Membangun Kampus di Perbatasan: Strategi Geopolitik Prabowo
- Istimewa
Dalam hitungan bulan, lampu menyala, musik ramai terdengar, orang-orang datang dan pergi. Tetapi ukuran strategisnya bukan “ramai atau sepi”. Ukurannya adalah “tahan atau rapuh”.
Keramaian yang tidak membangun karakter adalah kemenangan semu. Ia menciptakan kerumunan, bukan komunitas. Ia membangun euforia, bukan identitas. Ia hidup dari konsumsi, bukan dari kapasitas.
Sebaliknya, pendidikan adalah proyek yang tidak heboh, tetapi paling mematikan dalam menghadapi ancaman jangka panjang. Karena pendidikan melahirkan manusia yang tidak mudah dibeli, tidak mudah dipecah, dan tidak mudah diprovokasi.
Ketika kampus berdiri di Garis kedaulatan, yang datang bukan hanya mahasiswa. Datang dosen, datang tenaga kependidikan, datang penelitian, datang latihan praktik. Dan yang orang kota sering lupa: datang orang tua, datang keluarga, datang rombongan kecil yang menengok anaknya sedang belajar di batas negeri.
Di titik itulah ekosistem ekonomi tumbuh secara organik. Warung menjadi toko. Toko menjadi deretan ruko. Rumah singgah menjadi penginapan. Penginapan menjadi usaha jasa yang stabil.
Lalu transportasi bergerak, layanan publik bertumbuh, bahkan pusat belanja akan muncul ketika daya beli dan arus kunjungan sudah terbentuk. Ekonomi seperti ini tidak sekadar berputar, tetapi berakar.
Tetapi mengapa saya menyebut ini geopolitik, bukan sekadar pembangunan daerah?
Karena perang modern bergeser. Hari ini yang dilumpuhkan pertama sering bukan garis depan, tetapi gudang, pelabuhan, jalur distribusi, dan akses pangan. Di tingkat teori, kita mengenal konsep “weaponized interdependence”: jaringan ekonomi global bisa dipakai negara tertentu untuk mengumpulkan informasi strategis atau menutup akses pihak lain.
Lihat Laut Merah. Yang terjadi di Laut Merah saat ini bukan sekadar gangguan pelayaran biasa. Itu adalah geopolitik yang menekan logistik global. International Monetary Fund mencatat pada dua bulan pertama 2024, volume perdagangan melalui Terusan Suez turun sekitar 50 persen dibanding tahun sebelumnya.
IMF juga mengingatkan bahwa dalam kondisi normal sekitar 15 persen volume perdagangan maritim global melewati Suez. United Nations Conference on Trade and Development menunjukkan dampaknya berlapis: transits di kanal turun puluhan persen, banyak kapal kontainer menghindari Suez dan mengalihkan rute memutar Tanjung Harapan, biaya dan waktu kirim naik, guncangan menekan rantai pasok, dan peta pelayaran ikut berubah.
Load more