Indonesia Terancam Krisis Air, AHY Ungkap 70 Persen Sungai RI Tercemar
- tvOnenews/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com - Pemerintah mengungkap fakta mencemaskan tentang kondisi sumber daya air nasional. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyatakan 70 persen sungai di Indonesia kini dalam kondisi tercemar, di tengah tingginya kebutuhan air untuk berbagai sektor.
AHY memaparkan, konsumsi air nasional saat ini masih didominasi sektor irigasi.
“Saat ini, penggunaan air di Indonesia didominasi oleh irigasi sebesar 74 persen, diikuti kebutuhan rumah tangga 9 persen, industri 6 persen, dan komersial 3 persen,” ujar AHY, dalam Water Townhall Meeting di Jakarta, dikutip Rabu (25/2/2026).
Di balik tingginya kebutuhan tersebut, Indonesia menghadapi persoalan struktural yang belum terselesaikan, terutama ketimpangan antara pasokan dan permintaan air.
“Masalah utama yang kita hadapi adalah ketimpangan antara suplai dan permintaan, terutama di Pulau Jawa yang dihuni oleh sekitar 150 juta penduduk,” ungkapnya.
Persoalan tidak hanya berhenti pada kuantitas, tetapi juga kualitas. Kondisi sungai nasional dinilai semakin mengkhawatirkan.
“Selain itu, pencemaran air menjadi kendala besar di mana 70 persen sungai nasional kita mengalami polusi,” tuturnya.
Dari sisi kapasitas penyimpanan, Indonesia juga tertinggal dibanding negara tetangga. Kapasitas tampungan air per kapita Indonesia baru mencapai 71 meter kubik, jauh di bawah angka ideal 100–150 meter kubik per kapita, serta di bawah Thailand dan Vietnam.
“Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam, kapasitas penyimpanan air per kapita kita masih sangat rendah, yakni hanya 71 meter kubik per kapita, padahal angka idealnya berada di kisaran 100 hingga 150 meter kubik per kapita,” imbuhnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah menyiapkan strategi terpadu yang disebut AHY sebagai “Warung Jamu”.
“Saya sebut sebagai Warung Jamu, yang merupakan akronim dari Waktu, Ruang, Jumlah, dan Mutu,” jelasnya.
Dari aspek waktu, pemerintah akan mendorong pembangunan bendungan, kolam retensi, serta groundwater recharge guna mengelola kelebihan air saat musim hujan dan kekurangan saat kemarau. Dari sisi ruang, konektivitas sumber air dan pusat populasi diperkuat melalui transmisi pipa dan inter-basin transfer.
“Dari sisi jumlah, ekspansi penyimpanan dan teknologi desalinasi terutama untuk daerah pesisir harus ditingkatkan,” imbuhnya.
“Sementara dari sisi mutu, pengelolaan sampah dan limbah serta monitoring kualitas air harus dilakukan secara berkelanjutan untuk menjaga kesehatan masyarakat,” imbuh AHY.
Ia menegaskan penguatan ketahanan air tidak bisa dilakukan pemerintah semata. Kolaborasi lintas sektor mutlak diperlukan, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, akademisi, masyarakat sipil hingga media.
“Apa yang kita lakukan hari ini bukan hanya untuk kita sendiri, melainkan untuk menyelamatkan masa depan negeri dan dunia,” tandas dia. (agr)
Load more