- istockphoto
Janda Tiga Anak Pura-pura Temukan Bayi di Teras yang Ternyata Hasil Hubungan Gelap, Buya Yahya Ingatkan Syarat Utama Jika Ingin Taubat dari Zina
Sebab, manusia tidak bisa mengampuni, melainkan hanya bisa mencaci dan menghina.
"Kalau Anda pernah kepleset kepada zina, tutup aib tersebut. Jangan ceritakan kepada siapapun, jangan kepada calon suami atau siapapun tahu," ujar Buya Yahya.
Kemudian Buya Yahya mengisahkan kisah di zaman Rasulullah SAW.
Saat itu ada seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW dan mengaku pernah berzina.
Wanita tersebut kemudian minta disucikan dari dosa-dosa tersebut.
"Urusan perzinaan hendaknya kita tutup. Sebab aib zina bukan seperti yang lainnya," terang Buya Yahya.
Orang yang pernah berzina sebaiknya menutupi perbuatan tersebut karena akan menjadi aib yang menempel sampai kapan pun kepada keturunannya.
"Ada pintu halal, kenapa harus masuk zina," ucap Buya Yahya.
"Tapi mungkin ada orang yang pernah kepleset masuk dalam zina, taubat, minta ampun kepada Allah," tambahnya.
Syarat taubat yang pertama untuk urusan zina yaitu jangan cerita kepada siapapun soal zina yang pernah dilakukan.
Kemudian mengadu kepada Allah SWT tengah malam, dengan sungguh-sungguh.
Selanjutnya menjauhi semua sebab-sebab yang menjadikan masuk zina.
"Kalau Anda menyesal dengan sungguh-sungguh, maka ketahuilah, orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak pernah melakukan dosa," ujar Buya Yahya.
"Maka yang pernah berzina jangan berkecil hati karena Allah Maha luas dengan Pengampunan-nya. Dengan catatan kita memang rindu dengan ampunan Allah, mengadu kepada Allah," sambungnya.
Setiap Muslim Dilarang Dekati Zina, Ini Dalilnya
Setiap Muslim Dilarang Dekati Zina, Ini Dalilnya (Sumber: istockphoto)
Zina adalah salah satu dosa yang jelas disebutkan dalam Al-Qur’an.
Oleh karenanya, jangan sampai seorang Muslim melakukan zina.
Berikut salah satu ayat Qur’an yang berisi perintah larangan zina.
Surah Al Isra ayat 32.
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا
Wa lā taqrabuz-zinā innahū kāna fāḥisyah(tan), wa sā'a sabīlā(n).