- iStockPhoto/CihatDeniz
Bacaan Sholawat Adrikni dan Keutamaannya, Akan Dimudahkan Urusan di Dunia maupun Akhirat
1. Dikabulkan hajatnya
Menurut Syekh Ibnu Syaifuddin al-Jabbari mengatakan: Barangsiapa yang membaca sholawat ini (adrikni) sebanyak 1000 kali pada malam jum’at dan dilanjutkan pada malam-malam berikutnya sampai hari jumat sebanyak 1000 kali dibaca delapan hari berturut-turut, maka segala hajatnya akan dikabulkan dan dengan izin Allah akan bermimpi bertemu Rasulullah SAW.
Begitu agungnya manfaat dan khasiat membaca sholawat adrikni, rugi jika kita melewatkan untuk membaca sholawat adrikni
2. Melapangkan rezeki
Mengutip buku 25 Ibadah Pilihan untuk Keluar dari Kemelut oleh Salman A. Zaha dan Ibnu Solah Taftazani, barangsiapa yang mengamalkan Sholawat Adrikni dengan membacanya sebanyak 313 kali, 1000 kali, 4000 kali, atau sebanyak mungkin, maka dapat melapangkan rezeki.
Sedangkan, menurut Syaikh Isa Al-Barowi, barangsiapa yang membaca Sholawat Adrikni sebanyak 1000 kali pada malam jumat, maka hajatnya akan terpenuhi segera. Maka dari itu, umat Muslim yang tengah memiliki hajat, dapat mengamalkan sholawat ini setelah sholat.
3. Dimudahkan urusan dunia akhirat
Selain itu, keutamaan lain dari mengamalkan Sholawat Adrikni adalah dimudahkannya urusan di dunia dan akhirat. Segala perkara atau masalah dapat selalu terselesaikan jika senantiasa mengamalkan sholawat ini, tentu saja dengan meminta kepada Allah SWT dengan perantara Rasulullah SAW.
Secara umum ada orang yang membaca sholawat Nabi akan mendapatkan syafaat hidup, sebagaimana riwayat hadits dari Abdullah ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah SAW. pernah bersabda: “Orang yang paling berhak mendapat syafaatku kelak di hari kiamat adalah orang yang paling banyak membaca shalawat untukku.”
Selain itu, tentunya kita juga akan mendapat rahmat Allah SWT. Dari Abdur Rahman ibnu Auf yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bangkit, lalu menuju ke arah kebun kurma hasil zakat, kemudian beliau masuk ke dalamnya dan menghadap ke arah kiblat, lalu bersujud.
Beliau melakukan sujudnya dalam waktu yang cukup lama, sehingga aku menduga bahwa Allah Swt. telah mencabut nyawanya dalam sujud itu. Aku mendekatinya dan duduk di dekatnya, maka beliau mengangkat kepalanya (dari sujudnya) dan bersabda,
"Siapakah orang ini?" Aku menjawab, "Abdur Rahman." Nabi SAW. bertanya, "Ada perlu apa?" Aku menjawab, "Wahai Rasulullah, engkau telah melakukan sujud cukup lama dan saya merasa khawatir bila Allah mencabut nyawamu dalam sujudmu itu."