Bersurat ke UNICEF, Ketua BEM UGM Harap Peristiwa Anak SD Bunuh Diri di NTT dan MBG Jadi Percakapan Pemimpin Dunia
- Instagram @bem.ugm
Jakarta, tvOnenews.com - Setelah bersurat ke UNICEF, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto berharap peristiwa anak SD bunuh diri di NTT dan persoalan Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa menjadi percakapan dunia.
Dalam suratnya yang diunggah secara terbuka di Instagram @bem.ugm pada 6 Februari 2026 lalu, BEM UGM menyoroti peristiwa anak SD bunuh diri di NTT karena tidak mampu membeli alat tulis seharga Rp10 ribu.
BEM UGM menilai peristiwa tersebut mencerminkan kegagalan negara dalam menjamin hak dasar anak khususnya hak pendidikan.
Dituliskan juga dalam surat tersebut bahwa Presiden RI Prabowo Subianto memangkas anggaran pendidikan untuk MBG.
Menurutnya, program MBG merupakan sebuah kebijakan yang berisiko menghabiskan anggaran tinggi dan berpotensi menyebabkan keracunan makanan.
“Dan yang terpenting, tolong sampaikan kepada Prabowo Subianto betapa bodohnya dirinya sebagai seorang Presiden. Kebodohannya telah melahirkan masalah-masalah mendasar yang berujung pada hilangnya nyawa tak bersalah—sebuah kejahatan yang tak termaafkan terhadap kemanusiaan,” demikian potongan paragraf dalam surat tersebut.
Di tayangan YouTube Abraham Samad SPEAK UP berjudul “Diteror & Dapat Ancaman Pembunuhan. Ketua BEM UGM: MBG, Maling Berkedok Gizi? | #SPEAKUP” pada 19 Februari 2026 lalu, Tiyo ditanya apa harapannya usai mengirimkan surat tersebut.
Tiyo pun menjawab dengan tegas dia ingin suratnya menjadi percakapan publik pemimpin-pemimpin dunia.
“Yang mengendalikan kekuasaan itu mestinya percakapan publik. Menghendaki MBG atau pendidikan itu yang seharusnya mengendalikan kekuasaan kita. Kekuasaan kita ini berjarak dengan percakapan publik di realitas sosial masyarakat,” katanya.
“Sehingga meletakkan isu ini ke UNICEF adalah upaya untuk menjadiannya bagiannya dari percakapan publik pemimpin-pemimpin dunia karena presiden kita sudah me-makeup diri di depan pemimpin-pemimpin dunia. Bertemu Trump, Netanyahu, Jinping,” sambungnya.
Tiyo berharap pemimpin-pemimpin dunia ada yang membahasnya lalu memberitahukannya ke Prabowo.
“Saya harap mereka pas ngopi ngasih tahu ke presiden kita. ‘Eh kok ada yang kirim surat katanya kamu enggak kompeten’. Saya yakin presiden enggak tahu itu (surat) ada. Kita butuh kanal-kanal untuk sampai ke telinga presiden,” ucap Tiyo.
Load more