Ketum Ormas GRIB Jaya Hercules Geram, Tantang Maruarar Sirait dan KAI soal Sengketa Lahan di Tanah Abang Milik Negara
- Kolase Antara & tvOnenews.com/Julio Trisaputra
Jakarta, tvOnenews.com - Ketua Umum ormas Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya, Hercules Rosario de Marshall kembali muncul. Ia kini menantang Menteri PKP, Maruarar Sirait (Menteri Ara).
Motif tantangan itu akibat Hercules murka. Hal ini berkaitan dengan polemik klaim sengketa lahan kosong seluas sekitar 34.690 meter persegi di Tanah Abang.
Tidak hanya menantang Menteri Ara, Hercules juga mengultimatum Direktur PT Kereta Api Indonesia (KAI), Boby Rasyidin. Tujuannya untuk membuktikan klaim kepemilikan lahan PT KAI di Tanah Abang.
Hercules menyampaikan pernyataan tantangan itu saat meninjau lokasi sengketa lahan diakui milik negara di Tanah Abang, Jumat (10/4/2026).
"Kalau memang di sini, barang ini punya negara, bawa bukti tunjuk di sini," ujar Hercules dalam siaran pers, Sabtu (11/4/2026).
Alasan Hercules Tantang Maruarar Sirait dan PT KAI
- Tangkapan layar YouTube GRIB TV
Hercules mempunyai alasan menantang Menteri Ara dan KAI. Pihaknya secara terbuka membela ahli waris, Sulaeman Effendi sebagai pihak yang sah memiliki lahan tersebut.
Hercules menambahkan, alasan Tim Hukum GRIB Jaya memperjuangkan hak kepemilikan kepada ahli waris. Pihaknya telah diberikan kuasa menyelesaikan polemik ini.
Hercules mendesak pembuktian kebenaran klaim tersebut. Setidaknya ada beberapa unsur yang harus ditunjukkan, termasuk Sertifikat Hak Pengelolaan Lahan (HPL).
"Semua kita kroscek agar semua benar oke. Mulai dari mana hak pakainya, dari mana HPL, dan dari mana asal-usulnya," tutur Hercules.
Hercules Siap Berdialog
Pentolan ormas GRIB Jaya itu menyatakan timnya siap membuka peluang ruang dialog. Pihaknya juga siap bertemu Menteri Ara hingga pihak PT KAI.
Mantan preman legendaris ini memahami tujuan kedatangan Menteri Ara. Hal ini berkaitan untuk pembangunan perumahan rakyat yang digencarkan Presiden Prabowo Subianto.
"Kalau ini program negara, program pemerintah, program Pak Presiden, ayo marilah kita berbicara secara baik-baik," ucapnya.
Presiden Prabowo sempat blusukan ke pinggir rel kereta api di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Prabowo tidak menyangka masih banyak permukiman tidak layak huni.
Ironisnya, banyak permukiman di bantaran rel kereta api. Prabowo menyampaikan janji kepada warga bahwa, pemerintah akan membangun rumah hunian layak.
Prabowo memutuskan pembangunan 1.000 unit rumah susun demi mewujudkan aspirasi masyarakat. Ia menargetkan penggunaan perumahan rakyat untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Hercules mendukung program itu. Ia bahkan sangat berpegang teguh pada pemerintahan di era Presiden Prabowo.
"Beliau itu berhati mulia, beliau itu seorang negarawan. Sebelum beliau jadi Presiden, beliau itu bilang akan hibahkan dia punya sisa umurnya kepada rakyat Indonesia," terangnya.
"(masyarakat) ada di belakang negara untuk bagaimana negara harus kuat, supaya Indonesia bisa aman, rakyat bisa tenang. Kalau negara tidak kuat, maka rakyat Indonesia tidak akan tenang dan makmur," lanjutnya.
Hercules Bantah Pernyataan Menteri Ara
Kemudian, mantan preman legendaris ini menyoroti pernyataan dilontarkan Menteri PKP. Ia tentu secara terbuka membantah narasi klaim lahan kosong tersebut adalah milik negara.
Lahan kosong tersebut sekitar 34.690 meter persegi. Lokasinya terletak di kawasan bekas bongkaran, di antaranya wilayah Kelurahan Kebon Melati dan Kelurahan Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Ia memahami betul dengan kondisi lahan kosong itu. Bukan tanpa alasan, Hercules bersama pihaknya telah menduduki tanah tersebut sejak lama.
"Bicara mengenai legalitas hak kepemilikan bahwa ini adalah PT Kereta Api karena saya tahu sekali tanah ini. Saya puluh-puluhan tahun saya di sini. Nah, tanah ini bukan punya kereta api," tegasnya.
Lahan Pernah Disewa Swasta
Hercules menjelaskan, sejak pihaknya menduduki di lahan tersebut, pihak swasta pernah menyewa tanah seluas 34.690 meter persegi itu.
Pihak swasta menyewa lahan kosong itu bertujuan untuk penggunaan usaha PT Aneka Beton. Adapun statusnya adalah HPL hingga 2017.
"Cuma pada saat itu swasta yang memakai tanah ini. Separuh dibangun untuk dibikinkan namanya PT Aneka Beton. Makanya ini dibikinkan sertifikat Hak Pakai," paparnya.
Seusai HPL mati, kata Ketum ormas GRIB Jaya itu, tentu hal ini menjadi bukti penyewaan lahan berakhir dan lahan kosong tersebut dikembalikan kepada pemilik asal.
Sementara, penguasaan fisik lahan kosong tersebut kembali dipegang oleh ahli waris. Dasar kepemilikan lahan ini berstatus Eigendom Verponding Nomor 946 Tahun 1923 atas nama Iljas Radjo Mentari.
Ia menegaskan, penguasaan lahan secara fisik masih jatuh pada ahli waris. Dari Pemberitahuan Mutasi ke-1 (PM1) dari Lurah pada 2007, Sulaeman tidak pernah menjual lahan yang sudah dimiliki lebih dari satu abad.
"Tanah ini tadinya dikuasai sama masyarakat di sekitarnya, tetapi sempat dibawa ke Polda Metro Jaya untuk dilaporkan pidana segala macam juga," imbuhnya.
Hercules Ogah Ormas GRIB Jaya Dicap Kuasai Sengketa Lahan
Dalam kesempatan itu, Hercules juga menyayangkan narasi bahwa ormasnya menduduki lahan secara ilegal. Tak ayal, GRIB Jaya kerap dituduh berkaitan dengan hal serupa.
Ia menegaskan, namun yang pasti ormas GRIB Jaya membela ahli waris demi memperjuangkan haknya. Ia kembali menepis bahwa lahan kosong itu bukan milik negara.
"Supaya masyarakat Indonesia biar tahu bahwa, 'Oh Hercules, ormas, preman menguasai lahan negara'. Tidak," ucapnya dengan tegas.
Hercules dan Maruarar Sirait Debat Panas
- Instagram @maruararsirait
Sebelumnya, Hercules didatangi Maruarar Sirait di lokasi bongkaran di kawasan Tanah Abang pada Minggu (5/4/2026). Menteri Ara meninjau lahan kosong itu bersama sejumlah jajaran, mulai dari Dirut PT KAI, Bobby Rasyidin hingga Kepala BP BUMN, Dony Oskaria.
Kedatangan Menteri Ara mempercepat rencana pembangunan hunian bagi MBR. Menteri PKP itu sempat bertanya untuk memastikan status hukum lahan kosong tersebut dimiliki PT KAI.
Namun Bobby menjawab dengan melontarkan pernyataan mengejutkan. Dirut PT KAI itu mengatakan, lahan kosong itu dikuasai secara ilegal oleh ormas GRIB Jaya.
Di momen itu, Hercules tidak ingin sembarangan menyerahkan lahan tersebut. Ia siap menyerahkan apabila sengketa lahan kosong itu telah sah dimiliki negara, terutama KAI.
(hap)
Load more