Wamentan Sudaryono Tekankan Peran Balai Besar dan POPT dalam Kendalikan Hama
- tvOnenews.com/Julio Trisaputra
Karawang, tvOnenews.com - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI, Sudaryono melakukan kunjungan kerja ke Sentra Penggilingan Padi (SPP) di Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/5).
Pada kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya peran Balai Besar dan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dalam menjaga produksi pangan dari serangan hama.
Menurut Sudaryono, tugas Balai Besar dan POPT sangat vital dalam mengantisipasi serangan hama sejak dini, terutama pada komoditas pangan strategis seperti padi, jagung, dan buah-buahan.
“Ini adalah balai besar yang kerjanya menanggulangi hama yang kemungkinan menyerang tanaman pangan kita. POPT itu seperti satria baja hitam, bekerja senyap membasmi hama sebelum menjadi wabah," kata Sudaryono.
Ia menegaskan bahwa pengendalian hama seharusnya dilakukan secara preventif dan seminimal mungkin menggunakan pestisida. Sebab, penggunaan pestisida yang berlebihan selain berdampak buruk bagi lingkungan juga membebani biaya produksi petani.
“Mencegah lebih baik daripada mengobati. Kalau hama sudah banyak, baru disemprot pestisida, itu sudah terlambat dan mahal ongkosnya,” ujarnya.
![]()
Wamentan RI, Sudaryono (kanan) saat melakukan kunjungan kerja ke Sentra Penggilingan Padi (SPP) di Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/5). (Foto: tvOnenews.com/Julio Trisaputra)
Sudaryono juga menjelaskan bagaimana tikus sawah dapat berkembang biak secara cepat, sehingga pengendaliannya harus dilakukan segera setelah terlihat di lapangan.
"Tikus itu berkembang biak sangat cepat. Dari 4 pasang bisa jadi 900 ekor dalam tiga bulan. Makanya harus cepat ditangani,” jelasnya.
Selain itu, ia menyoroti peran teknologi informasi dalam mempermudah tugas POPT di era digital saat ini. Melalui aplikasi perpesanan seperti WhatsApp, petani dapat lebih mudah melaporkan serangan hama dengan mengirimkan foto atau video langsung ke petugas.
Namun demikian, tantangan di lapangan masih tetap ada, termasuk menurunnya kualitas tanah dan kebiasaan penggunaan pestisida berlebihan. Untuk itu, ia mengingatkan pentingnya prinsip 4T dalam budidaya pertanian, yaitu Tepat dosis, Tepat guna, Tepat waktu, dan Tepat mutu.
Wamentan juga menekankan bahwa tugas Kementerian Pertanian bersama dinas terkait adalah mengedukasi petani agar membiasakan praktik bertani yang benar.
"Tugas kita bukan sekadar membenarkan kebiasaan yang salah, tapi membiasakan yang benar. Ini adalah upaya jangka panjang demi ketahanan pangan kita," ujarnya. (jts/dpi)
Load more