District Blok M Sepi Ditinggal Pedagang UMKM Karena Polemik Harga Sewa, Pengunjung: Blok M Jadi Kehilangan Identitas Kulinernya
- Julio Trisaputra/tvOnenews
Jakarta, tvOnenews.com – Polemik antara Koperasi Pedagang Pasar Pusat Melawai (Kopema) dengan PT MRT Jakarta soal harga sewa kios di District Blok M kini menjadi sorotan publik.
Pedagang menilai tarif yang ditetapkan terlalu tinggi dan berisiko menyingkirkan usaha kecil, sehingga puluhan tenant memutuskan angkat kaki.
Di tengah tarik ulur itu, pengunjung Blok M merasa khawatir kawasan legendaris tersebut kehilangan identitasnya. Bagi mereka, District Blok M bukan sekadar tempat cobain kuliner atau transit, melainkan ruang hidup yang unik karena keberagaman tenant—dari UMKM hingga merek besar.
Rani Kumala, seorang karyawan swasta berusia 27 tahun, kerap menghabiskan waktu bersama teman-temannya di Blok M. Baginya, daya tarik kawasan itu terletak pada keberagaman dan suasana khas yang sulit ditemukan di tempat lain.
“Sebagai pengunjung sih saya agak sayang ya kalau pedagang kecil di District Blok M sampai tertekan karena harga sewa yang mahal. Justru daya tarik Blok M itu kan karena ada campuran antara brand besar dan UMKM, jadi kalau yang kecil-kecil pada hilang rasanya vibe-nya bakal beda,” ujarnya.
Menurut Rani, pemerintah maupun pengelola seharusnya bisa menghadirkan solusi yang adil agar UMKM tetap bertahan tanpa mengorbankan pengembangan kawasan.
Kekhawatiran juga datang dari Sri Wahyuni, 42 tahun, seorang ibu rumah tangga yang sering mengajak anak-anaknya beraktivitas di sekitar stasiun MRT. Baginya, pedagang kecil punya peran penting karena menyediakan jajanan sederhana dengan harga bersahabat.
“Pedagang kecil biasanya jadi tempat kita beli jajanan murah meriah. Kalau mereka sampai tersingkir karena harga sewa tinggi, pengunjung seperti saya jadi kehilangan pilihan,” tuturnya.
Sri berharap, pihak pengelola tidak hanya memikirkan brand besar, tetapi juga kebutuhan masyarakat luas yang selama ini menjadi pengunjung setia kawasan itu.
Bagi sebagian pengunjung lainnya, dampak paling nyata dari hengkangnya puluhan tenant adalah berkurangnya ragam kuliner khas Blok M.
Andi Pratama (30), seorang pegawai bank dan pecinta kuliner, menyayangkan kondisi tersebut.
“Banyak orang datang ke Blok M karena makanannya variatif, mulai dari jajanan murah sampai menu unik yang susah dicari di tempat lain. Kalau pedagang kecil angkat kaki, kita kehilangan alasan utama buat ke sini. Sayang banget kalau Blok M jadi kehilangan identitas kulinernya,” katanya.
Load more