Sisi Gelap Followership: Mengapa Ghislaine Maxwell Lebih Berbahaya dari Jeffrey Epstein?
- Divisi Layanan Peradilan Pidana Negara Bagian New York/Reuters
Oleh Pakar Followership Indonesia Muhsin B. Nurhadi
Followership Trailblazer Award Winner, GFC Canada.

- Istimewa
Kasus Epstein kembali menjadi sorotan global pada awal Februari 2026 ini sebab rilis besar-besaran jutaan dokumen (mega-dump files) investigasi yang sebelumnya dirahasiakan.
Sayangnya, mata dunia cenderung terpaku pada monster plus predator bernama Jeffrey Epstein namun abai pada sosok yang membuatnya tetap eksis "berjalan" yakni Ghislaine Maxwell.
Dalam diskursus kepemimpinan tradisional, Maxwell sering hanya dipandang sebagai kaki tangan dan loyalis. Namun, melalui lensa followership, kita menemukan realitas yang jauh lebih kelam.
Maxwell bukan sekadar pengikut, ia adalah bukti nyata bagaimana high-functioning followership yang kehilangan kompas moral dapat menjadi senjata pemusnah massal bagi integritas sosial maupun lingkaran elit sekalipun.
Maxwell bukan istri Epstein, melainkan rekan dekat, partner bisnis selama bertahun-tahun dan sering terlihat bersama di acara sosial.
Ia bertindak sebagai perekrut anak atau gadis-gadis muda dan pengatur pertemuan dengan para tokoh berpengaruh atau elite global. Maxwell dan Epstein memiliki hubungan dekat selama bertahun-tahun
Dalam studi leadership konvensional, kita sering terjebak pada bias bahwa pemimpin adalah aktor tunggal. Ini tentu keliru.
Sebagai praktisi followership ada aksioma fundamental: Leadership is Half the Story (Hurwitz, 2015). Dimana story sebagiannya ada peran followership.
Tanpa pengikut yang proaktif, cerdas, dan memiliki akses, seorang predator seperti Epstein hanyalah konglomerat penyendiri dengan delusi kebesaran (megalomania). Maxwell adalah sosok yang mengubah delusi itu menjadi industri kriminal global.
Akar Patologi: "The Making of a Toxic Follower"
Guna memahami mengapa Maxwell menjadi enabler yang begitu efektif, kita harus membedah "laboratorium" tempat ia belajar: hubungan dengan ayahnya, taipan media Robert Maxwell.
Pertama, Intergenerational Imprinting. Ghislaine kecil tumbuh sebagai "anak emas" di bawah bayang-bayang ayah yang tiran dan narsistik.
Ia dididik bukan untuk jadi pemimpin mandiri, melainkan untuk jadi "The Ultimate Support System" bagi pria berkuasa.
Ia belajar sejak dini bagaimana cara menyenangkan, melayani, dan menutupi jejak pimpinan yang cacat moral.
Kedua, Anxiety Status dan Kebutuhan Patronase. Setelah kematian ayahnya yang memilukan di tengah skandal keuangan, Maxwell kehilangan status dan perlindungan.
Baginya, Epstein adalah "Lifeboat" (Sekoci Penyelamat). Untuk mendapatkan kembali akses ke elit global, ia bersedia membayar dengan harga apa pun—termasuk nuraninya.
Ketiga, Social Laundering. Maxwell menggunakan modal sosialnya (pendidikan Oxford dan koneksi bangsawan) untuk melakukan "pencucian citra" Epstein.
Ia adalah follower yang cerdas secara strategis; ia tahu nilainya terletak pada kemampuannya membeli legitimasi dunia luar untuk Epstein.

- Netflix
Perversi "The Courageous Follower" Maxwell
Dalam teori yang dikembangkan Chaleff, 1995, seorang pengikut yang berani (Courageous Follower) didefinisikan melalui lima dimensi keberanian. Maxwell menunjukkan dua dimensi secara ekstrem, namun gagal total pada dimensi yang paling krusial.
Ia memiliki dimensi "Courage to Support" (Keberanian untuk Mendukung) dan dimensi "Courage to Serve" (Keberanian untuk Melayani) yang luar biasa.
Ia mengelola detail, membangun jejaring, dan memastikan visi pimpinannya tercapai tanpa cela. Namun ia secara sadar membuang "Courage to Challenge" (Keberanian untuk Menentang) dan "Courage to Take Moral Action".
Inilah yang saya sebut sebagai Followership Patologis. Ketika loyalitas seorang pengikut berubah menjadi instrumen untuk menutupi kejahatan pimpinan, ia bukan lagi seorang pengikut—ia adalah seorang "accomplice" atau kaki tangan yang berlindung di balik jubah profesionalisme.
"Intoxicating Followership": Mabuk Kekuasaan dan Bunuh Diri Moral
Guna memahami mengapa seseorang dengan latar belakang pendidikan dan kelas sosial setinggi Maxwell bisa terjerumus begitu dalam, kita harus merujuk pada pemikiran Wendy Edmonds dalam Intoxicating Followership (2017).
Edmonds, yang membedah tragedi Jonestown, menjelaskan bahwa pengikut dapat mengalami kondisi "mabuk" (intoxicated) oleh visi, akses, atau gaya hidup yang ditawarkan pemimpin.
Dalam kasus Maxwell, "alkohol" yang ia konsumsi adalah status sosial dan akses ke elit global yang disediakan oleh uang Epstein.
Kondisi ini menyebabkan disonansi kognitif. Maxwell membenarkan perilaku predatoris sebagai bagian dari "protokol eksklusivitas."
Membuat Moral Suicide (Bunuh Diri Moral). Seperti para pengikut di Jonestown, Maxwell mematikan nuraninya demi mempertahankan posisi di sisi sang pimpinan. Baginya, kehilangan Epstein berarti kehilangan identitas sosialnya.
Ini peringatan keras bagi dunia profesional: Saat pengikut merasa hampa atau "tidak ada apa-apanya" tanpa pimpinannya, di sanalah integritas mulai mati.
Khusus dalam kasus Maxwell, ini merupakan "Intoxication by Choice" (Mabuk karena Pilihan). Patut diduga Maxwell adalah aktor rasional yang memilih melepaskan nalar demi keuntungan pribadi.
Blunder "The Fixer": Relevansi Korporasi, Institusi dan Organisasi
Membawa kasus ini ke dalam konteks korporasi, institusi, maupun organisasi, kita melihat pola yang relevan dengan tantangan Good Corporate Governance (GCG), Good Governance (Tata Kelola Pemerintahan yang Baik) atau Good Public Governance.
Organisasi sering memuja sang "pemberes urusan" yang bisa mewujudkan keinginan atasan dengan cara apa pun. Meski tanpa integritas dan mengabaikan aturan.
Itu disebut jebakan pengikut tipe "The Fixer". Tanpa moralitas, the fixer ini adalah bom waktu yang bikin organisasi sebesar apapun keblinger lalu terperosok ke jurang kehancuran.
Loyalitas Institusional vs Personal. Loyalitas tipe the fixer seharusnya ditujukan kepada core values (seperti AKHLAK BUMN, BerAKHLAKnya ASN, Presisi POLRI, TNI PRIMA, dan sejenisnya), bukan kepada personalitas individu pemimpin.
Inilah sebabnya kita perlu memahami leaders-followers relation modelnya Chaleff. Pada model tersebut dinyatakan bahwa follower tak pernah melayani leader. Tapi yang dilayani adalah common-purpose organisasi.
Jika budaya organisasi secara instan menghukum mereka-mereka yang berkata "Tidak", maka Anda sedang menciptakan bibit Maxwell baru.
Followership merupakan lapis pertahanan terakhir. Mitigasi risiko tak hanya soal audit, tapi soal Psychological Safety. Jika followers merasa tak aman untuk mempertanyakan keputusan yang abu-abu, sistem audit secanggih apa pun akan gagal.
Pola followership yang sama dapat menyebabkan kehancuran finansial (seperti kasus Enron atau skandal korporasi besar lainnya), meski jenis atau modus kejahatannya berbeda.
The Skillset Paradox
Artikel ini tak bermaksud sedikitpun memoles kebobrokan dan tanggung jawab hukum seorang Jeffrey Epstein. Membedah karakter Maxwell bukan untuk "mengurangi" kesalahan Epstein, tapi justru menunjukkan bahwa pemimpin narsistik tak bisa berkuasa di ruang hampa.
Bahwa kejahatan Maxwell bukan karena ia tak kompeten, tapi justru karena ia sangat kompeten. Ini disebut sebagai "The Skillset Paradox".
Paradoks ini adalah serangan telak bagi budaya korporasi yang sering kali hanya melihat KPI performa tanpa melihat KPI perilaku (etika).
Ghislaine Maxwell membuktikan bahwa pengikut yang cerdas namun tanpa integritas jauh lebih berbahaya ketimbang pemimpin yang buruk. Skandal ini adalah kegagalan ekosistem leadership-followership.
Sudah saatnya dunia korporasi/institusi/organisasi berhenti mencari "pengikut yang patuh" dan mulai membina "pengikut yang berani" demi keberlangsungan sistem kerja yang sehat dan beretika.
Disclaimer: Artikel ini telah melalui proses editing yang dipandang perlu sesuai kebijakan redaksi tvOnenews.com. Namun demikian, seluruh isi dan materi artikel opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Load more