, pengolahan hasil laut, permesinan kapal, dan lainnya). 

Dan jangan lupa konteks politik-administratifnya: pada periode itu, Prabowo memang menjabat Menteri Pertahanan dan berada dalam struktur pengambilan keputusan Kemhan yang menegaskan bahwa FVLM di Belu sebagai penguatan pendidikan vokasi pertahanan yang adaptif, menyiapkan SDM pertahanan yang profesional, terampil, dan berkarakter, khususnya untuk konteks penguatan pertahanan di wilayah perbatasan. Ini bukan kampus pinggiran. Ini kampus garis depan.

Dan ALKI membuat semua ini menjadi jauh lebih serius. Pemerintah menetapkan Alur Laut Kepulauan Indonesia melalui PP 37 Tahun 2002 yang memuat ALKI I, II, dan III beserta cabang-cabangnya. Dunia pun mengakui jalur ini: International Maritime Organization melalui Resolusi MSC.72 (69) mengadopsi “partial system of archipelagic sea lanes” di perairan kepulauan Indonesia. Jika dunia mengakui jalur kita, dunia juga menaruh kepentingan di jalur kita. Perbatasan dan perairan kita bukan hanya batas, tetapi panggung kompetisi.

Karena itu, saya kembali ke konstitusi, dengan satu kutipan yang seharusnya membuat kita tersadar. Pembukaan UUD 1945 menegaskan tujuan negara: “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa”. Perlindungan tanpa pencerdasan adalah tugas setengah. Pencerdasan tanpa ketahanan adalah kelalaian.

Penutup

Anda boleh membangun kasino di perbatasan dan membuat orang ramai datang, tetapi kampus membuat orang datang karena harapan masa depan. Keramaian bisa diciptakan dalam hitungan bulan, tetapi peradaban dibangun dalam hitungan generasi. 

Perbatasan yang hanya dijaga mungkin bertahan sementara; perbatasan yang dididik akan bertahan lama. Dan di abad ketika logistik adalah senjata, ketika rantai pasok bisa melumpuhkan negara tanpa satu peluru pun ditembakkan, perbatasan yang memiliki ilmu, pangan, dan karakter akan membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum menekan Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Maka harapan kita ke depan sederhana tetapi strategis: semoga di setiap tapal batas republik ini berdiri kampus-kampus baru, pusat vokasi, pusat riset, pusat produksi, yang menyalakan cahaya pengetahuan di ujung negeri. Karena ketika ilmu tumbuh di perbatasan, yang menguat bukan hanya ekonomi lokal, tetapi martabat nasional. (*)

Disclaimer: Artikel ini telah melalui proses editing yang dipandang perlu sesuai kebijakan redaksi tvOnenews.com. Namun demikian, seluruh isi dan materi artikel opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. 

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Intip Skuad Mewah 'Local Pride' Pilihan John Herdman untuk Piala AFF 2026, Timnas Indonesia Tanpa Pemain Eropa

Intip Skuad Mewah 'Local Pride' Pilihan John Herdman untuk Piala AFF 2026, Timnas Indonesia Tanpa Pemain Eropa

Di bawah komando pelatih anyar John Herdman, Timnas Indonesia mengusung misi besar yakni mematahkan kutukan enam kali runner-up dan membawa pulang trofi juara -
Erick Thohir Buka Suara! Banyak Kompetisi Jadi Kunci Lahirkan Bintang Timnas Indonesia

Erick Thohir Buka Suara! Banyak Kompetisi Jadi Kunci Lahirkan Bintang Timnas Indonesia

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan pentingnya memperbanyak kompetisi sepak bola di Tanah Air guna meningkatkan kualitas pemain lokal.
Polisi Turun Tangan Soal Aksi Pemalakan Sopir Bajaj di Tanah Abang

Polisi Turun Tangan Soal Aksi Pemalakan Sopir Bajaj di Tanah Abang

Polsek Tanah Abang melakukan penyelidikan terkait viralnya aksi pemalakan yang dilakukan terhadap sopi bajaj di kawasan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kapolsek
Usai Dinonaktifkan Dedi Mulyadi, Gaji Kepala Samsat Soekarno Hatta Jadi Sorotan, Segini Penghasilannya!

Usai Dinonaktifkan Dedi Mulyadi, Gaji Kepala Samsat Soekarno Hatta Jadi Sorotan, Segini Penghasilannya!

Gaji Kepala Samsat Soekarno Hatta jadi sorotan usai dinonaktifkan Dedi Mulyadi. Ternyata total penghasilan bisa mencapai puluhan juta termasuk tunjangan.
Setelah Hujan Reda, Bacalah Doa Pendek Berikut Agar Diberikan Rahmat dan Berkah dari Allah SWT

Setelah Hujan Reda, Bacalah Doa Pendek Berikut Agar Diberikan Rahmat dan Berkah dari Allah SWT

Hujan pada musim tak menentu membawa kesejukan dan rahmat. Simak hikmah serta doa yang dianjurkan setelah hujan reda agar mendapatkan keberkahan dari Allah SWT
Debut Mimpi Buruk De Zerbi! Tottenham Hotspur Tumbang, Makin Tenggelam di Zona Degradasi

Debut Mimpi Buruk De Zerbi! Tottenham Hotspur Tumbang, Makin Tenggelam di Zona Degradasi

Debut Roberto De Zerbi sebagai pelatih Tottenham Hotspur berakhir mengecewakan setelah timnya kalah 0-1 dari Sunderland pada laga yang digelar di Stadium of Light, Minggu (12/4/2026) malam WIB.

Trending

Polisi Turun Tangan Soal Aksi Pemalakan Sopir Bajaj di Tanah Abang

Polisi Turun Tangan Soal Aksi Pemalakan Sopir Bajaj di Tanah Abang

Polsek Tanah Abang melakukan penyelidikan terkait viralnya aksi pemalakan yang dilakukan terhadap sopi bajaj di kawasan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kapolsek
Intip Skuad Mewah 'Local Pride' Pilihan John Herdman untuk Piala AFF 2026, Timnas Indonesia Tanpa Pemain Eropa

Intip Skuad Mewah 'Local Pride' Pilihan John Herdman untuk Piala AFF 2026, Timnas Indonesia Tanpa Pemain Eropa

Di bawah komando pelatih anyar John Herdman, Timnas Indonesia mengusung misi besar yakni mematahkan kutukan enam kali runner-up dan membawa pulang trofi juara -
Erick Thohir Buka Suara! Banyak Kompetisi Jadi Kunci Lahirkan Bintang Timnas Indonesia

Erick Thohir Buka Suara! Banyak Kompetisi Jadi Kunci Lahirkan Bintang Timnas Indonesia

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan pentingnya memperbanyak kompetisi sepak bola di Tanah Air guna meningkatkan kualitas pemain lokal.
Kades Tak Terima Pungli Dihapuskan di Jembatan Cirahong, Begini Kata Dedi Mulyadi

Kades Tak Terima Pungli Dihapuskan di Jembatan Cirahong, Begini Kata Dedi Mulyadi

Kades tak terima pungli di sekitar Jembatan Cirahong dihapuskan karena berdampak pada relawan yang bertugas. Begini kata Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Publik Soroti Prestasi Kepala Samsat Bandung yang Dinonaktifkan KDM, Ida Hamidah Pernah Sabet Penghargaan

Publik Soroti Prestasi Kepala Samsat Bandung yang Dinonaktifkan KDM, Ida Hamidah Pernah Sabet Penghargaan

Ida Hamidah, nama yang kini menjadi perbincangan warga Jabar, khususnya di Kota Bandung. Pasalnya, ia sebagai Kepala Samsat Soekarno-Hatta Kota Bandung yang
Jadwal Final Four Proliga 2026, Minggu 12 April: Megawati Hangestri Cs Siap Balas Dendam Demi Lolos ke Grand Final

Jadwal Final Four Proliga 2026, Minggu 12 April: Megawati Hangestri Cs Siap Balas Dendam Demi Lolos ke Grand Final

Jadwal Final Four Proliga 2026, di mana Megawati Hangestri dan skuad Jakarta Pertamina Enduro siap balas dendam demi bisa lolos ke babak grand final.
Klasemen Final Four Proliga 2026 Putri: Jakarta Pertamina Enduro Tertahan, Megawati Hangestri Cs Gagal Langsung Lolos ke Grand Final

Klasemen Final Four Proliga 2026 Putri: Jakarta Pertamina Enduro Tertahan, Megawati Hangestri Cs Gagal Langsung Lolos ke Grand Final

Klasemen Final Four Proliga 2026 setelah pertandingan penutup seri Solo antara Jakarta Pertamina Enduro yang diperkuat Megawati Hangestri melawan Jakarta Electric PLN.
Selengkapnya

Viral