- tim tvOne
Rajab, Bulan Pendakian Spiritual Seorang Muslim
Fitrah, bukanlah sesuatu yang tidak bisa dicapai.
Fitrah dapat dicapai dengan niat dan keyakinan yang kuat dalam melaksanakan ibadah ritual dengan penyucian diri yang terus menerus.
Maka dari itu, setiap Muslim haruslah mempersiapkan diri dari bulan rajab, bulan sya’ban, sebelum memasuki bulan ramadhan.
Maka sangatlah dianjurkan peristiwa rajab ini dihayati, direnungkan dan dijadikan pelajaran.
Rajab, Bulan Pendakian Spiritual Seorang Muslim (Sumber: pexels)
Sebaiknya di bulan rajab ini, setiap Muslim melakukan berbagai amalan, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi dan juga orang-orang shaleh yang ingin meraih keindahan fitrah.
Sesuatu yang luar biasa, bagaimana shalat, puasa, dzikir para nabi, para wali dan orang-orang shaleh ketika masuk di bulan rajab, sya’ban dan ramadhan.
Memasuki bulan rajab artinya memasuki aktivitas dunia sufi yakni aktivitas shalat, puasa dan dzikir.
Sejarah mencatat bagaimana tarekat-tarekat di dunia ini menjadi warisah khazanah spiritual dalam sejarah klasik Islam, bahwa shalat, puasa, zikir merupakan tiga aspek yang menjadi satu kekuatan peradaban tarekat di dunia Islam.
Masuknya, bulan rajab adalah momen masuknya aktivitas dunia tarekat untuk membangun shalat, puasa dan dzikir.
Tiga aspek inilah yang harus diingat bagaimana membangun peradaban Islam.
Bagaimana kehalusan dan keindahan shalat, puasa, zikir sebagai kekuatan rohani yang mengendalikan jasmani.
Muhammad Ahmad Idris Al Ghazali, beliau menapaki kehidupan spirit sampai menulis kitab ihya ulumuddin yang kemudian beliau mengklasifikasi puasa umum untuk orang yang awam, puasa khusus dan puasa khusus al-khusus adalah puasa istimewa.
Tidak ada yang bisa melaksanakannya kecuali di dunia sufi yang digambarkan dalam aktivitas kesehariannya, di malam hari, di siang hari pagi siang dan sore hari yang selalu terpaut dengan ibadah ritual shalat, puasa dan dzikir sebagai jalan pendakian spiritual yang penuh dengan perjuangan untuk bersabar dihadapan Allah SWT, dihadapan manusia yang godaan dan ujiannya bagi orang yang menghayati kehidupan kaum sufi sangat berat.
(Penulis: E. Roni A Nurkiman, Dosen Sejarah dan Peradaban Islam, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan GunungDjati Bandung)