Puasa Sepuluh Hari Kedua
- tim tvonenews
BAGI pendaki spiritual yang tak ingin segera kehilangan momentum agungnya, hari hari di awal Ramadhan ini begitu cepat berlalu. Semua seakan sekelebat saja. Persis ketika kita mengedipkan mata, tiba-tiba kini kita memasuki sepuluh hari yang kedua di bulan puasa 2025.
Apa yang bisa kita dapatkan dari perjalanan rohani sepuluh hari yang pertama? Agaknya kita insaf, manusia, seperti pada asal penciptaannya adalah mahluk Tuhan yang selalu berorientasi pada kebaikan. Pada mulanya setiap manusia adalah baik dan punya kecenderungan pada kebaikan.
Tahun boleh berganti, zaman boleh berubah, raja dan pemimpin silih berganti, tapi kehanifan manusia selalu ajeg. Selalu ada sifat yang dititipkan Tuhan pada kita, sifat manusia yang selalu merindukan kebenaran. Jiwanya merasa tenang, hatinya tentram ketika mendapatkan kebenaran.
Lihat saja betapa semaraknya orang orang menyambut Ramadhan. Sepekan sebelum bulan agung ini tiba, sekolah sekolah mengadakan pawai, tarhib menyambut bulan yang suci ini. Mereka membuat spanduk "Ahlan Wa Sahlan ya Ramadhan 2025" dan banyak poster lain, lalu bersama sama membawanya keliling wilayahnya masing-masing.
- ANTARA
Pusat belanja mulai menghias toko tokonya dengan hiasan bernuansa Ramadhan, ada bulan dan bintang, pohon-pohon palem atau gambar gambar masjid yang indah. Tak ketinggalan lagu lagu religi dari Opick atau Bimbo diperdengarkan.
"Ada anak bertanya pada Bapaknya buat apa berlapar lapar puasa...." Salah satu lagu Bimbo yang selalu saya dengar di pusat pusat belanja saat jelang bulan puasa tiba dari pusat pusat belanja.
Lalu, semua orang asyik masyuk di depan televisi, menunggu pengumuman pemerintah soal awal Ramadhan. Tentu sambil sudah mengenakan baju koko dan peci seakan tak sabar ingin segera berlari ke masjid yang juga biasanya sudah bersiap menyambut jamaah dengan sukacita. Lantai sudah dipel, dindingnya dicat, karpetnya disemprot wewangian. Demikian di hadapan kemanusiaan yang hakiki, semua seperti rindu Ramadhan.
Kini ketika diminta Tuhan mendaki lebih tinggi dan lebih sulit di sepuluh hari yang kedua, kita bertemu ciri kemanusiaan yang lain: insan yang mudah lupa. Kini zamak kita lihat masjid masjid kini mengalami “kemajuan”. Syaf, barisan shalat yang pada awal awal puasa luber hingga ke halaman, semakin hari semakin maju ke depan. Kini setengah masjid saja sudah cukup untuk menampung jamaah. Dan kesibukan kita teralihkan kembali untuk hal-hal jangka pendek, sesuatu yang sebentar dan sementara.
Mufasir terkenal Abdullah Yusuf Ali mengatakan kelemahan manusia itu, sesuai dengan QS 75-20 (Surah Qiyamah): “Manusia suka tergesa-gesa dan segala yang tergesa gesa. Dengan alasan ini manusia menyandarkan imannya pada hal yang fana, yang datang dan pergi dan mengabaikan segala yang sifatnya lebih abadi, yang datangnya perlahan lahan, yang tujuan sebenarnya baru akan terlihat sepenuhnya di akhirat kelak”.
- ANTARA
Lalu kita pun sibuk kembali dengan baku hantam yang tidak esensial. Kita saling mencerca kembali di media sosial atau kembali sibuk menggunjing keburukan tetangga kita. Dalam konteks berbangsa, kita kembali terkuras energinya untuk pertengkaran-pertengkaran yang sesungguhnya tidak penting.
Kita ribut memperdebatkan, apakah Indonesia memasuki era kegelapan atau terang benderang. Masing-masing ngotot dengan argumennya. Kaum yang menyebut Indonesia tengah gelap gulita menyertakan sekian argumen yang seolah negeri ini sama sekali tak memiliki harapan sehingga jalan keluarnya ya hanya hijrah, meninggalkan saja untuk sementara waktu, persis ketika Nabi Muhammad meninggalkan Mekah untuk menyusun strategi baru dalam berdakwah.
Secara diametral, kaum penolaknya mencerca dengan argument bahwa tak ada yang salah dalam bernegara, Indonesia justru sedang dalam masa menyongsong masa kejayaan dengan tagline “Indonesia Emas” sambil menyebut pihak lain sebagai “tidak nasionalis”.

- Denden Ahdani/tvOne
Dalam beragama pun kita abai pada hikmah, lupa pada substansi. Kita misalnya baru saja sibuk memperdebatkan awal Ramadhan dalam sidang Isbat (dan seluruh energi ormas Islam seolah hanya soal membahas hal yang rutin seperti itu setiap tahun) dan sesaat lagi akan kembali bertengkar soal awal satu Syawal (Idul Fitri) karena masing masing kelompok hanya berpikir dalam kacamata kaumnya, jamaahnya saja.
Padahal umat Islam selalu diminta mencari hikmah atas segala sesuatu. Kita ditekankan untuk menemukan kebijakan dan pengetahuan dari peristiwa-peristiwa. Suatu ketika Ali bin Abi Thalib kepada muridnya berkata, “Hikmah itu barang berharga yang hilang dari seorang Mukmin. Karena itu di mana pun orang Mukmin menemukan hikmah, maka akan memungutnya. Ambilah hikmah itu, walaupun dari orang munafik”.
Lalu apa hikmah dari perhitungan tahun rembulan bagi umat Islam? Dengan ibadah mengikuti tahun rembulan, maka dipastikan ibadah puasa atau ibadah haji akan beredar ke semua musim. Keadilan tercipta bagi umat di seluruh dunia karena suatu saat puasa dan haji akan jatuh di musim panas dan di belahan bumi lain akan jatuh di musim dingin secara bergiliran. Desain Islam adalah agama untuk seluruh umat manusia, tidak peduli di mana ia tinggal, di belahan bumi utara maupun selatan.
Bayangkan jika ibadah puasa diterapkan berdasarkan kalender matahari, misalnya ditetapkan jatuh bulan Desember. Yang terjadi adalah orang-orang yang tinggal di bumi bagian utara akan selalu berpuasa di musim dingin yang sejuk dan pendek, sebaliknya mereka yang tinggal di bumi sisi selatan akan merasakan selamanya berpuasa dengan musim panas yang kering dan lama. Keadilan dengan demikian tercipta.
- ANTARA
Demikian pentingnya memandang segala hal dalam kaca mata hikmah. Dan kini ketika perjalanan ruhani sudah separuh jalan, kita di hadapkan pada kualitas ibadah kita masing-masing. Memang segala bentuk amalannya sama, lapar dan dahaganya sama, namun pemaknaannya berbeda antara setiap orang.
Bagaimana intensitas beribadah? Mungkin terlihat dari kisah puasanya Arya Panangsang. Alkisah ketika perang saudara antara Pajang dan Jipang tak terhindarkan, Sunan Kudus, sesepuh para wali memberikan ajian, resep spiritual pada Arya Panangsang jika ingin menang melawan Jaka Tinggir. Arya Panangsang harus menjalankan laku batin yang berat: berpuasa selama 40 hari empat puluh malam. Dalam tradisi Jawa disebut sebagai puasa “pati geni”.
Singkat kata, Arya Panangsang lalu meninggalkan Jipang menuju hutan belantara yang lebat dan sepi. Di sanalah Arya Panangsang merogoh sukmanya agar bercahaya. Ia menolak segala kenikmatan dunia dengan harapan satu hal: bisa merebut kembali haknya yang dirampas Joko Tingkir.
Arya sukses menjalankan puasa yang berat. Maka, pada hari yang keempat puluh ia pulang dengan disambut sebuah pesta besar. Layaknya pesta, berbagai makanan disertakan, termasuk juga minuman keras. Arya bagai kuda lepas dari kandang, memakan semua hidangan termasuk minuman keras. Ia menandaskan habis setiap minuman yang diberikan padanya. Semua undangan sempoyongan, termasuk Arya yang roboh di lantai.
Dan sudah bisa diduga, dalam perang yang paling menentukan, Panangsang tewas. Apa boleh buat kekuasaan Demak tetap ada di tangan Jaka Tingkir. Dan Sunan Kudus yang memantau semuanya dari jauh hanya menyesali sikap Panangsang yang seperti lepas dari pingitan. “Percuma semua. Percuma semua Panangsang,” ujar Sunan Kudus.
(Ecep Suwardaniyasa/Pemimpin Redaksi tvOnenews.com)
Load more