Review Avatar: Fire and Ash, Pandora Masih Menawan, Meski James Cameron Tak Tawarkan Formula Baru
- Disney
Jakarta, tvOnenews.com - Avatar universe yang pertama kali diperkenalkan kepada publik lewat film Avatar yang tayang pada Desember 2009. Disutradarai oleh James Cameron, Avatar mencatatkan sejarah sebagai film terlaris sepanjang masa, sekaligus tonggak baru dalam penggunaan teknologi 3D dan motion capture.
Dunia Pandora yang penuh hutan bioluminesen, makhluk eksotis, dan konflik kolonialisme menjadi daya tarik utama yang membuat Avatar melampaui sekadar tontonan visual.
Tiga belas tahun kemudian, Cameron kembali lewat Avatar: The Way of Water yang dirilis pada 2022. Sekuel ini memperluas dunia Pandora ke wilayah laut dan memperkenalkan klan Metkayina, sambil menggeser fokus cerita ke isu keluarga, kehilangan, dan adaptasi.
Keberhasilan film kedua menegaskan bahwa Avatar bukan proyek nostalgia, melainkan saga jangka panjang yang sudah dirancang sejak awal.
James Cameron sendiri diketahui telah menulis dan memetakan alur besar film kedua hingga ketiga jauh sebelum film keduanya tayang, demi menjaga kesinambungan cerita.
- Disney
Kini, di akhir tahun 2025, film ketiga, Avatar: Fire and Ash, kembali menjanjikan eksplorasi bioma baru di Pandora. Kali ini, dunia yang diperkenalkan bukan lagi hijau dan biru yang menenangkan, melainkan lanskap yang lebih keras, panas, dan penuh abu.
Secara plot dan premis, film ini diposisikan sebagai babak yang lebih gelap dan emosional dalam saga Avatar.
Avatar: Fire and Ash melanjutkan kisah Jake Sully dan Neytiri setelah peristiwa di The Way of Water. Konflik tidak lagi semata-mata datang dari manusia, tetapi justru dari sesama Na’vi.
Film ini memperkenalkan klan baru yang kerap disebut sebagai Ash People tau Klan Mangkwan, kelompok Na’vi yang hidup di lingkungan ekstrem vulkanik berbasis api dan abu, dengan pandangan hidup yang jauh lebih keras dipimpin oleh Tsahik bernama Varang .
Keberadaan mereka memperlihatkan sisi Pandora yang selama ini jarang disentuh yaitu dunia penuh luka, penuh kemarahan, dan tidak selalu harmonis.
Cerita bergerak ke arah konflik internal, ketika perbedaan nilai, trauma masa lalu, dan cara bertahan hidup menciptakan ketegangan antar klan Na’vi.
Jake dan keluarganya dihadapkan pada dilema moral yang lebih kompleks, di mana tidak ada pilihan yang sepenuhnya benar atau salah.
Tema kemarahan, konsekuensi kekerasan, serta dampak panjang kolonialisme menjadi fondasi utama cerita, membuat Fire and Ash terasa lebih dewasa dibanding dua film sebelumnya.
- Disney
Fire and Ash juga memperluas fokus cerita ke generasi berikutnya. Lo’ak, Kiri, dan Spider tidak lagi sekadar karakter pendukung, melainkan menjadi bagian penting dari konflik dan perkembangan cerita.
Lo’ak digambarkan semakin bergulat dengan identitas dan tanggung jawab, Kiri dengan keterikatan spiritualnya yang unik terhadap Eywa, sementara Spider berada di posisi paling rumit sebagai manusia yang terjebak di antara dua dunia.
Banyak penonton dan juga kritikus yang mengatakan Avatar: Fire and Ash dipandang sebagai titik balik naratif saga ini. Mereka menilai James Cameron sengaja membawa ceritanya ke wilayah abu-abu secara moral, menjauh dari pola klasik manusia jahat versus Na’vi baik.
Pendekatan ini membuat dunia Avatar terasa lebih hidup dan jauh lebih politis, sekaligus menantang persepsi penonton terhadap Pandora.
Cameron juga berani menggeser fokus cerita dari konflik eksternal ke konflik internal. Dengan menghadirkan Klan Mangkwan sebagai pihak yang saling berseberangan, Avatar tidak lagi hanya menjadi kisah perlawanan terhadap penjajahan, tetapi juga refleksi tentang bagaimana luka dan kemarahan bisa melahirkan kekerasan dari dalam suatu komunitas.
Dari sisi visual, tentu ekspektasi penonton akan tetap sangat tinggi. Seperti dua film sebelumnya, Fire and Ash diperkirakan kembali mendorong batas teknologi sinema, khususnya dalam merancang lingkungan ekstrem berbasis api, abu, dan lanskap vulkanik.
Secara sinematografi, dengan kemampuan teknologi CGI dan efek kamera yang benar-benar menonjol, bahkan bagi ukuran standar blockbuster besar.
Dengan cerita yang terasa familiar, namun visualnya yang luar biasa, selalu memberi sensasi spektakuler yang kuat di layar lebar, terutama jika disaksikan dalam format IMAX 3D.
Selalu ditunggu dan tentu saja selalu dipuji, film ini juga tidak lepas dari banyak kritik tajam dari para pengamat film dan penonton.
Sejumlah kritik juga menyoroti rasa kecewa terhadap minimnya unsur kebaruan dalam Avatar: Fire and Ash. Meski secara visual film ini tetap dipandang luar biasa, sebagian kritikus menilai Cameron masih bermain di pola yang terasa familiar.
Struktur konflik, dinamika keluarga, hingga eskalasi emosinya dianggap mengikuti jalur yang sudah dikenali sejak dua film sebelumnya.
Pendekatan ini membuat Fire and Ash terasa lebih seperti variasi tema lama ketimbang lompatan ide yang benar-benar mengejutkan, terutama jika dibandingkan dengan dampak revolusioner Avatar pertama saat dirilis pada 2009.
Namun, kekecewaan ini bukan berarti Avatar: Fire and Ash dianggap gagal, hal ini muncul dari ekspektasi yang sangat tinggi terhadap nama besar Avatar saga dan James Cameron.
Teknologi dan sinematografi yang terus disempurnakan diangap belum sepenuhnya diimbangi dengan terobosan naratif yang sama beraninnya.
Meskipun dianggap lack of novelty, secara keseluruhan, Avatar: Fire and Ash diposisikan sebagai film yang lebih emosional, dan lebih menantang dan lebih action pack dibanding pendahulunya.
James Cameron tampaknya ingin menunjukkan bahwa Pandora bukan hanya indah untuk dikagumi, tetapi juga rapuh dan penuh konflik, layaknya dunia nyata.
Film Avatar: Fire and Ash rilis mulai hari ini, Rabu (17/12/2025) di seluruh bioskop di Indonesia.
Load more