Dimana Presiden Soekarno saat Para Jenderal Diculik G30S PKI? Ini Kesaksian Para Pengawal Pribadinya
- Dok.Wikipedia
"Sekitar pukul 10 malam. Aidit datang langsung dari Stadion Senayan, setelah di sana mendengar dengan mata kepala sendiri, Presiden memberikan isyarat rahasia di depan publik kepada Untung cs untuk jalan terus dengan gerakannya dengan mengutip Mahabharata tentang dharma, tugas mulia." tulis John Rossa.
Aidit menugaskan kepada Brigjen Suparjo, untuk segera menjemput Presiden Soekarno di Istana Negara pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965 dan membawanya menuju ke rumah Susanto di kawasan Pangkalan Udara Halim.
Foto: Pemimpin Partai Komunis Indonesia DN Aidit (istimewa)
Dalam perhitungan Aidit, jika Soekarno dapat diamankan di rumah Susanto, maka ia dengan mudah akan menekan Soekarno untuk membuat sejumlah kesepakatan yang menguntungkan gerakan 30 September PKI.
Setelah pasukan dengan sandi pasopati yang dipimpin Letnan Doel Arif merampungkan tugasnya mengeksekusi pucuk pimpinan Angkatan Darat, pada pukul 6 pagi Suparjo kemudian bergerak ke Istana untuk menemui presiden Soekarno.
"Guna memuluskan akses Supardjo dalam menemui Presiden, Letkol Untung telah melakukan pengaturan dengan Kapten Suwarno dan Posko, untuk menghilangkan prosedur-prosedur keamanan normal istana." ungkap Rossa dalam bukunya.
Namun Suparjo tidak menemukan keberadaan Soekarno di Istana. Presiden Soekarno entah berada dimana, tidak diketahui pasti oleh Suparjo. Skenario "mengamankan" Bung Karno ke rumah Suyanto untuk melakukan sejumlah kesepakatan dengan Aidit gagal di pagi itu.
Dimana Presiden Soerkarno Berada?
AB Lapian, dalam "Malam Bencana Nasional" menulis, keadaan istana negara pada 1 Oktober 1965 pagi diliputi kegelisahan. Tidak ada yang tahu di mana Presiden berada.
"Kolonel Bambang Widjanarko, sebelum meninggalkan istana pukul 24.00 semalam, telah menyampaikan kepada Presiden acara untuk pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, yakni waktu minum kopi jam 07.00 Bung Karno akan menerima Waperdam Leimena dan Men/Pangad Jenderal Ahmad Yani." ungkap Lapian.
Saat bertugas pagi hari sebagai inspektur upacara gladi resik peringatan HUT ABRI di lapangan parkir timur Senayan, Ajudan Presiden Soekarno, Kolonel Bambang, mendapat laporan tentang penembakan dan penculikan terhadap beberapa jenderal.
Load more