Blak-blakan, Anak dan Cucu DI Pandjaitan dan DN Aidit Cerita soal G30S PKI dari Sudut Pandang Masing-masing
- Poppy Anasari
“Hati kecil saya kesal karena kebersamaan itu direnggut. Siapa bisa ganti kerugian spiritual, material, kasih sayang yang hilang?” ujar Poppy.
Meski demikian, ia menegaskan tak lagi menyimpan dendam. Kini ia aktif dalam Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB), wadah yang mempertemukan anak-anak korban G30S dari berbagai pihak.
“Kita berhenti mewarisi konflik dan nggak buat konflik baru,” katanya.
Sama-sama Tak Mau Mewarisi Konflik
Baik keluarga Pandjaitan maupun Aidit sepakat, generasi setelah mereka tidak boleh lagi hidup dalam bayang-bayang kebencian. Sifra Panggabean menegaskan bahwa tragedi 1965 harus dipahami dalam konteks politik dan hukum saat itu yang belum matang.
Sementara Fico dan Poppy menekankan bahwa pelurusan sejarah penting, tapi rekonsiliasi jauh lebih utama.
Tragedi yang menelan ratusan ribu korban itu meninggalkan luka panjang. Namun suara generasi ketiga dari kedua belah pihak memberi harapan: masa lalu yang pahit tak harus diwariskan menjadi konflik abadi.
Load more