- Tangkapan layar YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel
Viral Dihina Muridnya, Sikap Mulia Bu Atun Disorot KDM: Memaafkan Siswa dan Sumbangkan Bantuan Rp25 Juta
tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi akhirnya bertemu langsung dengan Bu Atun, guru SMAN 1 Purwakarta yang sempat viral setelah menjadi korban ejekan dan tindakan tidak pantas sejumlah muridnya dalam sebuah video yang beredar luas.
Dalam pertemuan tersebut, Kang Dedi Mulyadi (KDM) menyampaikan apresiasi terhadap sikap Bu Atun yang tetap tenang, bijaksana, dan bahkan memilih memaafkan para siswa yang terlibat, meski kejadian itu sempat menuai perhatian dan kritik publik. Para siswa sendiri telah diberikan sanksi edukatif sebagai bentuk pembinaan.
Video yang viral sebelumnya memperlihatkan beberapa murid mengolok-olok Bu Atun, bahkan mengacungkan jari tengah saat proses pembelajaran berlangsung, yang kemudian memicu reaksi keras dari masyarakat dan berbagai pihak.
- Instagram @dedimulyadi71
Dalam percakapan langsung bersama Bu Atun, KDM menanyakan perjalanan panjang pengabdiannya sebagai pendidik. Dari dialog tersebut diketahui bahwa Bu Atun telah mengajar sejak tahun 2003.
“Jadi ibu sudah ngajar di sini dari 2003 jadi sudah 23 tahun,” kata Dedi Mulyadi, sebagaimana dikutip dari kanal YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL.
KDM kemudian menggali lebih jauh kondisi siswa di kelas yang diajar Bu Atun.
“Selama ini di kelasnya bagaimana anak-anak itu?” tanya KDM.
Menjawab hal tersebut, Bu Atun menjelaskan bahwa karakter siswa di kelasnya cukup beragam serta memiliki tantangan tersendiri dalam proses pembinaan.
“Variatif ya Pak, ada yang memang bagus, dan juga ada yang kurang. Di antara anak itu memang ada yang sering saya bina, karena ada yang memang bermasalah,” ungkap Bu Atun dilansir dari kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel.
Ia juga menuturkan bahwa dirinya kerap memberikan pendekatan komunikasi langsung kepada siswa yang bermasalah.
“Sering saya panggil diajak bicara, ‘ya bu, terima kasih ibu selalu mengingatkan saya,’ ucap Bu Atun soal percakapan dengan siswa.”
Menurutnya, pendekatan tersebut perlahan menunjukkan hasil positif.
“Terus ada perubahan tuh, Alhamduliullah, anak-anak kelas itu teh memang ada Masya Allah,” tutur Bu Atun.
Menanggapi hal itu, KDM menyebut kondisi tersebut sebagai bagian dari tantangan guru pendidikan kewarganegaraan.
“Tapi itu tantangan guru PPKN,” respons KDM.
Bu Atun pun menegaskan bahwa dirinya memandang tugas tersebut sebagai tanggung jawab moral yang harus dijalankan dengan serius.
“Oh iya, semakin anak seperti itu, semakin saya tertantang. Ini kasihan loh, kalau saya tidak rapikan, ini tanggung jawab moral saya nih untuk orang tua, dan untuk masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan pendekatan pembelajaran yang ia terapkan di kelas.
“Dan saya setiap ngajar di kelas mana pun, memberikan materi Pancawaluya, karena bagi saya Pak, mengajar itu ada tiga kecerdasan, intelektual, spiritual dan emosional.”
Ia menambahkan bahwa aspek spiritual menjadi fondasi utama dalam proses pendidikan yang ia jalankan.
“Keimanan mereka, akhlak mereka, yang kemudian emosional mereka. Saya sampaikan itu,” tuturnya.
Terkait peristiwa viral tersebut, Bu Atun mengaku tidak mengetahui kejadian saat itu berlangsung dan baru menyadarinya setelah mendapatkan informasi dari berbagai pihak.
“Saya kaget juga semester 2, saat saya sedang menyampaikan pembelajaran praktik keberagaman, saya sendiri nggak tahu itu di belakang saya (aksi para siswa merekam video),” ungkapnya.
- YouTube/KANG DEDI MULYADI CHANNEL
Meski demikian, ia menegaskan telah memaafkan para siswa dan memilih untuk mengedepankan pembinaan.
“Saksinya Allah bahwa saya sudah memaafkan,” tegasnya.
Ia juga menilai para siswa masih membutuhkan bimbingan dan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Sikap tersebut mendapat apresiasi dari KDM, yang menilai ketulusan Bu Atun sebagai bentuk dedikasi seorang pendidik. Ia bahkan menyatakan rencana untuk memperhatikan fasilitas pendidikan sebagai bagian dari dukungan terhadap sekolah.
Selain itu, KDM memberikan bantuan pribadi sebesar Rp25 juta kepada Bu Atun sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian dan ketulusannya dalam mendidik.
Namun, Bu Atun membuat keputusan mengejutkan dengan tidak menggunakan bantuan tersebut untuk kepentingan pribadi. Ia justru memilih untuk menyumbangkannya kepada yayasan anak yatim yang ia bina.
“Terima kasih banyak, Pak. Tapi saya niatkan niat baik Bapak menjadi ganda, 25 juta akan saya sumbangkan kepada yayasan yatim yang saya bina,” ucapnya.
Menanggapi hal itu, KDM menghormati keputusan tersebut dan menyerahkan sepenuhnya penggunaan bantuan itu kepada Bu Atun.
“Ya, kalau gitu saya serahin tunainya aja. Saya ngasih ke Ibu, oleh Ibu disumbangan ke yayasan yatim,” kata Dedi.