Kemenkes Tegaskan Situasi Influenza di Indonesia Masih Terkendali, Tidak Lebih Parah dari Flu Musiman
- pexels.com/Andrea Piacquadio
Jakarta, tvOnenews.com - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menegaskan bahwa situasi influenza di Indonesia hingga akhir Desember 2025 masih berada dalam kondisi terkendali. Pemerintah memastikan tidak ada peningkatan tingkat keparahan, termasuk dari influenza A(H3N2) subclade K yang saat ini menjadi perhatian global.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menyampaikan bahwa berdasarkan hasil pemantauan nasional dan global, subclade K tidak menunjukkan karakteristik yang lebih berbahaya dibandingkan clade atau subclade influenza lainnya. Tingkat keparahan penyakit, pola penyebaran, hingga manifestasi klinisnya masih sejalan dengan influenza musiman.
“Penilaian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan data epidemiologi yang tersedia menunjukkan bahwa influenza A(H3N2) subclade K tidak menyebabkan peningkatan keparahan. Gejalanya masih serupa dengan flu pada umumnya,” ujar dr. Prima, dikutip dari laman resmi Kemenkes.
Secara global, peningkatan kasus influenza A(H3) mulai terpantau di Amerika Serikat sejak minggu ke-40 tahun 2025, bertepatan dengan masuknya musim dingin. Subclade K sendiri pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025. Hingga kini, varian tersebut telah dilaporkan beredar di lebih dari 80 negara.
Di kawasan Asia, subclade K terdeteksi sejak Juli 2025 di sejumlah negara, antara lain Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand. Meski influenza A(H3) menjadi varian dominan di kawasan tersebut, tren kasus justru menunjukkan penurunan dalam dua bulan terakhir. Kondisi ini menjadi salah satu indikator bahwa penyebaran virus masih dapat dikendalikan melalui sistem kesehatan yang ada.
Situasi serupa juga terjadi di Indonesia. Hasil surveilans nasional menunjukkan bahwa influenza A(H3) menjadi varian yang paling banyak ditemukan. Namun, tren kasus influenza nasional tercatat menurun dalam dua bulan terakhir. Temuan ini memperkuat kesimpulan bahwa tidak terjadi lonjakan signifikan kasus influenza di Tanah Air.
Berdasarkan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang diselesaikan pada 25 Desember 2025, subclade K telah terdeteksi di Indonesia sejak Agustus 2025. Deteksi dilakukan melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI yang tersebar di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di sejumlah daerah.
“Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi. Kasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat,” jelas dr. Prima.
Ia menambahkan, mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak. Meski demikian, sebagian besar pasien mengalami gejala ringan hingga sedang dan dapat pulih dengan perawatan standar influenza tanpa komplikasi berat.
Secara keseluruhan, dari 843 spesimen positif influenza yang diperiksa sepanjang periode surveilans, sebanyak 348 sampel telah menjalani pemeriksaan WGS. Hasilnya menunjukkan bahwa seluruh varian yang terdeteksi merupakan varian yang telah dikenal dan saat ini beredar secara global dalam sistem surveilans WHO.
Kemenkes RI memastikan akan terus memperkuat sistem surveilans, pelaporan, serta kesiapsiagaan di seluruh wilayah Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi perubahan dinamika virus influenza, termasuk potensi mutasi atau peningkatan kasus di masa mendatang.
Selain upaya pemerintah, Kemenkes juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada tanpa perlu panik. Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dinilai menjadi langkah utama dalam mencegah penularan influenza. Masyarakat juga dianjurkan menjaga daya tahan tubuh melalui pola makan bergizi, istirahat cukup, dan aktivitas fisik teratur.
Vaksinasi influenza tahunan juga direkomendasikan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, serta penderita penyakit penyerta. Kemenkes menegaskan bahwa vaksin influenza tetap efektif dalam mencegah sakit berat, rawat inap, hingga kematian akibat komplikasi influenza.
Selain itu, masyarakat diminta untuk tetap berada di rumah saat mengalami gejala flu, menggunakan masker, menerapkan etika batuk dan bersin, serta segera mengakses fasilitas pelayanan kesehatan apabila gejala memburuk atau tidak membaik setelah lebih dari tiga hari. Dengan langkah pencegahan yang konsisten, pemerintah optimistis situasi influenza di Indonesia akan tetap terkendali. (nsp)
Load more