Dinasti Kekuasaan Keluarga Mas’ud Menguasai Kaltim Jadi Sorotan, Dari Kursi Gubernur hingga DPR RI
- istimewa
Ekspansi Kekuasaan hingga Level Kota
Gurita kekuasaan keluarga Mas’ud tidak berhenti di provinsi. Kakak Rudy lainnya, Rahmad Mas’ud, saat ini menjabat sebagai Wali Kota Balikpapan. Artinya, salah satu kota strategis dan pusat ekonomi di Kalimantan Timur juga berada dalam kendali keluarga yang sama.
Kondisi ini memperkuat persepsi publik bahwa kekuasaan keluarga Mas’ud terentang dari provinsi hingga kota, menciptakan jejaring politik yang sulit ditembus kekuatan lain.
Istri Duduk di Senayan
Dinasti ini kian lengkap dengan kehadiran sang istri, Syarifah Suraidah Harum, di parlemen nasional. Ia resmi dilantik sebagai anggota DPR RI periode 2024–2029, menggantikan posisi Rudy Mas’ud yang maju dalam kontestasi Pilkada Kaltim.
Kombinasi jabatan gubernur, ketua DPRD provinsi, wali kota, hingga anggota DPR RI dalam satu keluarga inilah yang memunculkan julukan khusus dari warganet: “Bani Mas’ud.” Istilah tersebut ramai digunakan di kolom komentar media sosial sebagai simbol dominasi politik satu keluarga di Kalimantan Timur.
Kritik Warganet dan Sorotan Jabatan Kerabat
Di media sosial, kritik warganet tak hanya berhenti pada nama-nama utama. Sejumlah komentar menyinggung keberadaan kerabat lain—ponakan, ipar, hingga sepupu—yang disebut-sebut juga menduduki jabatan strategis di berbagai organisasi dan lembaga daerah.
Ungkapan seperti “menyala Kaltim” hingga sindiran soal gaya hidup mewah menjadi gambaran kegelisahan publik terhadap konsentrasi kekuasaan yang dinilai berlebihan.
Bayang-Bayang Kasus Korupsi Abdul Gafur Mas’ud
Di tengah kekuatan politik yang masif, keluarga Mas’ud juga memiliki catatan kelam. Adik bungsu Rudy, Abdul Gafur Mas’ud (AGM), pernah terseret kasus korupsi saat menjabat sebagai Bupati Penajam Paser Utara. Ia terjaring Operasi Tangkap Tangan oleh KPK terkait suap pengadaan barang, jasa, dan perizinan.
Majelis Hakim Tipikor Samarinda menjatuhkan vonis 6 tahun penjara kepada AGM. Kerugian negara akibat kasus tersebut ditaksir mencapai Rp14,4 miliar. Kasus ini menjadi noda serius yang terus membayangi reputasi politik keluarga Mas’ud hingga kini.
Load more