Waspada Berburu Takjil! BBPOM Jakarta Bongkar Ciri-Ciri Jajanan Berbahaya yang Wajib Dihindari
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Menyambut bulan suci Ramadan, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Jakarta mengingatkan masyarakat untuk lebih selektif dalam membeli kudapan berbuka puasa atau takjil.
Keamanan pangan menjadi poin utama agar ibadah puasa tidak terganggu oleh masalah kesehatan.
Kepala BBPOM Jakarta, Sofiyani Chandrawati, membagikan sejumlah tips praktis bagi pemburu takjil.
Ia menekankan pentingnya memilih makanan yang masih segar dan disajikan dalam wadah tertutup. Masyarakat juga diminta jeli memperhatikan aroma dan tampilan fisik makanan. Pastikan takjil tidak mengeluarkan bau asam, apek, atau aroma menyengat yang mencurigakan.
Selain aroma, visual makanan juga menjadi kunci. Sofiyani menyarankan untuk menjauhi makanan dengan warna yang tampak terlalu mencolok atau tidak wajar.
Tak kalah penting, konsumen harus memperhatikan kebersihan lingkungan tempat berjualan serta higienitas penjualnya.
Langkah preventif ini diambil bukan tanpa alasan. Berdasarkan data BBPOM DKI Jakarta pada sentra takjil dan ritel modern tahun 2025, ditemukan fakta bahwa dari 147 sampel yang diuji, terdapat enam sampel atau sekitar 4,1 persen yang dinyatakan tidak memenuhi syarat.
Meski sebagian besar (95,9 persen) aman dikonsumsi, temuan tersebut tetap menuntut kewaspadaan ekstra.
Beberapa lokasi yang menjadi fokus pengawasan tahun lalu meliputi titik-titik keramaian, seperti Pasar Benhil, Pasar Rawamangun, hingga kawasan Masjid Akbar Kemayoran.
Jenis pangan yang kerap diuji laboratorium antara lain mie kuning, tahu, dan kue mangkok yang rentan dicampur bahan kimia berbahaya.
Tahun ini, BBPOM Jakarta dipastikan kembali turun ke lapangan untuk memantau keamanan pangan di pasar-pasar takjil, meskipun jadwal dan lokasi detailnya masih dirahasiakan untuk kepentingan inspeksi mendadak.
Namun, pengawasan terhadap rantai distribusi pangan skala besar sudah dilakukan lebih awal.
Targetnya menyasar supermarket, importir, hingga distributor guna memastikan stok pangan olahan aman sebelum sampai ke tangan konsumen.
"Sudah mulai dari tanggal 18 Februari 2026," ujar Sofiyani saat dikonfirmasi, Minggu (22/2).
Dengan adanya pengawasan intensif ini, diharapkan masyarakat bisa menjalankan ibadah puasa dengan lebih tenang dan terhindar dari risiko pangan bermasalah. (ant/dpi)
Load more