- Tangkapan layar YouTube Adi Hidayat Official
Sudah Jam 9 Malam Belum Shalat Maghrib, Utamakan Isya atau Maghrib Dulu? Ustaz Adi Hidayat Tegaskan kalau Ketiduran...
tvOnenews.com - Ustaz Adi Hidayat memahami orang ketiduran di sore hari, penyebab shalat Maghrib ditinggalkan namun ingin dikerjakan di waktu Isya.
Ustaz Adi Hidayat mendengar banyak orang memaksakan shalat Maghrib ditunaikan sekaligus mengerjakan Isya, apabila bangun tidur di jam 9 malam.
Tidak sedikit mereka kebingungan ingin shalat Fardhu, mengutamakan antara Maghrib dan Isya dahulu. Ustaz Adi Hidayat (UAH) menguraikan hal ini jika dalam kondisi tidak sengaja ketiduran di sore hari.
"Antum ketinggalan shalat Maghrib karena ketinggalan misalnya," ungkap UAH dalam suatu ceramah dinukil dari kanal YouTube SMKN2Temanggung Official, Jumat (7/2/2025).
Maghrib dan Isya adalah dua dari shalat Fardhu'. Umat Muslim harus mengerjakan kedua ibadah ini dan hukumnya wajib. Artinya, ada perintah tidak boleh meninggalkannya.
- Freepik
Allah SWT sejatinya telah mengabadikan seruan-Nya, hamba-hamba-Nya wajib memelihara shalat lima waktunya tercantum dalam Surat Al Baqarah Ayat 238, Allah SWT berfirman:
حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ
Artinya: "Peliharalah semua shalat (Fardhu) dan shalat Wusta. Berdirilah karena Allah (dalam shalat) dengan khusyuk." (QS. Al Baqarah, 2:238)
Pembahasan kali ini sedikit membahas waktu shalat Maghrib dan Isya, ibadah yang diidentikkan untuk dikerjakan pada malam hari.
Shalat Maghrib mempunyai waktu yang terbilang sebentar, bermula sejak matahari tenggelam. Biasanya berakhir di jam 7 pagi sebagai tanda akhir pelaksananaannya.
Sementara, awal waktu shalat Isya ketika menunjukkan awan merah berada di ufuk hilang. Pertengahan waktunya berlangsung pada sepertiga malam dan batas akhirnya menjelang Subuh.
UAH menyoroti mengapa shalat Maghrib bisa ditinggalkan, padahal waktu ketika umat Muslim berbondong-bondong khususnya kalangan pria beranjak pergi ke masjid untuk ibadah bersama-sama.
Direktur Quantum Akhyar Institute itu berspekulasi orang yang ketiduran di sore hari, disebabkan beberapa hal, seperti kelelahan setelah bekerja bahkan sengaja agar tidak shalat Maghrib.
Menurut UAH, bagi seseorang bersikeras Maghrib di waktu Isya, tidak masalah. Namun harus mengikuti ketentuan yang berlaku ketika dihadapi kebingungan mendahulukan Isya atau Maghrib.
"Pertama, waktu orang tidur itu waktu shalatnya (Maghrib) pas bangunnya," kata dia.
"Bangun pukul 21.00 WIB di kasus ini, maka saat bangunnya waktu shalatnya, apa yang didahulukan? Maghrib dulu baru Isya," lanjutnya menjelaskan.
Pendakwah kondang tinggal di Bekasi itu menuturkan urutan shalat Fardhu menjadi faktor Maghrib didahulukan sebelum Isya, walaupun waktu telah menginjakkan di pukul 9 malam.
Maghrib sebelum Isya mengikuti aturan di mana, seseorang wajib mengikuti urutan shalat Fardhu dalam sehari, tetapi tidak berspekulasi Maghrib lebih dahsyat dari Isya.
"Allamuroatib tartib berdasarkan urutan tertib waktu shalatnya, di Maghrib baru tunaikan shalat Isya," sebutnya.
Ketentuan ini, kata UAH, dari kisah antara Rasulullah SAW dan Bilal bin Rabah ketika melakukan perjalanan bersama para sahabat.
UAH menceritakan kondisi di waktu sepertiga malam, Rasulullah SAW dan para sahabat telah shalat Tahajud. Lalu beliau memberikan sebauh perintah Bilal bin Rabah.
Saat itu Rasulullah SAW menugaskan Bilal agar membangunkannya ketika adzan Subuh terdengar, alasannya telah jelas agar Subuh tepat waktu.
"Bagi Allah sangat mudah membangunkan Nabi Muhammad, saat malam Nabi berkata 'Bilal jaga ya supaya kamu akan kita bangun tepat waktu Subuh'," tutur UAH sambil mengutip sebuah hadis riwayat.
Nahasnya, Bilal bin Rabah ikut tidur, sehingga Rasulullah SAW dan para sahabat tidak shalat Subuh di waktu pelaksanaannya ketika bangun tidur di jam 7 pagi.
Bilal sangat beruntung bahwa Rasulullah SAW yang sempat marah, tiba-tiba menyuruhnya segera berwudhu dan melaksanakan Subuh, meskipun tetap mengutamakan qabliyah Subuh lebih dulu.
(hap)