Rocker Naik Haji, Hikmah Berbakti kepada Sang Ibu Antarkan Didik Seket ke Tanah Suci
- Sandi Irwanto/tvOne
Surabaya, tvOnenews.com - Gemerlap hiburan malam hingga kerasnya musik cadas rock n roll mendadak ditinggalkan Didik Subiantoro, seorang rocker asal Surabaya, yang akhirnya menunaikan ibadah haji ke Baitullah.
Didik yang beken dengan nama panggung Seket Astakula ini, tercatat sebagai jemaah calon haji kloter 8 embarkasi Surabaya, yang dijadwalkan berangkat ke tanah suci bersama ibundanya.
Didik Subiantoro ini seorang rocker yang merupakan vokalis grup band rock "Rekles". Dia dikenal dengan penampilan panggungnya yang penuh energi.
Dan di luar kegiatannya sebagai anggota sebuah band, Didik 'Seket' juga kerap tampil solo, dalam setiap pertunjukannya yang banyak membawakan lagu-lagu bernuansa balada, cerita tentang kehidupan, alam yang bersahaja, yang di dalamnya seolah ada doa serta pelajaran berharga bagi siapapun yang mendengarnya.
Seperti Gulo Larang, Thithik Edhang, Atase Ngono Ae, Jungkar Jungkir, dan lirik lagu khas logat Suroboyoan lainnya. Ia menulis sendiri liriknya berbekal pengalaman hidup menghadapi berbagai macam peristiwa.
Pada musim haji 1447 H/2026, Didik mendapat undangan untuk datang ke rumah-Nya, tepat di usianya yang menginjak angka 50 tahun.
Sebagaimana nama yang disematkan padanya oleh seorang kawan sepermainan, sebutan Seket yang dalam bahasa Jawa memiliki arti lima puluh itu justru menyimpan hikmah serta makna mendalam.
"Tahun ini usia saya lima puluh tahun, ternyata ada rahasia Illahi di tahun ini juga alhamdulilah saya mendapat panggilan berhaji. Dan nama Seket ini dikasih teman saya, beliau senior waktu kuliah di Kampus Unitomo, namanya Cak Dismantoko," kata Didik saat ditemui di Asrama Haji Embarkasi Surabaya.
Dia terharu, bahkan seolah tak mampu berkata-kata selain ucapan syukur tanpa henti. Sebagai rocker, ia tak memungkiri apabila terkadang kala gemerlap hiburan kerap menjauhkan seseorang dari kehidupan religi. Namun, ia tak mau terlena dan tenggelam.
Di sela waktunya, ia memilih tinggal menemani ibunda sambil berkebun di Dusun Kemiri, Desa Pakukerto, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.
Di sana, ia menjalani kehidupan sederhana penuh makna demi rasa bakti kepada orang tua yang tinggal satu-satunya.
Kalau ada panggilan 'ngamen', Didik biasanya baru berangkat ke Surabaya. Uniknya, ia tak pernah menargetkan angka. Semua mengalir, penuh keikhlasan.
Dari sanalah, hatinya merasa tenang. Tanpa ada yang tahu, hari-harinya ia lukis sebagai perjalanan spiritual secara diam-diam.
"Alhamdulillah, rezeki selalu ada saja, tidak selalu berbentuk materi, tetapi juga kesehatan, hingga teman-teman yang memberikan doa serta dukungan," ucapnya.
Sampai kemudian, ia mendapat amanah untuk menemani sang ibunda ke Baitullah. Didik masuk daftar jemaah haji kloter 8 Embarkasi Surabaya yang berangkat ke Tanah Suci pada Jumat (23/4/2026).
"Haji ini saya menjadi pendamping ibu saya," katanya.
Ada rasa bahagia, bahwa di antara kesunyian waktu dan kesabaran, hikmah menjalankan rukun Islam penyempurna ibadah itu datang secara luar biasa bagi hamba-Nya yang bertakwa. (msi/muu)
Load more