News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Mbah Ruliyah

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini, di negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara…”
Senin, 29 Mei 2023 - 08:58 WIB
Kolase Foto - Wapemred tvonenews.com Ecep S Yasa, background jemaah haji di masjidil Haram.
Sumber :
  • tim tvonenews.com

Hari-hari ini, saat jutaan orang dari seluruh dunia berangkat menuju Tanah Suci, menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk menapaktilasi perjuangan para nabi, saya ingat Mbah Ruliyah. 

Ia saya temui kelelahan saat hendak lontar jumrah, duduk sendirian, di antara lalu lalang lalang jutaan manusia yang bergerak terus menerus, mengalir deras seperti sungai raksasa.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam gemuruh suara takbir, nenek renta ini seperti tak ingin menyerah. Wajahnya cemas, bingung. Ia sudah dua jam ditinggal rombongan.  

Hatinya mendua: ia ingin melanjutkan ibadah sebisanya, namun  ia juga sangsi, ada jutaan orang saling berimpit dengan tangan yang menggapai gapai, berusaha menghujani lingkaran kecil Jumrah dengan bebatuan.

Dan, tangis adalah bahasa. Ia menyapa lirih ketika saya melintas. "Kulo saking Semarang, kulo bade mulih, bingung, tulungi (saya dari Semarang, saya ingin pulang, bingung, tolong saya)," suara dan air mata menyembur bersamaan. 

(Nenek Ruliyah sedang digendong saat menunaikan ibadah haji pada tahun 2018 lalu. Sumber: Istimewa)

Barangkali ia sudah lama berteriak, tapi suaranya tertelan ramainya lautan manusia yang datang dan pergi bergantian. Juga oleh suara Askar (laskar petugas ibadah haji) yang selalu memekik: "Ya Hajji, ya Hajji, musykilat, musykilat" meminta jamaah untuk segera minggir dari area jalan agar arus manusia lebih lancar.

Saya sebenarnya bisa acuh dan melanjutkan perjalanan ruhani sendiri. Ini ibadah haji, pertama saya. Saya ingin mereguk kenikmatan sedalam dalamnya. 

Tapi tiba tiba seperti ada gugatan: apa ini teguran untuk saya? Bukankah selama ini saya hidup seringkali ditopang bantuan orang lain. Kenapa tak memberi bahu sekedar untuk menyender perempuan renta yang kelelahan?

Saya lalu memutuskan untuk mendampingi, mencarikan hotel tempat Mbah Ruli menginap, tapi ternyata cukup rumit. Baru beberapa meter saya papah, ia menjerit jerit tak kuat menahan sakit di kakinya. Ternyata,  ia sudah berjalan sangat jauh sebelumnya.

Hanya ada dua pilihan: menggendong atau menunggu bantuan datangnya kursi roda yang mungkin akan sangat lama. 

Saya memilih yang pertama. Saya yakinkan Mbah Ruli untuk memegang leher saya dari belakang dengan kedua tangannya. Hup, saya gendong ia ke punggung sambil kedua tangan saya memegang kedua paha bawah si mbah, menahan badannya agar tidak melorot. 

Saya berjalan cukup lama, lebih dari 2 kilometer, mencari hotel tempat rombongan haji Mbah Ruli menginap. Sesekali tangannya sangat kencang mencekik leher sehingga saya sulit bernafas. 

(Nenek Ruliyah sedang digendong saat menunaikan ibadah haji pada tahun 2018 lalu. Sumber: Istimewa)

Sepanjang perjalanan, dalam dengus nafas dan gemuruh suara talbiyah, simbah yang tak bisa bicara dalam Bahasa Indonesia terus saja menyebut “wolo wolo kuwoto”. Cengkok Jawanya melafazkan doa bahasa Arab, La haula wala quwwata illa billah (tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah) dengan semampunya. Ia tahu Allah untuk siapa saja, termasuk Ia yang dari pedalaman Pulau Jawa.

Subhanallah. 

Tidak lama, seorang pria muda ceking, kulitnya gelap, berambut ikal datang menghampiri. Dia memberikan kursi roda dan mempersilahkan Mbah Ruliyah duduk. Tak lama kemudian Simbah sudah diantar bus pengantar jamaah keluar dari area lontar jumroh. “Malaikat" kecil ini bahkan menolak pemberian beberapa real uang yang kami sodorkan. "La, la. Hada min fadli robbi," ujarnya sambil tersenyum. 

Padahal, untuk sewa kursi roda selama melontar jumroh, biasanya jamaah harus merogoh kocek 900 hingga 1000 real. Akhirnya ia bisa saya antar bertemu rombongan di maktabnya. Ia terbata bata mengucapkan terima kasih dalam bahasa Indonesia yang didiktekan rekannya.

Saya selalu bergetar melihat kesalehan, asketisme orang orang biasa. Mereka yang hampir mempertaruhkan apa saja, agar bisa menggenapkan rukun Islamnya. Mereka baru bisa memenuhi panggilan Allah ketika sudah renta karena harus menabung puluhan tahun lamanya.

Tahun ini ada Mbah Harun dari Pamekasan, Madura yang berhaji di usia 119 tahun setelah menabung puluhan tahun untuk melunasi biaya ibadah haji.  

Tubuhnya dinyatakan sehat setelah bertahun tahun ia berlatih berjalan kaki untuk menyiapkan perjalanan jauhnya. Ia juga mengaku tidak minum apapun selain air hangat dan hanya makan nasi jagung. Bahkan, setiba di Mekkah ketika petugas haji menyambutnya dengan menyodorkan kursi roda, Mbah Harun menolak. Ia seperti ingin menjalani sendiri semuanya.

Apa yang menautkan hati Mbah Ruliyah dan Mbah Harun pada Kabah? 

Tiba tiba saya terngiang ngiang dengan ucapan Nurcholish Madjid tentang konsep hanifiyyat-u al-samhah, hati hati yang pasrah, terbuka, dan lapang mencari kebenaran. Kehanifan tertanam kuat di lubuk hati keduanya tanpa pernah diucapkan. Tak heran jika kehanifan mereka lalu bertaut pada Kabah, rumah suci yang dibangun kembali  oleh “bapak kehanifan” Nabi Ibrahim pada 4.000 tahun lampau.

Padahal, kita tahu ibadah haji adalah ibadah fisik. Selama 40 hari, seluruh rukun rukunnya memerlukan kesiapan fisik yang prima. Berlari lari kecil (sai) di sekitar bukit Safa dan Marwah dengan cuaca terik kota Mekkah hingga 40 derazat; wukuf di Padang Arafah yang panasnya melebihi kota Mekkah atau tawaf mengelilingi Kabah di Masjidil Haram adalah perjuangan ibadah yang cukup berat.

Tapi Mbah Ruli dan Mbah Harun tak gentar. Barangkali mereka tahu agama ini selalu memberi ruang pada kemudahan dan kemoderatan. 

Sebuah kisah mencatat Nabi memberikan sejumlah kemudahan yang dicatat oleh Abdulah bin Amr dengan detail. Pada pagi hari 10 Dzulhijjah 10 H di Mina, Nabi Muhammad SAW baru saja selesai melempar Jumratul-Aqabah. Seorang Sahabat berkata, “Ya Rasulullah, saya bercukur sebelum menyembelih,” Nabi berkata,”If al, la haraj. Lakukanlah, tidak apa apa.” Yang lain berkata,”Saya baru melempar setelah sore.” Kembali Nabi menjawab: “Laa haraj.” Puluhan orang bertanya, mengajukan cara berhaji termudah untuk mereka dan nabi selalu menjawab,” Laa Haraj.”

Yang tak terlupakan pada 2018 itu selain bertemu dengan Mbah Ruli, saya juga bisa berhaji bersama Ibu. Paling menggetarkan adalah ketika bersama ibu melihat Kabah. 

Di depan bangunan kubus yang magis justru karena kesederhanaannya itu saya merasa luruh. Mata seketika hangat oleh  lelehan air mata yang kita tahu bukan karena sedih atau putus asa. Saya hanya berdiri di belakang Ibu, sambil mengaminkan apapun doa-doanya. 

Tiba tiba seluruh perjalanan hidup seperti diputar ulang. Tuhan terasa sangat dekat, seperti dalam sajak Abdul Hadi WM:
Tuhan, kita begitu dekat/Sebagai api dengan panas/ Aku panas dalam apimu.
Tuhan, kita begitu dekat/seperti kain dengan kapas/ Aku kapas dalam kainmu.

Keharuan itu juga punya banyak sekutu. Pada sekeliling, saya mudah mendapati orang orang yang tengah sesungukan. Seorang rekan jamaah bercerita pernah menyaksikan, seorang jamaah berkursi roda asal Timur Tengah seketika terkulai lemas  menghembuskan nafas terakhir setelah berhadapan dengan Kabah. Emosi yang menggelegak membuat raganya moksa.

Saya jadi paham ketika dulu menghadiri tradisi selamatan mengantar ibadah haji di kampung. 

Seorang Kiai akan memulai protokolnya biasanya dengan ucapan: "Hadirin, saudara kita, Fulan ini dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Mudah mudahan yang ditinggal dalam keadaan baik-baik…”  Lalu kain ihram (mirip mori untuk membungkus jasad) disiapkan pada sebuah tas. Seluruh keluarga mengantarkan seolah yang akan pergi tak akan kembali lagi.

Demikian, ibadah haji bagi saya bukan hanya perkara ritual antara manusia dan Al Khalik, tetapi juga moment perjumpaan kemanusiaan, silaturahmi dan reuni akbar umat manusia. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Saya terkenang oleh wasiat Nabi Muhammad saw di Mina. Khutbah Nabi yang menggetarkan di Masjid Kheif yang kini dikenal sebagai khutbah haji wada (khutbah haji perpisahan) karena hanya beberapa hari setelah khutbah itu  Nabi wafat. 

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini, di negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara…” (KC)

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

alalal alalal alalla alalal alala lalala lalala lalala lalal

alalal alalal alalla alalal alala lalala lalala lalala lalal

LalalalalalalalalalLalalalalalalalalalLalalalalalalalalal
Dapat Kabar Sausan Jadi Korban Tabrakan Kereta Bekasi, Keluarga Sempat Tidak Percaya dan Mengira Telepon Penipuan

Dapat Kabar Sausan Jadi Korban Tabrakan Kereta Bekasi, Keluarga Sempat Tidak Percaya dan Mengira Telepon Penipuan

Keluarga Sausan Sarifah awalnya tidak percaya bahwa Sausan turut menjadi korban tabrakan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur.
Sausan Selamat dari Kecelakaan Maut Tabrakan Kereta Bekasi, Keluarga: Anaknya Religius, Dia Lagi Puasa Hari Itu

Sausan Selamat dari Kecelakaan Maut Tabrakan Kereta Bekasi, Keluarga: Anaknya Religius, Dia Lagi Puasa Hari Itu

Sausan Sarifah, menjadi salah satu korban selamat dalam tabrakan KA Argo Bromo Anggrek vs KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam.
Pemkot Jakarta Barat Musnahkan 234 Kilogram Ikan Sapu-Sapu dengan Cara Dikubur

Pemkot Jakarta Barat Musnahkan 234 Kilogram Ikan Sapu-Sapu dengan Cara Dikubur

Upaya menjaga ekosistem perairan dan kesehatan masyarakat terus dilakukan Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Jakarta Barat melalui pembersihan ikan sapu-sapu secara masif. 
Detik-Detik Tabrakan Kereta Bekasi, Sausan Terpental ke Rak Bagasi: Aku Masih Hidup?

Detik-Detik Tabrakan Kereta Bekasi, Sausan Terpental ke Rak Bagasi: Aku Masih Hidup?

Sausan Sarifah, menjadi salah satu korban selamat dalam tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam.
Gara-gara Ego NAC Breda Kalah dari Dean James Tersenggol, KNVB Ngeri Efek Domino Skandal Paspoortgate

Gara-gara Ego NAC Breda Kalah dari Dean James Tersenggol, KNVB Ngeri Efek Domino Skandal Paspoortgate

Perseteruan panas antara NAC Breda dan KNVB kian memanas setelah kedua pihak saling berhadapan di Pengadilan Utrecht, Selasa (28/4/2026) waktu Belanda.

Trending

Kapolda Metro Jaya Ungkap 7 Orang Masih Terjepit Dampak Kecelakaan Kereta Tabrak KRL di Bekasi Timur

Kapolda Metro Jaya Ungkap 7 Orang Masih Terjepit Dampak Kecelakaan Kereta Tabrak KRL di Bekasi Timur

Kapolda Metro Jaya, Irjen Asep Edi Suheri meninjau langsung lokasi kejadian kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4).
Tren Wedding 2026: Gen Z Tinggalkan Konsep Template, Pernikahan Elegan Jadi Pilihan Favorit?

Tren Wedding 2026: Gen Z Tinggalkan Konsep Template, Pernikahan Elegan Jadi Pilihan Favorit?

Apakah tren wedding 2026 masih didominasi konsep mewah yang megah, atau justru bergeser ke arah yang lebih sederhana namun elegan? Perubahan ini tidak lepas dari cara pandang
Update Kereta Tabrak KRL di Bekasi Timur: 4 Meninggal Dunia dan 38 Dibawa ke RS

Update Kereta Tabrak KRL di Bekasi Timur: 4 Meninggal Dunia dan 38 Dibawa ke RS

PT KAI (Persero) memastikan 240 penumpang Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek berhasil dievakusi dalam kondisi selamat.
Dilirik Klub Polandia, Dony Tri Pamungkas Fokus Bawa Persija Juara

Dilirik Klub Polandia, Dony Tri Pamungkas Fokus Bawa Persija Juara

Kabar tersebut bahkan keluar jelang selesainya musim kompetisi 2025-2026, di mana menjadi salah satu musim terbaik Dony Tri Pamungkas bersama Persija Jakarta. 
Kondisi RSUD Kota Bekasi Membludak, IGD Padat dan Puluhan Korban Kecelakaan KRL dan KA Jarak Jauh Terus Berdatangan

Kondisi RSUD Kota Bekasi Membludak, IGD Padat dan Puluhan Korban Kecelakaan KRL dan KA Jarak Jauh Terus Berdatangan

​​​​​​​RSUD Kota Bekasi membludak usai tabrakan KRL dan KA Jarak Jauh di Stasiun Bekasi Timur. IGD padat, puluhan korban luka terus berdatangan dan dirawat intensif.
Pantas Beckham Putra Tak Dipanggil John Herdman ke TC Timnas Indonesia, Bung Ropan Ungkit Kejadian di FIFA Series

Pantas Beckham Putra Tak Dipanggil John Herdman ke TC Timnas Indonesia, Bung Ropan Ungkit Kejadian di FIFA Series

Bung Ropan bahas soal alasan Beckham Putra tak dipanggil John Herdman ke TC Timnas Indonesia. Ternyata ada alasan khusus mengapa John Herdman panggil pemain.
Bak Ditampar, Dedi Mulyadi Ucapkan Terima Kasih kepada Bobotoh, Jaga Profesionalisme Sepak Bola Tanpa Cawe-cawe Politik

Bak Ditampar, Dedi Mulyadi Ucapkan Terima Kasih kepada Bobotoh, Jaga Profesionalisme Sepak Bola Tanpa Cawe-cawe Politik

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi merespons spanduk Bobotoh "Shut Up KDM" di Tribun Utara Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) saat laga Persib vs Arema FC.
Selengkapnya

Viral