Diajak Gubernur Dedi Mulyadi, Begini Kata Menko PMK dan Menpar soal Revitalisasi Pendidikan Vokasi di Jabar
- Kolase tangkapan layar YouTube Lembur Pakuan Channel, tvOnenews.com/Taufik Hidayat & Kemenpar RI
Kota Bandung, tvOnenews.com - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno dan Menteri Pariwisata (Menpar), Widianti Putri Wadhana menanggapi ajakan dari Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi.
Pratikno dan Putri Wardhana menyoroti rencana besar Dedi Mulyadi. Gubernur Jabar ingin merevitalisasi pendidikan vokasi di Jabar.
Tidak sekadar itu, Dedi Mulyadi juga ingin merombak penyelenggaraan pelatihan vokasi di Jabar. Terkait hal ini, Pratikno dan Putri Wardhana memberikan responnya masing-masing.
Untuk Pratikno, Menko PMK itu justru mendukung aksi nyata revitalisasi pendidikan vokasi di Jabar. Menurutnya, langkah yang diambil KDM sangat tepat.
"Jangan sampai pendidikan kita justru mengajarkan keterampilan yang sudah tidak relevan lagi," ujar Pratikno dalam keterangannya, Jumat (24/4/2026).
Kenapa Menko PMK Pratikno Dukung Gebrakan Dedi Mulyadi Revitalisasi Pendidikan Vokasi di Jabar?
- Istimewa
Ia menjelaskan pendidikan dan pelatihan vokasi seharusnya sebagai ruang negara mencetak lulusan berkualitas. Nantinya, mereka ditempatkan sesuai kebutuhan pasar kerja.
Ia mengatakan, pihaknya sudah melakukan integrasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Balai Latihan Kerja (BLK) dengan dunia industri. Tujuannya tidak lain sebagai penyedia lapangan kerja bagi para lulusan vokasi.
"Revitalisasi ini, selain menyiapkan yang sesuai kebutuhan juga dapat memunculkan kesempatan pekerjaan-pekerjaan baru," terangnya.
Lebih lanjut, ia memberikan pendapatnya terkait pendidikan vokasi. Baginya, pendidikan ini tidak sekadar mencetak pencari kerja, namun juga mempersiapkan tenaga kerja agar berkecimpung di sektor teknologi, berbasis budaya, dan potensi lokal.
Pendapat Menpar soal Revitalisasi Pendidikan Vokasi di Jabar
- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Sementara, Menpar Widiyanti Putri Wardhana turut memberikan pendapatnya. Ia menyebut Kementerian Pariwisata dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi sudah membuat susunan terkait skema pendidikan vokasi.
Ia mengatakan bahwa, 438 skema pendidikan telah disusun. Hal itu tersebar dalam 34 bidang pariwisata.
Ia menilai penyusunan skema vokasi tersebut sangat tepat. Kehadiran ratusan skema ini sebagai fondasi strategis yang dibentuk oleh Kemenpar.
Kata dia, Kemenpar menginginkan setiap profesi di sektor pariwisata mempunyai standar kompetensi secara jelas. Tidak hanya itu, langkah ini sebagai upaya agar mereka diakui secara nasional.
"Jawa barat salah satu provinsi yang akan menjalankan pendidikan vokasi pada bidang pariwisata," ucap Menpar Widiyanti.
Dedi Mulyadi Bicara Angka Pengangguran
- jabarprov.go.id
Dalam kesempatan yang sama, Dedi Mulyadi menyinggung tentang angka pengangguran terutama di Jawa Barat. Ia membandingkan fenomena ini dari aspek pendidikan.
KDM menyebut pengangguran terdidik saat ini justru tercatat lebih dominan. Sementara, pendidikan yang rendah cukup ironis.
Ia menjelaskan, Jawa Barat sendiri sebagai provinsi yang memiliki segalanya. Sayangnya di tengah ketersediaan ini, banyak yang gagal memanfaatkan peluang yang ada.
Mantan Bupati Purwakarta ini memberikan contoh dari jumlah pembuat anyaman bilik bambu. Menurutnya, profesi sebagai pengrajin anyaman sudah jarang.
Hingga kini, KDM mengaku kesulitan menemukan pengrajin anyaman. Padahal permintaan saat ini semakin bertambah banyak.
Pria berusia 55 tahun ini juga menyoroti orang yang menekuni industri makanan tradisi. Menurutnya, profesi pada bagian ini juga semakin berkurang.
"Jumlah pemetik teh, pemetik kopi juga semakin menurun, padahal teh dan kopi memiliki nilai tinggi. Jadi sebenarnya pasar kerja itu bisa dibangun dalam ruang inovasi, termasuk vokasi yang dikembangkan menyesuaikan kearifan lokal," bebernya.
Maka dari itu, Dedi Mulyadi ingin merombak sistem pendidikan vokasi di Jabar. Ia meyakini revitalisasi ini mampu menjawab kebutuhan sesuai di lapangan.
Ia mempercayai peluang kerja terus terbuka lebar. Tidak hanya menyasar dalam negeri saja, tetapi juga para lulusan juga mampu bekerja di luar negeri.
(hap)
Load more