Alarm Campak di Indonesia: 8.372 Kasus Terkonfirmasi dan 6 Anak Meninggal, Mayoritas Belum Pernah Imunisasi
- Freepik
Jakarta, tvOnenews.com - Kasus campak kembali menjadi perhatian serius di Indonesia setelah lonjakan penularan terjadi pada akhir 2025 hingga awal 2026. Meski tren kasus mulai menunjukkan penurunan pada akhir Februari, pemerintah tetap mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
Data Kementerian Kesehatan mencatat sejak minggu pertama hingga minggu ke-8 tahun 2026 atau hingga akhir Februari, terdapat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak yang terjadi di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi di Indonesia.
Dalam periode tersebut, tercatat 10.453 kasus suspek campak, dengan 8.372 kasus telah terkonfirmasi positif. Angka ini menunjukkan bahwa penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi ini masih menjadi ancaman serius, terutama bagi anak-anak.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pencegahan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni, menyebutkan bahwa meskipun kasus sempat meningkat di awal tahun, tren penularan mulai melandai menjelang akhir Februari.
Menurutnya, jumlah kasus pada Januari 2026 memang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Namun, pada Februari, angka kasus mulai turun dan relatif lebih rendah dibandingkan Februari pada tahun sebelumnya.
Enam Anak Meninggal akibat Komplikasi Campak
Di tengah lonjakan kasus tersebut, Kementerian Kesehatan juga melaporkan adanya enam kasus kematian akibat campak sepanjang 2026. Seluruh kasus kematian tersebut terjadi pada anak usia balita.
Kematian umumnya terjadi akibat komplikasi serius dari penyakit campak, di antaranya:
-
Diare berat
-
Pneumonia atau radang paru-paru
Yang menjadi perhatian, seluruh anak yang meninggal tersebut tidak memiliki riwayat imunisasi campak sama sekali.
Pemerintah menegaskan bahwa imunisasi campak sangat penting untuk mencegah infeksi berat. Vaksin campak diberikan minimal dua kali, yaitu pada usia 9 bulan dan 18 bulan.
Tanpa perlindungan imunisasi, risiko komplikasi hingga kematian akibat campak menjadi jauh lebih tinggi, terutama pada bayi dan balita.
Puluhan Daerah Jalankan Imunisasi Penanganan Wabah
Sebagai respons terhadap lonjakan kasus di sejumlah wilayah, pemerintah segera menjalankan program ORI (Outbreak Response Immunization) atau imunisasi penanganan wabah.
Program ini ditujukan untuk menekan penyebaran campak di daerah yang mengalami KLB maupun wilayah yang berisiko tinggi.
Secara keseluruhan terdapat 102 kabupaten/kota yang ditetapkan sebagai lokasi pelaksanaan ORI dan imunisasi kejar.
Rinciannya meliputi:
-
29 kabupaten/kota yang mengalami KLB campak
-
73 kabupaten/kota lainnya yang masuk kategori wilayah berisiko tinggi penularan
Program imunisasi ini menargetkan anak usia 9 bulan hingga 59 bulan.
Pelayanan imunisasi dilakukan melalui berbagai fasilitas kesehatan, di antaranya:
-
Puskesmas
-
Posyandu
-
Sekolah
-
Tempat ibadah
-
Kunjungan rumah
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan cakupan imunisasi serta memutus rantai penularan campak di masyarakat.
Layanan Imunisasi Disiapkan di Jalur Mudik
Pemerintah juga mengantisipasi potensi peningkatan penularan campak selama periode mudik Lebaran, ketika mobilitas masyarakat meningkat tajam.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Kementerian Kesehatan menyiapkan layanan imunisasi di sejumlah titik perjalanan mudik, antara lain:
-
Pelabuhan
-
Bandara
-
Stasiun kereta api
-
Balai karantina kesehatan
Langkah ini bertujuan memastikan anak-anak tetap dapat memperoleh imunisasi meskipun sedang melakukan perjalanan jauh bersama keluarga.
Stok Vaksin Campak Nasional Dipastikan Aman
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Rizka Andalucia, memastikan bahwa ketersediaan vaksin campak di Indonesia saat ini dalam kondisi aman dan mencukupi.
Secara nasional, pemerintah memiliki:
-
9,5 juta dosis vaksin campak yang tersimpan di pusat
-
6,6 juta dosis vaksin yang telah didistribusikan ke berbagai daerah
Ketersediaan vaksin tersebut digunakan untuk mendukung berbagai program imunisasi, termasuk:
-
ORI (imunisasi penanganan wabah)
-
Imunisasi kejar
-
Imunisasi rutin
-
Pelayanan tambahan selama periode mudik
Pemantauan stok vaksin dilakukan secara real time melalui sistem Satu Sehat Logistik.
Saat ini, distribusi vaksin menunjukkan kondisi sebagai berikut:
-
23 provinsi memiliki stok vaksin untuk 2–5 bulan
-
9 provinsi memiliki stok untuk 5–7 bulan
-
6 provinsi memiliki stok lebih dari 7 bulan
Dengan kondisi tersebut, seluruh provinsi dipastikan memiliki ketersediaan vaksin minimal untuk dua bulan ke depan.
Hoaks Vaksin Masih Jadi Tantangan
Meski stok vaksin mencukupi, pemerintah mengakui bahwa pelaksanaan imunisasi masih menghadapi sejumlah tantangan di lapangan.
Beberapa kendala yang sering ditemui antara lain:
-
Kondisi geografis yang sulit dijangkau
-
Mobilitas penduduk yang tinggi
-
Kecepatan pelaksanaan imunisasi
Selain itu, penyebaran informasi keliru atau hoaks mengenai vaksin juga masih menjadi hambatan serius.
Masih terdapat sebagian orang tua yang ragu memberikan vaksin kepada anak mereka karena terpengaruh informasi yang tidak benar.
Padahal, pemerintah memastikan bahwa vaksin campak-rubela yang digunakan di Indonesia aman dan efektif. Vaksin tersebut telah melalui berbagai uji keamanan serta mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan memenuhi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Efek samping setelah imunisasi juga umumnya ringan, seperti demam ringan atau ruam, yang biasanya hilang dalam waktu 24 jam.
Campak Sangat Mudah Menular
Campak merupakan salah satu penyakit menular yang sangat cepat menyebar. Satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus kepada 12 hingga 18 orang lainnya.
Gejala campak biasanya meliputi:
-
Demam tinggi
-
Batuk dan pilek
-
Mata merah
-
Ruam kemerahan pada kulit
Jika gejala tersebut muncul, masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Penderita campak juga dianjurkan membatasi aktivitas di luar rumah serta menghindari kerumunan agar tidak menularkan penyakit kepada orang lain, terutama anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi.
Dengan langkah pencegahan yang tepat serta peningkatan cakupan imunisasi, penyebaran campak di Indonesia diharapkan dapat terus ditekan. (nsp)
Load more