IHSG Anjlok hingga 8 Persen, DPP GMNI: Alarm Bahaya!
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com - Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) soroti anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
IHSG anjlok 8 persen hingga memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara perdagangan (trading halt).
DPP GMNI menilai peristiwa ini sebagai peringatan serius atas rapuhnya fondasi
kepercayaan ekonomi nasional.
Ketua DPP GMNI, Sujahri Somar, menegaskan bahwa guncangan pasar modal selalu memiliki implikasi yang jauh lebih luas dari sekadar angka indeks. Ketika kepercayaan investor runtuh, efeknya akan merambat ke sektor riil, dunia kerja, dan pada akhirnya kehidupan sosial masyarakat.

- Istimewa
“Pasar bukan sedang bereaksi berlebihan. Pasar sedang membaca arah kebijakan. Ketika
sinyal yang ditangkap adalah ketidakpastian, maka yang terjadi bukan koreksi biasa, tapi
kepanikan yang sistemik,” tegas Sujahri.
Menurut GMNI, sentimen eksternal seperti isu penyesuaian kebijakan indeks global oleh
MSCI memang menjadi pemicu awal.
Namun, dampak tersebut menjadi jauh lebih destruktif karena lemahnya persepsi terhadap independensi Bank Indonesia sebagai benteng terakhir stabilitas ekonomi nasional.
“Masalahnya bukan hanya MSCI. Masalahnya adalah ketika benteng moneter kita dipersepsikan tidak lagi netral. Dalam kondisi seperti itu, satu sentimen negatif kecil bisa berubah menjadi gelombang besar,” ujar Sujahri.
Sujahri menjelaskan bahwa independensi bank sentral bukan isu elitis, melainkan soal
kepercayaan publik dan pasar.
Bank sentral yang dipersepsikan dekat dengan kekuasaan politik akan selalu dicurigai mengambil keputusan berdasarkan kepentingan jangka pendek, bukan stabilitas jangka panjang.
“Investor butuh kepastian bahwa kebijakan moneter dibuat dengan kepala dingin, bukan
dengan pertimbangan politik. Begitu keyakinan itu hilang, modal akan mencari tempat yang
lebih aman,” katanya.
GMNI menilai derasnya arus keluar modal asing (capital outflow) dan tekanan terhadap
pasar keuangan menjadi pemicu awal krisis ekonomi. Jika kondisi ini dibiarkan, dampaknya
akan menjalar ke sektor perbankan, pembiayaan usaha, hingga daya beli masyarakat.
“Krisis ekonomi selalu dimulai dari krisis kepercayaan. Dan krisis kepercayaan selalu dimulai dari kebijakan yang tidak transparan,” tegas Sujahri.
Lebih jauh, DPP GMNI mengingatkan bahwa krisis ekonomi tidak pernah berhenti di ruang
pasar. Sejarah menunjukkan, ketika stabilitas ekonomi terguncang, kelompok masyarakat
paling rentan akan menjadi korban pertama.
Load more