Bahlil Bidik Papua Jadi Lumbung Energi Nabati Nasional, Etanol Disiapkan Tekan Impor BBM
- Tim tvOnenews/Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com — Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, membuka wacana menjadikan Papua sebagai basis produksi energi nabati nasional, khususnya bahan baku etanol, guna menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).
Gagasan tersebut disampaikan Bahlil usai mengikuti pengarahan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (16/12/2025).
Ia menilai Papua memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat produksi etanol berbasis komoditas pertanian.
“Saya pikir Papua salah satu wilayah yang bisa dijadikan sebagai bagian dari produksi bahan baku etanol,” kata Bahlil, kepada media, dikutip Rabu (17/12/2025).
Menurut Bahlil, pengembangan etanol di Papua sejalan dengan arahan Presiden Prabowo terkait percepatan swasembada energi nasional, khususnya melalui optimalisasi energi terbarukan berbasis nabati.
Ia menegaskan ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin masih cukup tinggi, sehingga diperlukan terobosan struktural melalui kebijakan mandatori pencampuran etanol ke dalam BBM.
Pemerintah, kata Bahlil, akan mendorong penerapan campuran etanol pada bensin secara bertahap, mulai dari E10, E20 hingga E30. Program mandatori E10 atau campuran etanol 10 persen pada bensin ditargetkan mulai diterapkan pada 2027.
Bahlil menjelaskan, bahan baku etanol dapat berasal dari berbagai komoditas pertanian yang melimpah di Indonesia, termasuk yang potensial dikembangkan di Papua.
“Etanol itu dari mana? Dari singkong, jagung, kemudian tebu dan berbagai bahan baku lain,” ucap Bahlil.
Selain etanol, pemerintah juga terus memperkuat program biodiesel. Bahlil menyebut saat ini Indonesia telah menjalankan program B40 dan tengah menyiapkan peningkatan ke B50 pada 2026.
Program tersebut merupakan campuran solar dengan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang berasal dari minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) serta metanol.
Dengan rencana peningkatan ke B50, kebutuhan bahan baku energi nabati dipastikan akan melonjak signifikan.
“Ke depan, kita mau dorong B50, maka potensi untuk penambahan bahan baku kan semakin tinggi,” ujarnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM melalui pengembangan energi nabati di Papua.
Prabowo menilai Papua memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas energi berbasis pertanian, seperti kelapa sawit, singkong, dan tebu.
Load more